Rabu

Cerita Sex Tante Ngentot Giginya mengigiti putingnya dengan gemas Sampai Muncrat

Cerita Sex Tante Ngentot Giginya mengigiti putingnya dengan gemas Sampai Muncrat Permainan sex adalah langkah memuaskan suami yang cukup tepat. Sangat banyak type  permainan yang bisa dikerjakan oleh beberapa istri dalam memuaskan suami mereka. Umumnya, \Permainan ini lumayan menarik untuk dimainkan, karena peranan dokter serta pasien bisa ditukar-tukar dengan bergantian. 


Cerita Dewasa Tante


obat yang sangat pas untuk pasien yang sakit, yakni aktivitas seksual. Hal tersebut adalah suatu permainan seksual yang cukup popular dikerjakan banyaknya orang didunia. 

Sangat banyak pihak istri yang kurang dapat memakai imajinasi mereka menjadi langkah memuaskan suami yang efisien. Jika memanglah susah untuk temukan imajinasi yang pas menjadi fasilitas mendapat kenikmatan diatas ranjang, mungkin pihak istri bertanya dengan segera mengenai imajinasi liar dari sang suami dalam suatu kegiatan seksual. Yang butuh dilihat ialah tanggapan dari sang istri. Sering imajinasi pria sangat liar untuk sang istri, hingga mereka justru alami pertikaian hebat disebabkan pancingan dari sang istri tentang imajinasi seksual sang suami.

Diana pulang kerja jalan kaki, jalanan cukup sepi, sesaat nada guruh kadang-kadang terdengar. Awan tampak mendung dilangit malam itu. Cewek yang tingginya seputar 170 cm, langsing, kakinya juga tahap banget (Diana saat itu pakai rok yg rada mini) percepat jalannya. 


Jam 20 : 00 jalanan di luar rumah Diana, sepi tidak sering ada mobil yang melalui. Masyarakat kota sudah mengetahui akan ada badai besar malam itu. Ke lima berandal yang bertubuh kekar itu mengendap-endap masuk pekarangan rumah. Mereka ingin membalas cewek bertampang melankolis itu yang memergoki mereka mengambil minuman keras yang tadi, dengan memberikan laporan satpam. Mereka merencanakan berpesta memperkosa cewek itu habis-habisan menjadi balasannya. 





“Sssstttt….. hati-hati janganlah berisik….. mari sini…. ” Bisik Emilo sembari memberikan aba-aba untuk selekasnya maju bersembunyi dikebun rumah Diana yang penuh semak-semak. 





Selain itu Diana tidak tahu bila dianya dibarengi oleh beberapa berandal mulai sejak sepulang kerja tidak menyimpan berprasangka buruk. Cewek itu menyalakan kran air mandi, menuju kekamarnya. Diana menyalakan lagu disco, sembari melepas pakaian kerjanya. 





Di kebun beberapa berandal telah mulai mengendap- endap sembari membuat gagasan untuk masuk ke rumah. Edi serta Jack mendapatkan pekerjaan mengawasi jalanan, sedang Emilo buka pintu depan, Joe serta Billie mencari jalan masuk melalui belakang. Ketika itu dengan tidak menyengaja Joe melalui jendela kamar Diana yang lagi buka pakaian kerjanya. Roknya ada di atas ranjang, sesaat Diana yang tubuhnya hanya terbungkus baju kerja serta celana dalam sembari berdisco buka kancing kemejanya. Joe selekasnya menyebut Billie untuk lihat panorama itu. Mereka menelan ludah lihat Diana yang meliuk-liuk merangsang menari disco. Ukuran dadanya yang seputar 36B keliatan jelas banget belahannya waktu cewek itu telah melepas kemejanya. 





“Wow, Joe…LOOK AT HER TITS…. saya ingin selekasnya mencicipi tubuhnya…. ” Bisik Billie tanpa ada melepas padangan matanya memandang badan Diana yang cuma kenakan pakaian dalam. 





“He…he…. he…sabar, Bill…nanti kita cicipi keduanya sama, hingga pagi! ” sahut Joe yang semakin bernapsu lihat hal tersebut. 





Sejumlah waktu lalu Diana beranjak menuju kekamar mandi. Selain itu Emilo yang sukses buka pintu depan selekasnya memberikan aba-aba pada teman-temannya untuk masuk. Beberapa berandal itu telah mempertimbangkan semuanya, mereka mengunci pintu dari dalam hingga kelak mereka bebas melakukan tindakan. Kabel telpon telah mereka putus, cewek itu tinggal sendirian serta lagi badai mendatang sangatlah untungkan gagasan mereka. Dengan leluasa mereka masuk ke kamar cewek itu. Jack buka kulkas, yang lainnya masuk ke kamar Diana. Edi mengecek almari baju Diana. 





“Hai…. saksikan apa yang kutemukan! ” sembari tunjukkan barang temuannya. Joe selekasnya menyahut celana dalam itu. 





“Hmmmmm…. mmmm…” Joe mencium celana dalam. “Ingat saya yang pertama bercinta dengannya! ” sahutnya sembari tersenyum penuh makna. Beberapa berandal itu tidak sabar memikirkan apa yang akan mereka nikmati. mereka ambil tempat untuk bersembunyi. 





Diana usai mandi menuju keruang tengah. Tubuhnya cuma terbalut oleh pakaian dalam serta baju putih, duduk nikmati acara TV kabel. Saat itu jam 20 : 30, cewek itu tidak menyimpan berprasangka buruk jika ada orang yang lain dalam tempat tinggalnya. Mendadak dari arah belakang salah seseorang berandal maju mendekap tubuhnya. Diana terperanjat serta selekasnya berontak melepas diri. 





“EVER BEEN GANG RAPED BABY? DON’T KNOW WHAT YOU BEEN MESSIN! YOU STILL REMEMBER US DON’T YOU……” ejek Edi. Diana selekasnya mengetahui muka itu jadi ketakutan sekali, ia tidak menganggap bila beberapa berandal itu betul-betul melakukan ancamannya. 





Joe maju menerkamnya mendadak, cewek itu menjerit ketakutan waktu sukses dipeluk. Ia meronta-ronta serta menendang Joe. Tanpa ada disadarinya sepakannya tentang selangkangan Joe membuatnya meringis kesakitan serta melepas dekapannya. Diana selekasnya melepas diri serta lari menuju pintu depan. Beberapa berandal selekasnya mengejarnya sembari menyorakinya. Dengan sekuat tenaga pintu depan itu berupaya di buka, namun upayanya percuma. 





“Wooooo……woooooo……ha…ha…ha…. mari sayang, ingin lari kemana kamu hah…. mari sini…ha…ha…. ha…” Ejek beberapa berandal yang mengejarnya dari belakang. Diana selekasnya dikepung oleh beberapa berandal. Mereka soraki ketidak berdayaannya. Diana ditekan selalu hingga merapat kedinding, Joe tadi meringis kesakitan mulai maju. Ketika cewek itu hampir putus harapan, ia sukses berkelit dari kepungan berandal itu, lolos serta lari menuju ke dapur, Diana punya maksud lari melalui pintu belakang. Beberapa berandal selekasnya mengejarnya lagi. Nasib sial untuk Diana, demikian tangannya sukses menyentuh gagang pintu, beberapa berandal sukses menangkapnya kembali. Rambut pirang Diana yang panjangnya sebahu terjambak, hingga ia tidak dapat melakukan perbuatan apa-apa. 





“Aaaahhhh…. aammpun…aaah” hiba Diana, sesaat beberapa berandal tersenyum sinis memandangnya. “Sayang…. Kami akan memberimu pengalaman yang tidak akan kau lupakan! kau yang tadi sudah mengakibatkan kerusakan acara pesta kami, saat ini kau mesti membayarnya dengan tubuhmu yang indah itu……ha…ha.. ha…, oya kau akan menyesal sudah menendang punyaku, akan kujoblos kau hingga mampus! ” Joe maju dari kerumunan temannya. 





Diana tidak berkapasitas, rambutnya dijambak sesaat tangannya dilipat kebelakang. Dari dapur ia diseret menuju ruangan tamu waktu itu jam 20 : 45. Di sana ia dikelilingi oleh ke lima berandal sembari didorong-dorong. 





“Sayang, kita akan berpesta denganmu! ” seru Edi tidak sabar sembari mendorong mengarah Billie. “Ha….. ha…ha…. kau tidak akan dapat lolos kali ini…. ” Ejek Billie sembari mendekap badan Diana. Mereka berteriak-teriak bikin Diana semakin ketakutan. 





“Kemarikan dia Bill…. HEY BABE, I BET MY COCK WOULD FEEL REAL GOOD WARPED UP IN YOUR PUSSY! ” seru Jack tidak sabar, sembari mempraktekkan style bercinta penuh napsu. Diana didorong mengarah Jack yang selekasnya merangkul nya dari depan. Mulutnya selekasnya mencari dada cewek itu, sesaat pinggulnya bergerak maju mundur seolah tengah bercinta dengannya. 





“Wooooo…. Wooooou….. FUCK YOU GIRL, FUCK YOU….. ” Jack menggerayangi cewek itu. “Aaaahhhh……. aaam…punnn…. aahhh….. jaa…aa ahhhh!!! ” jerit Diana ketakutan. 





Mendadak dengan satu sabetan, tangan salah satunya berandal merobek baju putih Diana, bikin cewek itu terpelanting. Emilo selekasnya mendekap dari belakang. Saat ini badan Diana cuma kenakan BH serta celana dalam saja, bikin mereka semakin menjadi-jadi. 





“Ah…aahh…aahh! ” jerit Diana waktu tangan Emilo yang mendekap tubuhnya dari belakang mulai menggerayangi pahanya yang putih mulus. “Kita akan memberimu pengalaman yang tidak terlupakan, manis…ha…ha…ha…” bisik Emilo. 





Beberapa berandal yang lain ikut-ikutan beraksi. Tangan Edi meremas remas buah dada Diana. Jack memburu kemaluan Diana, sesaat Billie serta Joe buka pakaian serta celana panjang mereka sembari tertawa sinis. Badan beberapa berandal itu tampak demikian kekar serta berotot. 





“HEY, SOMEBODY GET BEHIND THE BITCH AND HOLD HER ARMS, I’M FUCKING HER FIRST! ” Joe memberikan aba-aba yang segera di setujui teman-temannya. Cewek itu meronta-ronta di bopong ke lima berandal itu keruang tengah. 





“Jack, Emilo, kau pegangi tangan serta kakinya, terlentangkan dia di meja ini” perintah Joe. Lonceng berdentang tunjukkan jam 21 : 00. Di sana Diana diterlentangkan diatas suatu meja bundar. Semasing tangan serta kakinya dipegangi erat-erat oleh beberapa berandal. Cahaya lampu di atas meja bikin cewek itu silau, Diana cuma dapat lihat tubuh-tubuh kekar mengerubunginya serta tangan-tangan berotot meraba-raba dadanya, muka sinis serta nada tawa beberapa berandal menghina ketidak berdayaannya. 





Lidah Joe menelusuri lehernya yang tahap. Diana berontak berupaya melepas diri, namun apa daya tenaga seseorang cewek di banding dengan lima lelaki yang kesetanan. Jack serta Edi memegangi kakinya, sesaat tangan kanan serta kiri Diana dipegangi erat-erat oleh Emilo serta Billie. Joe mencumbunya dengan kasar serta penuh napsu, tangannya dengan liar meremas-remas buah dada Diana. 





“I CAN SEE THE NIPPLES POKING AT HER BRA! ” kata Joe yang segera diterima oleh tawa beberapa berandal. “HEY, CUT THAT BRA OFF MAN. WHAT’S WRONG WITH YOU? ” sahut Emilo tidak sabar lagi. “Aaaah….. aaah…. ooh…jangan….. aahkh! ” jerit Diana waktu dengan satu hentakan kasar tangan Joe merobek BH yang dikenakannya. Beberapa berandal semakin seru menyorakinya. Mulut Joe selekasnya melumat buah dada Diana yang sintal, sesaat tangan kirinya masih tetap meremas-remas buah dada samping kanan Diana. “Aaaaah…. aaoooh….. ooooh…aahh …aaaahh…aaahhhhh…. ” desah Diana mengeliat-liat. Putingnya dijilati penuh napsu oleh lidah Joe. 





“Ha…. ha…. ha…. kau benar-benar mengiurkan sayang! ” tawa Billie menelan ludah tidak sabar ingin selekasnya nikmati gilirannya. Joe saat ini buka celana dalamnya sendiri, penisnya yang hitam besar 10 inci itu tampak tegak siap beraksi. 





“Kenyal sekali….. ha…ha…ha…”seru Joe sembari menerkam serta mulutnya menciumi buah dada cewek itu dengan buas. Badan Diana mengeliat-liat membusur, sesaat buah dadanya diremas-remas hingga merah. Lidah Joe menelusuri buah dada Diana, turun ke daerah perut serta menjilati pusarnya. Sejumlah waktu lalu sembari tersenyum sinis, mata Joe memelirik mengarah paha Diana. 





“Oooohhh…. jangan….. aaahhhh…. ” hiba Diana ketakutan tidak berani memikirkan diperkosa oleh ke lima berandal kekar serta berotot. 





tangan Joe mulai memelorot celana dalam Diana. Cewek itu berupaya mempertahankannya, “Ha.. ha…ha…percuma kau berontak manis! ” ejek Joe waktu Diana berontak sekuat tenaga, namun Billie serta Emilo semakin erat memegangi tangan Diana, perlahan- tempat celana dalamnya lepas, rambut kemaluan Diana tampak waktu celana dalam berwarna pink itu dari pinggul dilorot turun kepahanya serta pada akhirnya lepas. 





“Cihuuuiiii……Ha…ha…ha…. PARTY TIMES… ha…ha…ha…. ” Teriaknya sembari memutar-putar celana dalam itu, di cium dalam-dalam nikmati aromanya serta dilemparkan kelantai. Mata Joe jelalatan memandangi Diana yang telanjang bulat terlentang di atas meja. Diana lemas karena ketakutan, ia tidak berani memikirkan beberapa berandal itu akan ‘menelan tubuhnya ramai-ramai’. Beberapa berandal semakin ramai menyorakinya, mata mereka jelalatan melihat tiap-tiap lekuk badan Diana. Emilo tadi memegangi tangan Diana digantikan oleh Billie. 





“Oooooh….. aaaahh…. am…pun….. aaaah…jang… an…aaahh.. ” hiba tangis Diana. “Diam! …. THERE’S GOING TO BE A BIG PARTY IN YOUR PUSSY TONIGHT….. Ha…ha…ha…kita saksikan siapa yang terhebat bercinta denganmu! ” ejek Emilo mendekati Diana sembari keluarkan pisau lipat. Diana ketakutan waktu Emilo mainkan pisau itu di antara buah dadanya sembari tersenyum sinis melihat tubuhnya. Pisau itu bergerak mengarah puting susunya serta diputar-putar melingkari belahan buah dada Diana yang naik-turun karena napasnya tidak teratur. Hal tersebut bikin beberapa berandal betul-betul terangsang. Pisau itu merasa dingin di buah dada Diana, pisau itu bergerak mengarah perut cewek itu serta turun ke daerah bawah pusar cewek itu. Edi menyeringai penuh makna waktu tahu apa yang akan dikerjakan oleh Emilo dengan pisau lipatnya.

“Ayo Milo, cukur sampai habis…..ha…ha…ha…ha…” seru Edi kegirangan.“Aaaahh…..ohhhh…jangan….aaah….” teriak Diana sambil berontak, tetapi para berandal itu makin mempererat pegangannya, sementara pisau lipat itu dengan buas mulai beraksi mencukur rambut kemaluannya.


“Ha…ha….ha… kesempatan yang langka ini tak akan kami lewat begitu saja. Ayo manis berteriaklah semaumu, tak akan ada yang mendengarmu saat ini.” Ejek Joe sambil menerkam buah dada Diana, diremasnya kuat-kuat membuat cewek itu mengerang kesakitan sementara Emilo mencukur rambut kemaluannya tanpa foam pelicin sehingga Diana merasa perih. Billie, Jack dan Edi yang memegangi kaki dan kedua tangan Diana tertawa melihat cewek itu meronta-ronta. “Aaaaaagggg….aaaaoooohh….ooooohhh…oohh.. .” desah Diana buah dadanya diremas-remas oleh Joe. Suara desahan itu membuat para berandal itu makin terangsang.


Dengan buas pisau Emilo beraksi, dalam beberapa menit saja rambut kemaluan Diana telah tercukur habis. Daerah kulit bawah perut Diana yang tadinya ada rambut kemaluannya terlihat memerah. Emilo tersenyum puas, Joe segera maju sambil mementang kaki cewek itu lebar-lebar, sekarang ia berada diantara pahanya , memandang kemaluan Diana yang terlihat jelas karena rambut disekitar daerah itu habis tercukur.


“Ha…ha…ha…buah dadamu sungguh lezat, NOW I’LL EAT YOUR PUSSY!” kata Joe sambil menjilatkan lidahnya sementara matanya melirik kearah kemaluan Diana.“Oooooh….lepas…kan….jang…an ..oooOOAAHH!” tangis Diana terhenti ketika Joe mulai menjilatinya. Lidah itu seakan menjulur panjang menjelajahi lorong vagina Diana. Tubuh cewek itu mengelinjang-gelinjang, sementara lidah Joe bergerak seperti cacing menggali lobang.


“Oooooohhhhh…aaaauuuuoooo…oooouuu…aaaah. ..” Desis Diana sementara kepalanya hanya bisa menggeleng ke kiri dan kanan. Tubuh Diana bergetar, tangannya mengepal erat-erat, Emilo menciumi leher dan daerah sekitar ketiak, sambil tangannya mencubit puting susu cewek itu. Jack melepaskan kaki cewek itu, dan ikutan mencumbu perut Diana. Lidah Jack menjilati pusar cewek itu.


“Uuuuuuhhhh….oooouuh…ooohhh…” suara desah Diana makin keras, ketika lidah Joe masuk makin dalam divaginanya.“Ha…ha…ha….percuma kau berontak sayang, mau tak mau kau akan menikmati pesta ini!” ejek salah satu berandal.Buah dada Diana memerah dan mengembang karena remasan tangan Emilo.


Joe makin bersemangat, ketika vagina Diana mulai berlendir. Lidah itu menjelajah makin dalam bersamaan dengan pekik desah Diana. Emilo masih mengulum buah dada cewek itu. Putingnya disedot kuat-kuat, membuat cewek itu mengeliat menahan rasa nikmat dan sakit yang bercampur menjadi satu. Tanpa disengaja dari puting buah dada Diana keluar cairan putih seperti susu. Emilo lebih bersemangat lagi menyedoti cairan itu, sementara tangannya meremas-remas buah dada Diana agar keluar lebih banyak.


“Uuuuggghhhh……uuuuuhhhh….uuuhhhh….aaauuuhh hhh….” desis Diana dengan napas tersedak-sedak.“Ha…ha…ha….ternyata tubuhmu menghianatimukan? Diam-diam kau menikmatinya……BITCH!!!!” ejek Emilo sambil menyedoti buah dada Diana, kanan-kiri.


Lonceng berbunyi menunjukkan pukul 21:30. Rupanya para berandal itu senang bermain-main dengan tubuhnya dan berniat melakukan WARMING-UP sebelum memperkosanya. Diana hanya bisa mengeliat-liat dikerubuti para berandal yang kekar. Lidah Joe dengan lahapnya menjilati vagina Diana. Tidak puas hanya lidah, sekarang jari tangan Joe ikutan beraksi. Jari tengah dan telunjuk Joe masuk di lobang kemaluan cewek itu, diputar-putar seolah-olah mengaduk-aduk vagina Diana, sementara lidahnya ikut menjilati bibir kemaluan Diana.


“Aaaauuuuhhhhh……uuuuuhhh…..aaahhhh” desah cewek itu makin keras, membuat para berandal itu tertawa mengejek ketidak berdayaannya. Jari tangan Joe menusuk masuk dan bermain-main dengan klitorisnya, membuat Diana mengelinjang-gelinjang. Mata Diana terpejam, kepalanya menggeleng ke kiri kanan, Jack menciumi pusarnya, tangan Emilo meremas-remas buah dadanya. Setelah puas bermain-main, Joe mementang kedua kaki Diana.


“Joe mau pakai kondom?” tanya Billie. Joe menolak usul Billie.“NO WAY….Ha…ha…ha….I WANT TO FEEL SKIN TO SKIN…ok sekarang saatnya manis… NOW LETS SEE JUST HOW TIGHT YOUR CUNT IS!” Joe mengangkat pinggul Diana tinggi-tinggi. Penisnya sekarang digesek-gesekkan disekitar bibir kemaluan Diana berusaha menyibak belahannya. Mata cewek itu terbelalak kaget ketika merasakan kepala penis Joe yang besar dan hangat. Batang penis itu berdenyut-denyut dibibir kemaluannya.


“Ohhh…ohhhh sekarang saatnya!” pikiran Diana melayang jauh ketika Joe mulai beraksi menindih tubuhnya.“Ayo Joe cumbu dia sampai mampus……Cihuuui!!!” para berandal itu memberi semangat.


Joe merasakan rasa hangat yang mengalir pada kepala batang kemaluannya yang sudah menancap tepat pada pintu gua kenikmatan milik cewek itu. Joe menekan perlahan, seperempat dari bagian kepala kemaluannya mulai terbenam ….Diana menahan napas …. ditekan lebih dalam lagi …. separuh dari bagian kepala kemaluannya melesak masuk …. dengan lebih bertenaga Joe mendesak batang kemaluannya untuk masuk lebih dalam lagi.


“Ayo Joe! sedikit lagi! Masukin saja semua! Biar dia rasain Joe!” Emilo menyoraki Joe sambil meremas-remas buah dada Diana.


“AAAgggh!!!!” Pekik Diana merasakan sesuatu yang menyakitkan dipangkal pahanya ketika seluruh kepala kemaluan Joe sudah terbenam kedalam liang hangat miliknya, dengan satu hentakan yang kuat, penis Joe menyeruak masuk ke dalam vagina Diana membuatnya memekik kesakitan.


Sementara badai diluar mulai turun dengan deras dimulailah pesta perkosaan itu. Diana terlentang diatas meja bundar diruang tengah, tangan dan kakinya dipegangi erat-erat oleh Billie dan Edi, buah dadanya dijilati, disedoti oleh Jack dan Emilo, sementara penis Joe mengoyak-koyak vaginanya dengan ganas.


“Aaagh…..aaahh….ooooh….ooohh…” suara rintih Diana seiring dengan gerakan ayunan pinggul Joe yang kuat. Senti demi senti batang kemaluan Joe menelusur masuk menerobos keketatan liang kemaluan Diana yang sudah basah berlendir itu. Setiap ayunan Joe membuat tubuhnya mengelepar kesakitan karena penis yang besar itu berusaha masuk lebih dalam. Suara desahan Diana membuat para berandal itu makin bernapsu menikmati tubuhnya.


“Ayo Joe…..genjot terus sampai mampus….. ha…ha…ha…” seru salah satu berandal.Joe merasakan begitu ketatnya ujung kemaluannya terjepit di dalam vagina Diana, selang beberapa saat penis itu terhenti menerobos keluar masuk.


“CAN’T SEEM TO GET MY COCK DEEP ENOUGH INTO YOU BABY!” Joe mengatur posisi pinggulnya, “YOU SO DAMN TIGHT!.” kemudian dengan satu hentakan yang kuat membuat batang penis itu hilang tertelan kemaluan Diana.“AAAaaaaggggkkk!!” suara lolong histeris Diana ketika dengan satu hentakan kuat tanpa masalah penis itu beraksi lagi di liang vagina Diana yang berlendir, rupanya selaput perawan Diana robek.


“Uuuugggghhhh…. SO YOU’RE STILL A VIRGIN? Ha…ha…ha….manis, kau tak akan melupakan pengalaman ini!” ejek Joe, Penis itu dengan mudah menerjang keluar masuk dengan cepat, sementara tubuhnya menghentak hentak barbar diatas Diana yang mendesah-desah tak berdaya. Kemaluan Diana terasa akan robek oleh desakan penis Joe yang menyeruak masuk keluar dalam-dalam seperti membor kilang minyak. Joe melengkuh-lengkuh nikmat, pinggulnya berayun-ayun memompa, penis itu keluar masuk.


Kaki Diana terangkat tinggi diatas meja terayun-ayun seirama gerakan pinggul Joe menghujamkan keluar masuk batang penisnya yang dengan barbar beraksi divaginanya.


Diana berharap ia dapat pingsan saat itu juga supaya tidak merasakan sakit yang tak terlukiskan itu. Para berandal itu menyanyikan lagu “ROW YOUR BOAT”.“Aaaahhh…aaaahh….ammm….pun….aahh…aaahh…aaahh….sakit..ahhhhh..aaaahhh….”jerit Diana. Pinggul Joe bergerak seperti pompa. Penis itu keluar masuk seiring desahan Diana.


“Ayo Joe coblos terus, coblos…coblos…woooo…wooooo BABY….” teriak Emilo sambil menciumi dada cewek itu.


“Delapan puluh delapan……delapan puluh sembilan….sembilan puluh…Ayo…” dengan semangat Edi menghitungi setiap hujaman penis Joe.


“Aaaaahhh….wahhhhaaa….aaaah….uuuuh…uuugh….” pekik Diana, sementara Joe berayun-ayun diatas tubuhnya. Cewek itu hanya bisa terisak-isak. Suara petir menyambar di sela-sela badai.


“YEAAAHHH. HOW’S IT FEEL, BABE, HOW’S IT FEEL WITH A REAL MAN’S BIG COCK IN YOUR BELLY? OOOOOOOOOOOOO YOU FEEL SO GOOD, SO HOT.” ejek Joe sambil memaksa Diana yang mendesah untuk melihat penisnya mengenjot keluar masuk lorong vaginanya. Diana bisa merasakan setiap inci dari otot dibatang penis Joe bergerak menelusuri lorong kemaluannya.


“Uuuh…uuuh….uuaah…” lengkuh Joe, sudah sekitar setengah jam dia berayun-ayun diatas cewek itu, keringat membasahi tubuh keduanya, tetapi gerakan pinggulnya tetap ganas, penisnya menyodok-sodok dikemaluan Diana, tangannya menggerayangi pahanya dengan liar.


Sementara itu Emilo membuka celana panjang dan celana dalamnya sendiri, penisnya panjang, (tetapi tidak sebesar Joe sekitar 8.7 inci) sudah tegak menegang. Jack masih asyik menyedoti puting buah dada Diana. Sesekali cewek itu berusaha memberontak, tetapi Edi dan Billie mempererat pegangannya. Joe melengkuh-lengkuh nikmat di atas tubuh Diana yang mengeliat-liat menahan berat tubuh Joe yang menindihnya.


“Seratus enam puluh enam…… seratus enam puluh tujuh…..seratus enam puluh delapan…..ayo Joe taklukan dia….ha…ha…ha…” Edi menyemangati yang langsung diikuti oleh para berandal yang lain.


“Seratus tujuh puluh tiga….seratus tujuh puluh empat…seratus tujuh puluh lima….” Para berandal yang lain ikutan menyemangati Joe.


Tubuh dan buah dada Diana berguncang-guncang seirama dengan hentakan genjotan Joe yang makin liar. Vaginanya terasa terbakar oleh gesekan penis Joe yang buas.


“Aaaaaaahhhh…..aaaaaa….aaaaaahh…..aahhhh…. ..ooooohhh” Diana melolong menahan sakit.“Ayo…….ayo….seratus delapan puluh delapan…..seratus delapan puluh sembilan….seratus sembilan puluh….ha…ha…ha…” Edi memberi semangat.


“Uuuuaah….uuuuuh….uuughh…tubuhmu nikmat sekali!” Joe mengejek Diana yang mengigit bibirnya menahan sakit. Pinggulnya maju mundur diantara selangkangan cewek itu. Jack dengan gemas mengigit puting buah dada Diana, sementara tangannya yang satu meremas- remas buah dada sebelah kanan.


“Aaaaahh……uuuughhh…..uuughh…uuukkkh….ooo uuuughh…” rintih Diana, sementara gerakan Joe mulai pelan, tapi mantap.


“Seratus sembilan puluh enam…..seratus sembilan puluh tujuh….” Semua berandal menyemangati Joe. Batang penisnya keluar masuk dengan barbar.“”I’M COMING, BABY!” lengkuh Joe.“OH GOD! NO, PLEASE ! NOOOOO!! NOO! DON’T COME INSIDE ME!!! NOOO, PLEASE!!!!…..AAAKKKHHHH!” kepala Diana terjengkang keatas, sementara terdengar suara lolong kesakitan ketika batang penis itu menghujam dalam-dalam divaginanya.


Dengan satu hentakan kuat Joe mencapai klimax, penisnya menyemburkan sperma dalam lorong kemaluan Diana.


“Uuuuuugggh…..ha…ha…ha….bagaimana?” ejek Joe sambil mencabut penisnya dengan perkasa.“kau akan digilir sampai pagi!!…..ha…ha…ha…NEXT!!!” seru salah satu berandal.


Sementara itu kilat diluar menyambar-yambar, waktu itu pukul 22:25. Diana hanya bisa terisak-isak, Emilo maju sambil menyeringai. Tanpa perlawanan yang berarti, Emilo sudah berada di antara selangkangan cewek itu.


“Ha…ha…ha…IS MY TIME TO RIDE, BABY I’M GONNA TAKE MY TIME AND FUCK YOU NICE AND SLOW. LET’S SEE HOW LONG I CAN KEEP MY DICK HARD IN THIS WONDERFULLY TIGHT CUNT OF YOURS. SEE HOW LONG I CAN KEEP YOU MOANS…..!” ejek Emilo, sementara batang penisnya dengan mudah masuk ke vagina Diana. Emilo memulai gerakannya, pinggulnya bergerak memutar, memastikan penisnya masuk penuh, lalu bergerak maju mundur perlahan tapi dalam. Pinggulnya berayun-ayun pelan dan mantap, diantara kedua paha Diana yang terbuka lebar, sambil meremas-remas buah dadanya. Kadang jari-jari tangan Emilo melintir-lintir puting susu cewek itu, tubuh Diana hanya bisa mengeliat-liat, sementara dari bibirnya yang terbuka terdengar suara erangan dan desah.


Penis itu beraksi di vaginanya, pinggulnya diangkat ke antara pinggang Emilo yang maju mundur. Jack meninggalkan kerumunan menuju kulkas diruang makan. Joe duduk disofa, sambil melihat teman-temannya beraksi diatas tubuh Diana. Billie masih dengan erat memegangi tangan kanan dan kiri Diana, juga Edi yang memegangi kedua kaki Diana. Suara desah erangan cewek itu bagai musik merdu ditelinga mereka. Tubuh Diana basah kuyup karena keringat, sementara Emilo melengkuh-lengkuh nikmat.


“Ooooooooohhhhhh…….uuuuuuhhhhh…..uuuhhhh…. .uuhhh…..ha…ha…ha….” suara Emilo, penisnya yang panjang tanpa ampun terus mengenjot kemaluan Diana. Buah dadanya dijadikan bual-bualan oleh Emilo. Giginya mengigiti putingnya dengan gemas, membuat Diana menjerit kesakitan. Terlihat bercak-bercak merah bekas cupangan disekitar leher dan dada ditubuh Diana.


“Aaaahhh…..aaaaoooohhh….ooooohhhhhh…ooooohhh h…..” desah Diana merasakan penis Emilo menusuk keluar masuk divaginanya. Sudah sekitar lima belas menit Emilo beraksi, tubuh Diana berguncang-guncang seirama ayunan pinggul Emilo.


Pukul 23.10. Kilat dan guntur bersahutan diluar, membuat jalanan bertambah sepi.“Hah…hah….hah……uuuggghhh…”lengkuh Emilo, sekarang ayunannya tidak perlahan seperti pertama, tetapi berirama cepat dan dalam. Vagina Diana terasa perih terbakar oleh gesekan penis Emilo.“Ha….ha…ha….. tunggu punyaku manis, YOU WILL LOVE IT!” seru Edi sambil mengolesi penisnya sendiri dengan selei sehingga kepala penis itu terlihat gilap dan lebih besar dari yang sebelumnya.


“Uuuuuggghhhh…….uuuuuggghh…… uuuugggghhhh……”desah Diana pendek seirama keluar masuk penis Emilo di kemaluannya.Edi meremas-remas penisnya sendiri, sambil memandangi setiap lekuk tubuh Diana.“Ha…ha…ha….Ed, kau sudah tak sabar ya?……” tanya Billie sambil matanya terkagum melihat penis Edi yang makin besar, sehingga kepala penis itu seperti jamur.“Oooooohhhhhh….uuugggghhh…..oooohh……oooohh……..HERE I CAMEEE……!!!!” jerit klimax Emilo, penisnya menghujam dalam-dalam sambil menyemprotkan cairan putih.“Aaaaaaakkkkkhhhhhhh……oooohhh……” pekik Diana diantara lengkuhan nikmat Emilo.Emilo mencium kening Diana yang terlentang terengah-engah diatas meja.“FUCK YOU BABE!…..ha…ha..ha….” ejek Emilo sambil mencabut penisnya.


Posisinya segera digantikan oleh Edi. Kepala penis yang besar itu digesek-gesekkan di antara paha Diana. Edi memandangi tubuh Diana yang sintal dan mulus basah oleh keringat.


“LET’S GO TO HEAVEN, manis…ha…ha…ha….” Bersamaan dengan kata itu Edi menciumi buah dada Diana, sementara tangannya mengesek-gesekkan penisnya di bibir kemaluan cewek itu.


Teriakan Diana tertelan badai yang ganas, pukul 23.45. Diana, meronta-ronta tubuhnya membusur digumuli Edi yang penuh napsu, sementara para berandal yang lain tertawa terbahak-bahak. Tangan Diana yang dipegangi oleh Billie,membuatnya tak bisa melawan, sehingga dengan leluasa Edi menciumi tubuhnya. Dari leher, lidah Edi terus menelusur turun ke buah dadanya, disedotnya kuat-kuat buah dada cewek itu, membuatnya mengerang kesakitan, lidahnya menjilati dengan lahap cairan yang keluar dari puting susu Diana. Tiba-tiba dengan hentakan yang kuat penis Edi menerobos masuk kemaluan cewek itu.


“Aaaaakkkkkkkhhhhh…….”Diana berteriak kesakitan. Penis itu terus berusaha masuk penuh, Diana bisa merasakan kepala penis yang besar itu berusaha masuk lebih dalam di vaginanya.“Uuuuugggghhhhh…..sempit sekali….uuuuaahh…hhhaaaa….”seru Edi sambil terus mendorong masuk penisnya.“Ayo…..Ed,……ha….ha…ha….masukkan semuanya….biar mampus dia!” teriak Joe menyemangati Edi.


Sekarang kepala penis itu sudah masuk, Edi diam sebentar merasakan otot vagina Diana yang berusaha menyesuaikan diri dengan penisnya. Dinding vagina Diana serasa meremas-remas penisnya, membuatnya lebih tegang.


“Ha….ha…ha….kulumat kau, manis!” bisik Edi sambil mulai menggenjotkan penisnya dengan barbar. Joe menciumi leher Diana, Jack meremas-remas buah dadanya, Emilo meratakan olesan selai, sedangkan tangan Edi mementang pahanya agar lebih leluasa penisnya bisa maju mundur diliang kemaluan Diana.


“Aaaahhhh……aaahhhhhh…..aaaggghhhh…aaahhhhh…” lolongan desah Diana digarap ramai-ramai. Suara desah dan erangan Diana terdengar bagai musik merdu ditelinga para berandal. Tanpa menghiraukan Diana yang sudah kelelahan, mereka terus berpesta menikmati tubuh cewek itu. Bagai menyantap hidangan lezat, mereka melahap dan menjilati tubuh Diana yang basah, mengkilat karena olesan selai dan keringat. Penis Edi menerobos keluar masuk dengan cepat, sementara disetiap hentakan tubuhnya terdengar erangan Diana menghiba kesakitan. Jack yang meremas-remas buah dadanya sekarang mulai menjilatinya penuh napsu, sedangkan putingnya disedoti agar keluar cairan seperti susu, Joe terus menciumi leher Diana yang jenjang.


“Uuugggh…….uuuuggghhh……..aauughh…..uuugghhh….uuuuggghhh….” rintih Diana, sudah sekitar lima belas menit Edi berpacu dengan birahi, peluh membasahi tubuhnya. Edi melengkuh-lengkuh penuh napsu, menikmati setiap inci hujaman penisnya dilorong kemaluan Diana.


“Haaah…..haaah….uuuggh…..bagaimana manis, asik bukan…..kau akan digilir sampai pagi…ha…ha…ha….Haah….haaah….” seru Edi sementara pinggulnya bergerak seperti memompa diantara kedua paha Diana. Buah dada cewek itu memerah diremas-remas dengan kasar oleh para berandal. Tubuh Diana berguncang-guncang dengan ganas seirama ayunan Edi.


“He…he…he…..buah dadamu lezat sekali, ya…..kau akan membayarnya dengan tubuhmu sayang!” ejek Jack sambil menjilatkan lidahnya keudara sementara tangannya meremas-remas buah dada cewek itu dengan napsu. Diana hanya bisa terisak-isak sambil menahan sakit disekujur tubuhnya yang basah kuyup karena keringat dan selai. Penis Edi makin ganas menggenjot cewek itu.


“Aaaauuh…..aaagggh……uuuuugggghhhh…uuuughhhhh….” pikik desah Diana. Vaginanya terasa panas dan perih oleh gesekan penis Edi yang barbar.


Badai masih ganas, didekat lantai meja makan, terlihat BH dan celana dalam Diana berserakan sementara diatas meja Diana diperkosa dengan ganas oleh lima berandal yang kekar, tubuhnya dipentang dan dijilati penuh napsu. Buah dadanya dicengkram dan diremas-remas, lehernya diciumi, puting dan pusarnya dijilati, sementara Edi melengkuh-lengkuh nikmat, cewek itu hanya bisa merintih dan mendesah karena penis besar dan hitam beraksi menghentak-hentak barbar keluar masuk diantara selangkangannya. Waktu menunjukkan 24:16 Edi sudah hampir mencapai klimax, irama ayunan pinggulnya makin cepat tanpa perduli Diana yang terengah-engah kelelahan, Jack menggigit puting buah dadanya, membuat Diana mengerang kesakitan.


“aakkkh….aaahh…ooooohhhh…” rintih Diana diantara lengkuh nikmat Edi.“Huuuh…uuuhhh…..uuuuhhh…..uhhhh….HUUAAAHHHH…..” jerit Edi mencapai klimax, dengan satu hujaman yang kuat, penisnya masuk hilang tertelan dilorong vagina Diana.


“Aaaaakkkkhhhh….” jerit Diana tertahan, tubuh cewek itu mengeliat kejang, lalu lunglai, pingsan kelelahan, sementara penis itu menyemburkan banyak sprema dalam vaginanya. Peluh menetes dari tubuh Edi yang masih menindih cewek itu.


“Ha…ha…ha….tubuhmu sungguh menggairahkan sekali…” Raut wajahnya terlihat puas, beberapa saat kemudian Edi mencabut penisnya, sambil mencium leher Diana yang masih pingsan. Jack siap-siap maju mengambil posisi.


“Biarkan dia istirahat dulu, nggak enak kalau nggak ada perlawanan” Cegah Joe.“Kita beri dia obat perangsang saja!” usul Billie sambil tersenyum penuh napsu.“Jangan, kita simpan itu untuk yang terakhir” Joe duduk disofa.


Beberapa menit kemudian, sekitar pukul 24:40, Diana yang baru saja siuman dibopong ramai-ramai menuju kamarnya, disana cewek itu dilempar ke ranjang dan langsung diterkam oleh para berandal yang sekarang semuanya sudah telanjang bulat. Cewek itu berusaha berontak melarikan diri, tetapi dengan cekatan para berandal itu menerentangkan tubuh Diana. Cewek itu berteriak ketakutan ketika para berandal dengan buas menggumuli tubuhnya.


“Aaaahhhh…..aampun…..aaaahhhh….”hiba Diana, sementara Edi dengan kasar mulai meremas-remas buah dada kanannya. Joe berusaha mencium bibirnya yang merah merekah. Emilo menjilati dan menyedoti puting sebelah kiri.


“Aaaaduuuhh…aaaaawww…aaaahhh…..ja….ja….ngan…”teriakan Diana tak digubris. Jack maju mengambil posisi diantara kedua kakinya, tersenyum sinis sambil membungkuk menciumi leher cewek itu. Diana mengeliat-liat tak berdaya. Lidah Jack menelusur turun dari lehernya menuju perutnya Diana.


“Aaaaaahhh…..le…paskan…..aaaahhh” jerit Diana ditengah kerubutan berandal. Jack mulai menjilati daerah pusar Diana.


“Manis…tadi kulihat kau suka disco! bagaimana kalau sambil diputarkan lagu…hmmm?…disco…rock…atau metal?….OK metal saja!” Billie mengejek Diana. Beberapa saat kemudian terdengar lagu metal, membuat para berandal itu lebih bersemangat menikmati setiap lekuk tubuh Diana.


“Ha…ha…ha…manis, kami masih belum puas!” ejek Jack. Billie membaca surat yang ditemukannya dimeja rias pinggir ranjang.


“Hmmmm…..SO YOUR NAME’S Diana McCatry….INTERESTING….” gumam Billie sambil melihat Diana yang mendesah-desah tak berdaya dijilati dan diciumi teman-temannya. Beberapa saat kemudian Billie naik keatas ranjang, berbaring disamping cewek itu.


“Nah Diana sayang, ARE YOU READY TO LOSE YOUR VIRGINITY IN ANOTHER HOLE? kau benar-benar beruntung manis! kau pasti puas!” kata Billie sambil menjilat muka cewek itu yang menangis ketakutan. Billie merangkul tubuhnya dari samping dan digulingkan menghadapkan keatas terlentang sehingga posisinya sekarang dibawah Diana.


“Hai….sayang pestanya dilanjutkan. Manis kau pikir tadi sudah yang paling sakit, tunggu yang ini kau akan rasain sakit yang sebenernya!” kata Emilo sambil menerkam gemas buah dadanya.


“Dan sekarang kau dapat kehormatan manis BECAUSE I’LL TAKE YOUR ASS VIRGINITY!!” mata Diana terbelalak ketakutan.“Oooohhh….jang…aan…PLEASE!!!!” hiba Diana disela isak tangisnya.


“Dianay kau akan merasakan sesuatu yang belum pernah kau bayangkan sebelumnya sayang!” ejek Billie.Cewek itu berusaha berontak sekuat tenaga, tapi kerubutan dan remasan dibuah dadanya membuatnya tak bisa berkutik. Diana didudukkan tepat diatas tubuh Billie, berandal itu mengarahkan penisnya yang tegak di lobang anus cewek itu dan segera dihujamkan dalam anus Diana tanpa pelumas sehingga membuatnya menjerit kesakitan.


“AAAAKKKKKKKHHHHHH!!!!” lolong Diana, sementara penis Billie (10 inci) masuk penuh dalam anusnya, sekarang cewek itu dipaksa tidur terlentang. Jack diatas menindihnya sementara Diana meronta-ronta kesakitan, anusnya terasa sakit oleh batang penis Billie yang berada dibawahnya. Jack yang sudah puas menjilati perut Diana, sekarang mementang kedua paha Diana, mengarahkan penisnya (8 inci) ke lorong vagina cewek itu. Apa daya tenaga seorang cewek yang dikeroyok lima lelaki kekar, dengan mudah masing-masing tangan Diana diikat dengan tali BH dijeruji pilar ranjangnya agar tidak bisa berontak.


Jack segera memasukkan penisnya ke vagina Diana yang masih meronta-ronta, sambil tertawa terbahak-bahak. “Ha….ha…ha…. sayang sekarang kau rasakan ini!” sambil berkata seperti itu, Jack dan Billie mulai menggoyangkan pinggul mereka. Penis Billie bergerak naik-turun dianus sedangkan penis Jack menyodok keluar masuk seirama nada metal yang makin bersemangat. Teriakan cewek itu tertelan oleh bunyi halilintar yang keras. Usaha Diana untuk berontak membuat ikatan ditangannya makin erat dan menyakitkan. Tubuh Diana meronta-ronta kesakitan, tanpa disadarinya gerakannya itu makin membuat Jack dan Billie yang memperkosanya makin terangsang. Tubuhnya mulai menggelinjang kesana kemari, pinggulnya bergerak-gerak ke kanan, kiri, memutar, sementara Billie yang dibawah mempertahankan kecepatan ritme keluar masuk batang penisnya dianus Diana. Suara kecipak akibat gesekan kemaluan mereka berdua semakin terdengar. Sodokan batang penis Billie dianus Diana membuat tubuh cewek itu meliuk-liuk tak beraturan dan semakin lama semakin bergerak naik seolah menantang kejantanan Jack.


“Ha…ha…ha….Dianay kau suka ya? Nih akan kumasukkan lebih dalam lagi! HAAAHHHH!!!!” teriak Jack sambil bertumpu pada remasan tangannya dibuah dada cewek itu ia menyodokkan penisnya lebih dalam ke vagina Diana.


“Oooooohhhh……aaahhh….aaahhhh…aahh…ampun…amp..aaaaahhh…aaahh!!!!” erang Diana kesakitan. Sementara kedua penis berandal itu mengkoyak-koyak vagina dan anusnya, begitu penuh nafsu, ganas dan liar. Melihat pemandangan itu dan terbakar oleh api birahi, para berandal lainnya sambil tertawa terbahak-bahak melihat ketidak berdayaan Diana, mereka meremas-remas penis mereka sendiri.


“Ohhh….ha…ha…ha….bagaimana sayang, bagaimana rasanya….puas nggak? tenang pestanya masih lama….tunggu giliran kita…ha…ha…ha..” seru para berandal lainnya.


Beberapa menit saja penis mereka sudah tegak tegang siap beraksi kembali. Ranjang berderit-derit seirama musik metal dan gerakan mereka yang barbar, Diana ditindih ditengah-tengah mereka yang menghentak-hentak berpacu dalam birahi. Gerakan Billie bagaikan dongkrak memaksa tubuh Diana mengelinjang keatas mengundang penis Jack masuk ke lorong vaginanya, sedangkan gerakan Jack yang seperti memompa dari atas menekan kebawah sehingga penis Billie masuk penuh, begitu seterusnya, membuat cewek itu terengah-engah menahan rasa sakit di anus dan vaginanya sekaligus. Billie menciumi leher, tengkuk, telinganya penuh napsu.


“Uuuggh…uuggh…uuuughhh….” rintih Diana seirama ayunan kedua penis itu. Cewek itu bisa merasakan seakan-akan kedua penis itu saling bertemu dan bergesekan didalam perutnya, hanya berbeda lorong saja.


Jack dan Billie melengkuh-lengkuh nikmat. Buah dadanya diremas-remas dengan kasar sekali oleh Jack. Diana merasakan kesakitan, tapi remasan dibuah dadanya membuatnya tetap tersadar. Para berandal yang lainnya bersorak-sorak menyemangati keduanya melahap tubuh Diana , Penis-penis mereka digesek-gesekkan di tubuh cewek itu. Waktu menunjukkan Pukul 01:20 sementara pesta perkosaan itu makin brutal terbawa napsu birahi para berandal. Badai diluar makin ganas dan guntur sesekali menggelegar menelan teriakan Diana. Joe menemukan lipstik dimeja rias dan dioleskan dengan paksa dibibir Diana.

Artikel Terkait

Cerita Sex Tante Ngentot Giginya mengigiti putingnya dengan gemas Sampai Muncrat
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email