Rabu

Cerita Hot Sedarah ABG Naditya dengan Seks BDSM Sampai Ketagihan

Cerita Hot Sedarah ABG Naditya dengan Seks BDSM Sampai Ketagihan Saya ialah seseorang mahasiswa semester akhir. Mulai sejak berumur 16 th. saya rasakan jika saya memiliki tingkah laku sex yang menyimpang. Menjadi lelaki, saya malah lebih senang untuk didominasi oleh wanita. Saya kerap memikirkan satu kondisi di mana saya dicaci, dihina, direndahkan, serta disiksa dengan sadis oleh seseorang wanita. 

Cerita Hot Sedarah ABG Naditya dengan Seks BDSM Sampai Ketagihan



Waktu saya mencapai semester delapan, saya daftarkan diri pada suatu website BDSM serta sukses berteman dengan seseorang wanita berumur 30 th. yang menyukai jadi menguasai. Dia ialah Nyonya Hana. Perjumpaan awal melalui internet lalu berlanjut ke pertemuan kami. Nyatanya Nuonya Hana ialah seseorang manajer personalia dalam suatu hotel. Dia tidak cantik, tetapi berpenampilan anggun. Singkat narasi, kami juga sama-sama pas. 





Mulai sejak awal bln. Juli, kami juga setuju untuk jadi pasangan majikan serta budak. Saya berkewajiban untuk melayani Nyonya Hana kapan juga dia menginginkanku. Saya harus juga
original:
juga harus
suggestion:

 mematuhi semua perintah-perintahnya serta terima semuanya yang dikerjakannya kepadaku. Termasuk juga hinaan serta siksaan. Sedang Nyonya Hana, dia mempunyai hak penuh untuk lakukan apapun yang disukainya kepadaku. Saya tidak lebih dari beberapa barang kepunyaannya yang lainnya. Serta saya tidak terima imbalan apa pun. Imbalanku ialah kesenanganku. 





Saya akan menceritakan sebagian pengalamanku sepanjang jadi budak Nyonya Hana. Waktu itu hari telah malam. Seputar jam delapan malam. Telephone di kontrakanku berdering. Kebetulan saya yang mengangkatnya. Nyatanya itu ialah Nyonya Hana. Dia memintaku untuk hadir ke alamat villa sewaannya serta melayaninya malam itu juga. Sudah pasti saya tidak bisa menampik. Dia ialah majikanku. Serta saya juga pergi malam itu. 





Nyonya Hana telah menungguku waktu saya tiba di villa. Dia kenakan pakaian serba hitam yang mengkilap. Tanpa ada basa-basi lagi, dia menyuruhku untuk melepas semua bajuku. Saya menurutinya. Sekarang tubuhku telanjang bulat tanpa ada selembar kain juga. Nyonya Hana mendekatiku. Dia melumat bibirku serta meremas kemaluanku. Penisku juga mengeras. Nyonya Hana meraba semua tubuhku serta membuatku makin terangsang. 





Di dalam permainan itu, dia berhenti. Nyonya Hana menyuruhku untuk masuk ruangan belakang. Disana nyatanya telah ada tali panjang yang menggantung pada kayu besar yang melintang di dalam ruang. Dia mengikat ke-2 tanganku pada tali itu. Sekarang saya sekalipun tidak berkapasitas. Ke-2 tanganku diikat menyatu ke atas pada tali itu serta saya juga harus terpaksa berjinjit pada ke-2 ujung kakiku karena tali itu nyatanya sangat tinggi. 





Nyonya Hana melingkari saya sesaat, dia pergi mengarah meja serta ambil suatu cambuk berwarna hitam. Semenit lalu, dia telah berdiri di belakangku. Dia mendekatiku serta berkata, “Hei budak, kamu ialah milikku serta sekarang ini saya ingin sekali menyiksa kamu. Kamu paham.kamu mengerti? Saya sangatlah senang bila lihat kamu berteriak kesakitan. ”Aku diam saja. Saya cuma dapat pasrah dengan apa yang akan berlangsung selanjutnya. 





Mendadak. Tar! Tar! Dua cambukan menghajar punggungku dengan keras. Saya berteriak keras. Rasa-rasanya sakit sekali. Nyonya Hana tertawa senang lihat badan bugilku menggeliat menahan sakit yang sangat sangatlah. Dia tidak berhenti hingga di situ. Nyonya Hana selalu mencambukku hingga seputar 200 cambukan. Punggungku merasa sangat sakit serta panas karena sobek serta keluarkan darah. Tubuhku telah basah dengan keringat serta merasa lemas. Namun anehnya, saya menikmatinya. Berikut yang kuimpikan sejak dahulu, disiksa serta direndahkan oleh wanita. 





Sesudah senang dengan cambukan, dia melepas ikatan tanganku. Dia memindahkanku ke kamar tidur. Dia mengikat ke-2 tangan serta kakiku dengan tali ke semasing pojok tempat tidur. Sekarang saya telentang dalam kondisi terikat serta telanjang seperti huruf X. 





Nyonya Hana mencapai kotak tempat dia menaruh alat-alat penyiksaan serta ambil dua buah jepitan buaya yang bergigi tajam serta populer kuat cengkeramannya. Saya menanti dengan hati berdebar-debar. Seperti yang kuduga, Nyonya Hana mencapai putingku serta menjepitkan jepitan buaya itu sampai daging ke-2 putingku terjepit erat. Rasa-rasanya sakit sekali. Saya berteriak serta meronta. Namun tubuhku terikat erat oleh tali ditempat tidur. Saya tidak berkapasitas. 





Selang sejumlah menit, saya juga kembali tenang. Nyonya Hana kembali mendekatiku, serta kali inilah membawa suatu lilin merah dengan diameter besar, seperti yang kerap digunakan di kuil-kuil. Dia menyalakan lilin itu. Sesudah lilin terbakar, Nyonya Hana memiringkan lilin yang dibawanya serta meneteskan lilin panas yang meleleh diatas tubuhku yang telanjang. Satu tetesan pertama datang pas diatas putingku yang terjepit oleh jepitan buaya. Saya berteriak histeris. Rasa-rasanya seperti di neraka. Namun Nyonya Hana cuma tersenyum. 





Dia meneteskan lilin itu ke beberapa bagian tubuhku yang peka. Dada, perut serta paha tidak luput dari tetesan cairan lilin panas. Tubuhku makin berkeringat serta menggelinjang menahan panas. Saya rasakan siksaan yang sangat sakit. Saya cuma bisa mengerang kesakitan serta meminta belas kasihan Nyonya Hana. 





Sesudah sebagian besar tubuhku tertutup lilin panas yang jadi kering, Nyonya Hana lalu melepas ikatan ke-2 kakiku. Dia mengusung ke-2 kakiku ke atas dan didesak dalam kondisi mengangkang mengarah dada. Sekarang saya hampir bisa mencium ke-2 lututku. Nyonya Hana mengikat ke-2 kakiku dengan tali pada ujung sudut-sudut tempat tidur yang dipakai untuk mengikat ke-2 tanganku. Sekarang saya makin tidak berkapasitas. Terkecuali ikatan tubuhku makin kuat, saya juga sudah banyak kehilangan tenaga. 





Dalam kondisi semacam ini, ke-2 kakiku dalam kondisi mengangkang ke atas serta pantatku juga pas bertemu dengan Nyonya Hana. Dia kembali menyalakan lilin. Waktu itu saya telah mulai ketakutan. “Ampun, Nyonya.., ampun. Tolong, ampuni saya. Janganlah siksa saya lagi, Nyonya..! ” saya merintih meminta belas kasihan Nyonya Hana. Dia cuma tersenyum. 





Nyonya Hana memiringkan lilin tadi dinyalakannya mengarah pantatku yang terbuka. Tes.. Tes.. Tes. Demikian banyak tetes lilin mengalir deras di daerah pantatku. Saya berteriak sekuat-kuatnya untuk menahan sakit. Bukan sekedar hingga di situ saja siksaan yang kualami. Pada tetesan yang tak tahu ke berapakah puluh kalinya, Nyonya Hana lalu mengarahkan lilinnya ke anusku. Tidak bisa dielak lagi, cairan lilin panas itu menghujani daerah anusku serta sebagian masuk ke lubang anus. 





Kesempatan ini saya bukan sekedar berteriak namun juga membentur-benturkan pantatku ke tempat tidur untuk menahan sakit. Nyonya Hana tertawa terbahak-bahak melihatku kesakitan dalam kondisi telanjang serta terikat tidak berkapasitas. Saya tidak lebih dari kelinci eksperimen Nyonya Hana. 





Nyatanya Nyonya Hana belumlah senang. Dia masih tetap kembali memiringkan lilinnya mengarah tubuhku. Kesempatan ini sasarannnya ialah kemaluanku. Tanpa ada basa-basi lagi Nyonya Hana meneteskan lilin-lilin panas terus-menerus mengarah penisku. Saya kembali berteriak kesakitan. Badanku bergetar serta saya terasa ingin tidak sadarkan diri. Nyonya Hana tertawa penuh kemenangan. Dia mendekati wajahku serta berkata, “Rasakan, budak..! ” 





Sedetik lalu, ke-2 tangan Nyonya Hana menarik jepitan buaya di ke-2 putingku dengan tarikan keras serta panjang. Saya betul-betul berteriak histeris. Malam itu saya disiksa dengan beberapa cara yang teramat sadis serta keji. Sesudah senang menyiksaku dengan sadis, Nyonya Hana melepas ikatanku dan jepitan buaya di putingku. Rasa-rasanya seperti iris dengan pisau. Ke-2 putingku merasa sakit serta keluarkan darah. 





Nyonya Hana lalu memakaikan suatu kalung anjing di leherku serta menyuruhku untuk jalan merangkak mengikutinya seperti seekor anjing. Dia nyatanya membawaku ke halaman belakang. Di situ ada suatu kandang anjing yang kosong. Nyonya Hana meyuruhku untuk masuk ke dalamnya. Saya menuruti perintahnya. Dia tutup pintu kandang serta menguncinya. 





Nyonya Hana berkata, “Nah, budak, kamu saat ini dapat tidur dahulu. Saya ada janji malam hari ini dengan seseorang pria yang jantan serta macho. Dia betul-betul cowok dambaan. Sekurang-kurangnya tidak seperti kamu. Bagiku, kamu ialah budak belian yang hina yang tidak lebih dari seekor anjing. Nah, saat ini istirahatlah seperti seekor anjing..! ” 





Nyonya Hana lalu meninggalkanku sendirian di kandang anjing. Dia pergi mengarah kota untuk minum-minum di kafe. Selain itu, tubuhku jadi tujuan nyamuk-nyamuk kelaparan. Saya betul-betul diperlakukan seperti budak malam itu. Dicaci, dihina, direndahkan serta disiksa dengan sadis oleh majikanku. Serta sekarang saya diperlakukan tidak lebih dari seekor binatang. Untungnya, malam itu saya juga dapat tidur meskipun hari telah mendekati pagi. 





Esok harinya, saya dibangunkan dengan kasar oleh Nyonya Hana pagi-pagi sekali. Mungkin saja seputar jam enam pagi. Tubuhku masih tetap merasa sakit serta capek karena siksaan semalam. Namun bagaimanapun juga saya berupaya untuk bangun. Saya tidak berani untuk melawan majikanku. Saya lalu diberinya baju yang patut serta dipaksa untuk masuk ke mobil. Kami lalu pergi mengarah luar kota. 





Seputar 1/2 jam perjalanan, kami melalui jalan raya kecil yang di kanan kirinya masih tetap adalah rimba, meskipun bukanlah rimba liar. Mendadak Nyonya Hana membelokkan mobilnya ke kiri serta masuk ke suatu jalan tanah. Dia baru berhenti sesudah kami tidak tampak dari arah jalan raya karena terlindung pohon-pohon. 





Nyonya Hana menyuruhku turun. Dia memerintahkanku untuk melepas semua pakainku. Saya tidak bisa menampik. Sekarang saya juga kembali telanjang bulat bersama dengan Nyonya Hana di dalam rimba. Nyonya Hana lalu menyuruhku untuk mengikutinya menuju ke suatu sungai yang berada di situ. Dia lalu memerintah saya untuk mengotori semua badanku dengan lumpur sungai yang berada di situ. Saya juga mengerjakannya. Nyonya Hana melihatku dengan tersenyum senang. Saya melumuri semua badanku dengan lumpur termasuk juga wajahku. Sesudah usai, Nyonya Hana lalu mengacak-acak rambutku, hingga penampilanku seperti orang hilang ingatan waktu itu. 





Tidak berhenti hingga di situ, Nyonya Hana memberiku tulang ayam goreng yang telah sedikit dagingnya. Dia menyampaikan padaku jika dia akan membawa pergi pakaianku serta menungguku di seberang rimba yang lainnya yang sudah ditunjukkannya padaku lewat peta. Jaraknya kira-kira lima km.. Untuk capai tempat itu, saya mesti jalan lewat tepi jalan raya dalam kondisi telanjang serta sembari mengonsumsi tulangan ayam. Saya betul-betul terasa direndahkan waktu itu. Namun lagi, saya malah menikmatinya. 





Tidak berapakah lama, Nyonya Hana betul-betul meninggalkanku sendirian didalam rimba. Sesudah Nyonya Hana pergi, saya juga mulai jalan mengarah jalan raya. Hingga di batas pohon-pohon yang menutupiku dengan jalan raya kecil itu, saya mulai sangsi. Walau bukanlah jalan raya besar, jalan raya itu cukup ramai dengan kendaraan yang hilir mudik. Namun saya juga tidak paham jalan lainnya untuk menuju tempat Nyonya Hana menanti terkecuali lewat jalan itu. Untuk jalan lewat rimba, saya tidak berani ambil kemungkinan. Bisa-bisa saya tersesat karena tidak paham arah sekalipun. Saya juga tidak bisa terus menerus tinggal diam di situ karena saya tidak mempunyai baju selembar juga. Bagaimanapun juga saya mesti menjumpai Nyonya Hana di seberang rimba. 





Pada akhirnya, saya nekat juga. Pelan-pelan saya keluar dari pohon-pohon waktu jalan raya sepi. Namun, itu tidak berjalan lama. Sesaat lalu suatu mobil pick up yang sisi belakangnya penuh dengan penumpang tampak dari jauh. Sesudah dekat serta melihatku, mereka bersorak-sorak ramai mengejekku dengan beberapa kata kotor. Nyatanya, dibagian belakang mobil itu ada juga sejumlah gadis yang turut menumpang. Tanpa ada disangka, si sopir perlambat laju mobilnya di dekatku untuk memberi peluang pada teman-temannya mengejekku serta mengolokku dimuka beberapa gadis itu. 





Jarakku dengan mobil itu cuma seputar 3 mtr. karena memanglah jalan raya kecil itu tidak mempunyai pundak jalan yang cukup lebar. Gadis-gadis di situ menjerit menahan malu. Namun saya meyakini jika mereka telah lihat ke arahku. Saya betul-betul terasa sangatlah rendah waktu itu. Saya diolok-olok dimuka umum dalam kondisi bugil serta kotor. Pada akhirnya, mereka berlalu juga. 


Kejadian seperti itu berulang terus sepanjang aku menempuh perjalananku. Aku dilecehkan dan dicemooh oleh orang-orang. Aku terpaksa harus berjalan dalam keadaan telanjang bulat dan tubuh penuh dengan kotoran. Wanita-wanita yang kebetulan melihatku, tersenyum menahan malu. Tapi kemudian mereka juga berbisik-bisik dan tertawa menghinaku. Aku hampir-hampir tidak kuat menahan pelecehan itu. Tapi aku tidak punya pilihan lain selain kembali kepada Nyonya Hana. Kalau tidak, aku akan ditinggalkan selamanya di hutan tanpa pakaian. Cemoohan kepada diriku harus kutahan selama jarak lima kilometer.


Setelah berjalan sekian lama, akhirnya aku sampai juga ke sudut hutan yang sepi yang telah di tentukan Nyonya Hana. Dia menungguku di sana sambil tertawa terbahak-bahak melihatku datang. Dia berdiri berkacak pinggang penuh kemenangan. Setelah puas menatap keadaaanku, Nyonya Hana tidak memberiku pakaian, tetapi langsung menyuruhku untuk masuk ke mobil dan membawaku kembali ke villa. Untungnya, kaca mobil Nyonya Hana sangat gelap, sehingga tubuh telanjangku tidak akan kelihatan dari luar.


Kami sampai di villa sudah siang. Mungkin sekitar pukul setengah dua belas. Saat itu matahari bersinar terik tanpa awan sedikit pun yang menutupinya. Hari itu menjadi siang yang sangat panas.


Nyonya Hana kemudian membawaku ke halaman belakang villa. Di sana terdapat sebuah tiang melengkung berbentuk huruf U terbalik yang lebih tinggi dariku. Tanpa memberiku kesempatan untuk beristirahat, Nyonya Hana langsung mengambil tali dan mengikat kedua tanganku di puncak tiang seperti keadaan tadi malam. Kedua tanganku terikat ke atas dan kakiku pun sedikit terangkat ke atas, sehingga aku hanya dapat bertumpu pada ujung jari-jari kaki.


Nyonya Hana lalu mengambil cambuk dan mencambuk tubuhku sekitar 30 cambukan keras. Aku hanya dapat berteriak kesakitan dan memohon ampun pada Nyonya Hana. Tapi dia tetap tidak perduli. Punggungku kembali terasa sakit karena luka cambukan semalam belum sembuh. Tubuhku penuh dengan keringat karena sinar matahari yang amat panas.


Setelah puas mencambukku, Nyonya Hana meninggalkanku begitu saja dijemur di bawah terik matahari yang menyengat. Tubuhku terasa sangat lemas. Mataku sudah berkunang-kunang. Yang kuingat, aku belum diberi makan oleh Nyonya Hana sejak penyiksaan dimulai tadi malam. Tubuhku yang kotor dan bugil dibakar sinar matahari sepanjang siang itu. Keringatku membasahi tubuhku dengan deras membuatku semakin lemas.


Sementara itu, punggungku terasa amat sakit akibat cambukan dan bagian depan tubuhku dan daerah sekitar kemaluanku masih memerah akibat siksaan panas lilin tadi malam. Aku benar-benar merasa seperti di neraka. Aku hanya ingat aku dijemur lama sekali. Akhirnya aku tidak kuat. Aku pingsan di tiang siksaan.


Ketika aku sadar, aku sudah berada di dalam villa. Hari sudah sore. Nyonya Hana ada di depanku membawa makanan. Aku sedikit gembira karena tubuhku sudah sangat lemas. Nyonya Hana kemudian memberiku makan saat itu. Namun tentu saja aku tidak dapat makan seperti orang biasa. Aku adalah seorang budak.


Nyonya Hana menaruh makanan yang dibawanya di mangkuk makanan anjing dan menyuruhku untuk makan dalam keadaaan merangkak dan hanya boleh menggunakan mulut seperti layaknya seekor anjing. Harga diriku benar-benar diinjak-injak. Aku tahu bahwa anjing pun masih mendapatkan perlakuan yang lebih baik. Setidaknya, anjing masih diberikan makanan secara teratur dan disayang oleh majikannya. Sedangkan aku, jatah makanku saja terlambat dan aku pun selalu disiksa secara sadis oleh majikanku. Nyonya Hana benar-benar menempatkanku dalam posisi yang amat rendah. Bahkan lebih rendah dari anjing piaraannya.


Setelah makan, aku kembali dibimbing oleh Nyonya Hana menuju kamar mandi. Di sana tangan dan kakiku diikat dengan tali, kemudian pintu kamar mandi dikunci oleh Nyonya Hana. Setelah itu, Nyonya Hana pergi entah kemana. Aku sangat capek saat itu. Aku langsung tertidur dan baru dibangunkan oleh Nyonya Hana dini hari keesokannya. Nyonya Hana mengatakan bahwa sewa villa telah habis dan aku harus meninggalkan villa sebelum jam tujuh pagi. Setelah itu, Nyonya Hana langsung pergi meninggalkanku begitu saja yang masih telanjang bulat dan kotor seperti sampah.


Nyonya Hana akan datang lagi saat dia memerlukanku untuk dimaki dan disiksa secara sadis. Diperlakukan seperti budak dan direndahkan seperti anjing. Tapi aku tidak dapat menolak. Aku harus patuh padanya. Karena Nyonya Hana adalah majikanku dan aku adalah ‘BUDAK’-nya

Artikel Terkait

Cerita Hot Sedarah ABG Naditya dengan Seks BDSM Sampai Ketagihan
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email