Rabu

Cerita Ngesex ABG Perawan Sinta Kurasakan lubang kemaluannya hangat

Cerita Ngesex ABG Perawan Sinta Kurasakan lubang kemaluannya hangat  Konsentrasi pada ujung penis. Ujung penis ialah tempat terunggul untuk wanita untuk memusatkan perhatiannya. Ujung penis jadi sangatlah peka serta penuh saraf, dengan menyentuh serta membelai titik ini bikin pria mengerang dalam kesenangan. Tetapi, kerjakan dengan lembut, karena sangat banyak desakan malah menyakiti pria. Yang terunggul ialah mengerti tanda pria pasangan Anda. Juga bisa dengan melumasi jari di selama ujungnya melingkari semua daerah, lembut bergerak naik serta turun. 

Cerita Ngesex ABG Perawan Sinta Kurasakan lubang kemaluannya hangat


Memakai pelumas. Pelumasan menahan gesekan pada kulit serta pastinya bikin pria tambah lebih menyenangkan. Menarik kulit penis sudah pasti sangatlah menyakitkan untuk pria, karenanya pakai pelumas. Merangsang punggung penis. Lepas dari ujung penis pria, daerah dimana kulit longgar yang berhimpun dengan kepala penis, juga tempat yang sangatlah peka. Menyentuh dengan lembut juga menolong pria memanas. 

Melindungi kecepatan. Sama dengan waktu pria lakukan sex oral pada wanita serta menjaga kecepatan untuk menolong orgasme, lewat cara yang sama, sepanjang ujung jari-jari Anda mantap bisa menolong pria pasangan Anda rasakan kesenangan itu. Awalilah dengan lambat tetapi merayu, lalu geser ke pergerakan yang lebih mantap, sampai bikin pria orgasme. 

Pakai tangan lainnya untuk merangsang testis serta prostat. Penis bukanlah hanya satu organ yang perlu disentuh, testis juga perlu. Jadi, pakai tangan untuk menyentuh testis serta membelainya. Sejumlah tempat juga baik untuk disentuh, seperti perut sisi bawah serta daerah dibawah penis. 

Lembut namun tegas. Penis ialah sisi dari badan, serta walau jadi keras, namun bisa memberi kesenangan sendiri. Karenanya kerjakan dengan lembut tetapi tegas. Jadi, memegang penis dengan kuat serta bergerak lembut adalah kombinasi yang prima untuk suatu kesenangan serta kesenangan.
Saya mulai memundur-majukan pantatku, sesaat kuputar goyanganku ke kiri, ke kanan, memutar, kembali pada depan ke belakang, ke atas ke bawah. Kurasakan begitu nikmat rasa-rasanya kemaluan Diana, nyatanya lubang kemaluan Diana masih tetap sempit, meskipun bukanlah lagi seseorang perawan. Ini mungkin saja karena ukuran batang kemaluanku yang menurut Diana besar, panjang serta kekar. Lama kelamaan goyanganku telah mulai teratur, perlahan-lahan namun tentu, serta Diana juga telah bisa menyeimbangi goyanganku, kami bergoyang selaras, berlawanan arah, apabila kugoyang ke kiri, Diana goyang ke kanan, apabila kutekan pantatku Diana juga mendesak pantatnya. Malam itu tanggal 2 Juni 2008 seputar jam 21. 30. Saya didalam mobilku tengah keliling-keliling kota Jakarta. Gagasannya saya akan meliput persiapan kampanye partai-partai yang tuturnya telah berada di sekitar HI. Aneh, kampanye resminya besok, namun banyak yang bercokol di putaran HI mulai sejak malam hari ini. Keliatannya mereka tidak ingin kalah dengan partai-partai lainnya yang tempo hari serta hari ini sudah memanjat patung selamat hadir, menempatkan bendera mereka disana. Terdaftar pp, PND, PBB, PKB, PAN serta PK sudah sukses. Dengan korban sebagian orang sudah pasti. Tak tahu apa yang dikejar mereka, beberapa simpatisan itu. Kebanggaan? Atau suatu ketololan. Bila nyatanya mereka meninggal atau cedera, berartikah pengorbanan mereka? Apakah beberapa ketua partai itu kenal sama mereka? Apakah pemimpin partai itu menghormati kenekadan mereka? Lho, kok saya bicara politik. Biarinlah. Beberapa macam saja tingkah mereka, maklumlah telah waktu kampanye terakhir 




Dimuka kedutaan Inggris saya parkirkan mobilku, bersama dengan banyak mobil yang lain. Memanglah saya saksikan ada sejumlah grup, semasing dengan bendera partai mereka serta atribut yang berbagai macam. Saya mengeluarkan kartu persku, bergantung di leher. Juga Nikon, kawan baik sebagai sumber nafkahku. Saya mendekati kerumunan simpatisan partai. Berhimpun dengan mereka. Berupaya mencari info serta momen-momen terpenting yang mungkin saja akan berlangsung. 



Waktu itu pandanganku berjumpa dengan tatap mata seseorang gadis yang bergerombol dengan teman-temannya di atap suatu mini bus. Berwajah yang cantik tersenyum kepadaku. Gadis itu menggunakan kaos partai yang mengakui reformis, —aku rahasiakan saja baiknya—yang sudah dipotong sedikit sisi bawahnya, sehinggs seperti jenis tank top, sedang bawahannya menggunakan mini skirt berwarna putih. Diantara teman-temannya, dia yang sangat menonjol. Sangat lincah, sangat menarik. “Mas, Mas wartawan ya? ” tuturnya kepadaku. “Iya”. “Wawancarai kita dong”, Salah seseorang temannya nyeletuk. “Emang ingin? ”. “Tentu dong. Namun foto kita dulu…” 





Nah darisinilah bermula narasi ini serta sekarang ku koleksi dalam masa lalu hingga jadi Himpunan Narasi Dewasa 





Mereka beraksi waktu kuarahkan kameraku pada mereka. Dengan lagak serta style semasing mereka berpose. “Kenapa telah ada disini, sich? Tidakkah ____ (nama partai) baru besok kampanyenya? ”. “Biarin Mas, dibanding besok dikuasai partai lainnya? ”. “Memang selalu disini? Hingga pagi? ”. “Iya, untuk ____ (nama partai), kami ikhlas bergadang semalaman. ”“Hebat. ”“Mas disini saja, Mas. Kelak tentu ada lagi yang ingin manjat tugu selamat hadir. ” Kata gadis yang menarik perhatianku itu. 



Saya juga duduk dekat mereka, terlibat perbincangan mengenai pemilu kesempatan ini. Harapan-harapan mereka, respon mereka, serta pendapat mereka. Mereka lumayan setia pada partai mereka itu, meskipun terlihat sedikit sedih, karena pemimpin partai mereka itu kurang berani bicara. Walau sebenarnya diproyeksikan untuk jadi calon presiden. Saya maklum, karena tahu latar belakang pemimpin yang mereka maksudkan itu. “Eh, nama kalian siapa? ” Tanyaku, “Aku Ray. ”“Saya Diana. ” Kata cewek manis itu, teman-temannya yang lainnya juga menyebutkan nama. Kami selalu terlibat percakapan, sembari minum teh botol yang di jual pedagang asongan. 



Waktu selalu berlalu. Sekian kali saya tinggalkan mereka untuk menguber sumber berita. Malam itu bundaran HI didatangi Kapolri yang mengevaluasi serta ‘menyerah’ lihat massa yang sudah bergerombol untuk pawai serta kampanye, karena jadwal resminya ialah jam 06. 00 – 18. 00. Waktu saya kembali, gerombolan Diana masih tetap berada di sana. “Saya ke kantor dahulu ya, memberi kaset rekaman serta hasil photoku. Hingga ketemu. ” Pamitku. “Eh, Mas, Mas Ray! Kantornya “x” (nama koranku), khan. Bisa saya menumpang? ” Diana berteriak kepadaku. “Kemana? ”“Rumah. Rumah saya di dekat situ juga. ”“Boleh saja. ” Kataku, “Tapi tuturnya ingin masih disini? Bergadang? ”“Nggak deh. Ngantuk. Bisa ya? Tidak ada yang ingin ngantarin nih. ”Aku juga mengangguk. Namun dari tempatku berdiri, saya bisa lihat didalam mini bus itu ada sepasang remaja berciuman. 





Betul-betul kampanye, nih? Sama juga peristiwa waktu meliput demontrasi mahasiswa dahulu. Waktu teriak, ikut-ikutan teriak. Yang pacaran, ya pacaran. (Ini hanya sebatas nyentil, lho. Bukanlah menghujat. Angkat topi buat pergerakan mahasiswa kita! Peace!) Diana menggandengku. Saya melambai-lambai pada rekan-rekannya. “Diana! Pulang lho! Janganlah malah…” Teriak salah seseorang temannya. Diana hanya mengusung tinjunya, namun matanya kulihat mengedip. 



kami juga menuju mobilku. Dengan lincah Diana sudah duduk di sampingku. Mulutnya berkicau selalu, bertanya-tanya tentang profesiku. Saya menjawabnya dengan suka hati. Kadang juga saya ajukan pertanyaan kepadanya. Dari situ saya tahu dia sekolah dalam suatu SMA di daerah Bulungan, kelas 2. Yang tadi ikutan teman-temannya saja. Politik? Pusing ah mikirinnya. Usianya baru 17 th., namun tidak mendaftarkan pemilu th. ini. Kami selalu terlibat percakapan. Dia sudah makin akrab denganku. “Kamu telah mempunyai pacar, belumlah? ” Tanyaku. “Sudah. ” Nadanya jadi lainnya, agak-agak sendu. “Tidak turut yang tadi? ”“Nggak. ”“Kenapa? ”“Lagi marahan saja. ”“Wah.., kritis nih. ”“Biarin saja. ”“Kenapa emangnya? ”“Dia ketangkap basah selingkuh dengan temanku, namun tidak mengakui. ”“Perang, dong? ”“Aku geram! Eh dia lebih galak. ”“Dibalas lagi dong. Janganlah didiemin saja. ”“Gimana langkahnya? ” Tanyanya polos. “Kamu selingkuh juga. ” Jawabku sembarangan. “Bener? ”“Iya. Janganlah ingin dibohongin, cowok tu tetap demikian. ”“Lho, Mas sendiri cowok. ”“Makanya, saya tidak yakin sama cowok. Sumpah, hingga saat ini saya tidak sempat pacaran sama cowok. Hahaha. ”Dia turut tertawa. 





Saya ambil rokok dari saku depan kemejaku, menyalakannya. Diana memohon satu rokokku. Anak ini badung juga. Sembari merokok, dia terlihat lebih santai, kakinya tanpa ada sadar sudah nemplok di dashboardku. Saya merengut, akan geram, namun tidak jadi, pahanya yang mulus terpampang di depanku, bikin gondokku hilang. 



Kemudian saya mulai tertarik mencuri-curi pandang. Diana tidak sadar, dia pejamkan mata, nikmati asap rokok yang mengepul serta keluar lewat jendela yang terbuka. Gadis ini betul-betul cantik. Rambutnya panjang. Tubuhnya indah. Dari pakaian kaosnya yang pendek, bisa kulihat putih mulus perutnya. Dadanya mengembang prima, tegak diisi. Tanpa ada sadar penisku bereaksi. Saya menyalakan tape mobilku. Diana memandangku waktu suatu lagu romantis terdengar. “Mas, sesudah ini ingin kemana? ”“Pulang. Kemana lagi? ”“Kita ke pantai saja yuk. Saya jemu nih. ” Tuturnya hembuskan asap putih dari mulutnya. “Ngapain”“Lihat laut, ngedengerin ombak, ngapain saja deh. Saya males pulang jadinya. Tetap ingat Ipet, bila saya sendirian. ”“Ipet? ”“Pacarku. ”“Oh. Namun yang tadi tuturnya ngantuk? ”“Udah terbang bersama dengan asap. ” Tuturnya, tubuhnya doyong ke arahku, melingkarkan lengan ke bahuku, dadanya melekat di pangkal tangan kiriku. Hangat. “Bolehlah. ” Kataku, sesudah berfikir bila besok saya tidak mesti pagi-pagi ke kantor. Jadi sesudah mengantar materi yang kudapat pada rekanku yang akan bikin kabarnya, saya serta Diana menuju arah utara. Ancol! Mana lagi pantai di Jakarta ini. 



Saya parkirkan mobil Kijangku di tepi pantai Ancol. Disana kami terdiam, dengarkan ombak, demikian arti Diana yang tadi. Hingga 1/2 jam kami cuma berdiam. Tetapi kami duduk sudah makin rapat, hingga bisa kurasakan lembutnya badan yang berada di sampingku. 





Mendadak Diana mencium pipiku. “Terima kasih, Mas Ray. ”“Untuk apa? ”“Karena sudah ingin temani Diana. ”Aku cuma diam. Menatapnya. Dia juga menatapku. Perlahan-lahan menunduk. Kunikmati kecantikan berwajah. Tanpa ada sadar saya capai berwajah, dengan sangatlah perlahan kudekatkan wajahku ke berwajah, saya cium bibirnya, saya tarik lagi wajahku agak menjauh. Saya rasakan hatiku tergetar, bibirku juga kurasakan bergetar, begitupun dengan bibirnya. Saya tersenyum, serta ia juga tersenyum. Kami berciuman kembali. Waktu akan merebahkannya, setir mobil menghalang pergerakan kami. Kami berdua geser ke bangku tengah Kijangku. Saya cium kening Diana terlebih dulu, lalu ke-2 matanya, hidungnya, ke-2 pipinya, bibirnya. Diana terpejam serta kudengar nafasnya mulai agak merasa memburu, kami berdua tenggelam dalam ciuman yang hangat membara. Tanganku memegang dadanya, meremasnya dari balik kaos tipis serta bhnya. 



Tidak lama kemudian kaos itu sudah kubuka. Saya tujukan mulutku ke lehernya, ke pundaknya, turun ke buah dadanya yang indah, besar, montok, kencang, dengan puting yang memerah. Tanganku buka kaitan BH hitamnya. Saya mainkan lidahku di puting ke-2 buah dadanya yang mulai mengeras. Yang kiri yang kanan. “Mas Ray, kamu tau saja kekurangan saya, saya sangat tidak tahan jika dijilat susu saya…, aahh…”. 





Saya juga telah makin asik mencumbu serta menjilati puting buah dadanya, ke perutnya, pusarnya, sembari tanganku buka mini skirtnya. Terpampanglah jelas badan telanjang gadis itu. Celana dalamnya yang berwarna hitam, menerawangkan bulu-bulu halus yang berada di situ. Kuciumi daerah hitam itu. 



Saya berhenti, saya ajukan pertanyaan pada Diana“Diana kamu telah sempat dijilatin itunya? ”“Belum…, mengapa? ”. “Mau nyoba tidak? ”. Diana mengangguk perlahan-lahan. Takut ia beralih pikiran, tanpa ada menanti lebih lama lagi segera saya buka celana dalamnya, serta mengarahkan mulutku ke kemaluan Diana yang bulunya lebat, kelentitnya yang memerah serta baunya yang ciri khas. Saya mengeluarkan ujung lidahku yang lancip kujilat dengan lembut klitorisnyana. Sejumlah detik lalu kudengar desahan panjang dari Diana“sstt… Aahh!!! ”Aku selalu beroperasi di situ“aahh…, Mas Ray…, hilang ingatan nikmat bener…, Gila…, saya baru merasakan nih nikmat yang seperti gini…, aahh…, saya tidak tahan nih…, telah deh…” 



Lalu dengan tiba-tiba ia menarik kepalaku dan dengan tersenyum ia memandangku. Tanpa kuduga ia mendorongku untuk bersandar ke bangku, dengan sigapnya tangannya membuka sabuk yang kupakai, lalu membuka zipper jins hitamku. Tangannya menggapai kemaluanku yang sudah menegang dan membesar dari tadi. Lalu ia memasukkan batang kemaluanku yang besar dan melengkung kedalam mulutnya.“aahh…” LenguhkuKurasakan kehangatan lidah dalam mulutnya. Namun karena dia mungkin belum biasa, giginya beberapa kali menyakiti penisku.“Aduh Diana, jangan kena gigi dong…, Sakit. Nanti lecet…”


Kuperhatikan wajahnya, lidahnya sibuk menjilati kepala kemaluanku yang keras, ia jilati melingkar, ke kiri, ke kanan, lalu dengan perlahan ia tekan kepalanya ke arahku berusaha memasukkan kemaluanku semaksimal mungkin ke dalam mulutnya. Namun hanya seperempat dari panjang kemaluanku saja kulihat yang berhasil terbenam dalam mulutnya.“Ohk!.., aduh Mas Ray, cuma bisa masuk seperempat…”“Ya udah Diana, udah deh jangan dipaksaain, nanti kamu tersedak.”Kutarik tubuhnya, dan kurebahkan ia di seat Kijangku. Lalu ia membuka pahanya agak lebar, terlihat samar-samar olehku kemaluannya sudah mulai lembab dan agak basah. Lalu kupegang batang kemaluanku, aku arahkan ke lubang kemaluannya. Aku rasakan kepala kemaluanku mulai masuk perlahan, kutekan lagi agak perlahan, kurasakan sulitnya kemaluanku menembus lubang kemaluannya.Kudorong lagi perlahan, kuperhatikan wajah Diana dengan matanya yang tertutup rapat, ia menggigit bibirnya sendiri, kemudian berdesah.“sstt…, aahh…, Mas Ray, pelan-pelan ya masukkinnya, udah kerasa agak perih nih…”


Dan dengan perlahan tapi pasti kudesak terus batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluan Diana, aku berupaya untuk dengan sangat hati-hati sekali memasukkan batang kemaluanku ke lubang vaginanyana. Aku sudah tidak sabar, pada suatu saat aku kelepasan, aku dorong batang kemaluanku agak keras. Terdengar suara aneh. Aku lihat ke arah batang kemaluanku dan kemaluan Diana, tampak olehku batang kemaluanku baru setengah terbenam kedalam kemaluannya. Diana tersentak kaget.“Aduh Mas Ray, suara apaan tuh?”“Nggak apa-apa, sakit nggak?”“Sedikit…”“Tahan ya.., sebentar lagi masuk kok…”


Dan kurasakan lubang kemaluan Diana sudah mulai basah dan agak hangat. Ini menandakan bahwa lendir dalam kemaluan Diana sudah mulai keluar, dan siap untuk penetrasi. Akhirnya aku desakkan batang kemaluanku dengan cepat dan tiba-tiba agar Diana tidak sempat merasakan sakit, dan ternyata usahaku berhasil, kulihat wajah Diana seperti orang yang sedang merasakan kenikmatan yang luar biasa, matanya setengah terpejam, dan sebentar-sebentar kulihat mulutnya terbuka dan mengeluarkan suara. “sshh…, sshh…”Lidahnya terkadang keluar sedikit membasahi bibirnya yang sensual. Aku pun merasakan nikmat yang luar biasa. Kutekan lagi batang kemaluanku, kurasakan di ujung kemaluanku ada yang mengganjal, kuperhatikan batang kemaluanku, ternyata sudah masuk tiga perempat kedalam lubang kemaluan Diana.


Aku coba untuk menekan lebih jauh lagi, ternyata sudah mentok…, kesimpulannya, batang kemaluanku hanya dapat masuk tiga perempat lebih sedikit ke dalam lubang kemaluan Diana. Dan Diana pun merasakannya.“Aduh Mas Ray, udah mentok, jangan dipaksain teken lagi, perut saya udah kerasa agak negg nih, tapi nikmat…., aduh…, barangmu gede banget sih Mas Ray…”



Semua aku lakukan dengan sedikit hati-hati, karena aku sadar betapa besar batang kemaluanku untuk Diana, aku tidak mau membuatnya menderita kesakitan. Dan usahaku ini berjalan dengan mulus. Sesekali kurasakan jari jemari Diana merenggut rambutku, sesekali kurasakan tangannya mendekapku dengan erat.Tubuh kami berkeringat dengan sedemikian rupa dalam ruangan mobil yang mulai panas, namun kami tidak peduli, kami sedang merasakan nikmat yang tiada tara pada saat itu. Aku terus menggoyang pantatku ke depan ke belakang, keatas kebawah dengan teratur sampai pada suatu saat.“Aahh Mas Ray…, agak cepet lagi sedikit goyangnya…, saya kayaknya udah mau keluar nih…”Diana mengangkat kakinya tinggi, melingkar di pinggangku, menekan pantatku dengan erat dan beberapa menit kemudian semakin erat…, semakin erat…, tangannya sebelah menjambak rambutku, sebelah lagi mencakar punggungku, mulutnya menggigit kecil telingaku sebelah kanan, lalu terdengar jeritan dan lenguhan panjang dari mulutnya memanggil namaku.“Mas Ray…, aahh…, mmhhaahh…, Aahh…” Dia kelojotan. Kurasakan lubang kemaluannya hangat, menegang dan mengejut-ngejut menjepit batang kemaluanku.“aahh…, gila…, Ini nikmat sekali…” Teriakku.


Baru kurasakan sekali ini lubang kemaluan bisa seperti ini. Tak lama kemudian aku tak tahan lagi, kugoyang pantatku lebih cepat lagi keatas kebawah dan, Tubuhku mengejang.“Mas Ray…, cabut…, keluarin di luar…”Dengan cepat kucabut batang kemaluanku lalu sedetik kemudian kurasakan kenikmatan luar biasa, aku menjerit tertahan“aahh…, ahh…” Aku mengerang.“Ngghh…, ngghh..”Aku pegang batang kemaluanku sebelah tangan dan kemudian kurasakan muncratnya air maniku dengan kencang dan banyak sekali keluar dari batang kemaluanku.Chrootth…, chrootthh…, crothh…, craatthh…, sebagian menyemprot wajah Diana, sebagian lagi ke payudaranya, ke dadanya, terakhir ke perut dan pusarnya.


Kami terkulai lemas berdua, sambil berpelukan.“Mas Ray…, nikmat banget main sama kamu, rasanya beda sama kalo saya gituan sama Ipet. Enakan sama kamu. Kalau sama Ipet, saya tidak pernah orgasme, tapi baru sekali disetubuhi kamu, saya bisa sampai, barang kali karena barang kamu yang gede banget ya?” Katanya sambil membelai batangku yang masih tegang, namun tidak sekeras tadi.“Saya nggak bakal lupa deh sama malam ini, saya akan inget terus malem ini, jadi kenangan manis saya”Aku hanya tersenyum dengan lelah dan berkata “Iya Diana, saya juga, saya nggak bakal lupa”.



Artikel Terkait

Cerita Ngesex ABG Perawan Sinta Kurasakan lubang kemaluannya hangat
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email