Rabu

lantaran tidak kuat dinginnya Rintihan Janda Muda Cantik

ANAK SMP BUGIL DAN SISWI SMA BUGIL TELANJANG, TANTE BUGIL, TANTE GIRANG BUGIL, TANTE GIRANG VAENDAH MERAH BASAH, ABG TELANJANG SMA DAN VIDEO VAENDAH MERAH BASAH, SEX CEWEK NGENTOT, SITUS VAENDAH MERAH BASAH,


                                                   Download Video Bokep Update Terbaru
Selamat malam Pak, ” sapa Mbak Yxx, dengan senyumnya yang khas. 
“Malam juga, ” jawabku. 
“Dengan siapa Pak? Ini yang baru namanya Nxx, ” tuturnya dengan buka album yang ada di meja serta membalikkan halaman paling akhir. Lantaran tiap-tiap saya kesini senantiasa saya berikanlah panduan, jadi tanpa ada bertanya saya telah diberikan sejenis “special offer”. 
Kuperhatikan berwajah. Memanglah cukup cantik, namun lihat jam segini, umumnya yang cantik telah cukup capek kerja. Karena sangat banyak pesanan, sekurang-kurangnya telah dua atau tiga tamu. Bila satu tamu minta nambah rata-rata sekali, berarti minimum satu tamu 2 x main. 
Kan tinggal kalkulasi, telah berapakah operation hour-nya? (walau sebenarnya bila sama pasangannya, untuk nambah saja argumen lelah, namun bila sama WP dapat kian lebih satu kali.) Bila tamu lain peluang bakal disodorkan WP yang belum bisa tamu dari tadi siang, namun lantaran saya memperoleh “special offer”, jadi miliki “right” untuk pilih, meskipun WP yang kupilih telah bisa tamu banyak.  
“Mbak, ada tidak yang belum memperoleh tamu sepanjang hari? ” tanyaku, untuk coba ‘menu’ yang lain, yaitu pilih WP yang Masihlah bertenaga serta penuh berharap untuk memperoleh tamu dari tadi siang. 
“Ada. Mbak Axx serta Mbak Rxx, ” jawabnya. 
“Ciri-cirinya bagaimana? ” tanyaku lagi. 
“Kalau Mbak Axx memanglah dapat pijat beneran serta sedikit berusia. Bila Mbak Axx orangnya kecil, Masihlah muda, Sunda, baik orangnya, ” jawabnya lagi. 
“Ya iya lah Mbak. Bila tidak baik ya ke Cipinang nemenin rekannya Ricardo Gelael, ” jawabku. 
Dirinya senyum saja menyikapi candaku. 
“Ya telah, saya tentukan Mbak Rxx. Saya segera ke kamar yah, ” jawabku. Dia tidak bertanya kamar VIP atau regular, sebab dia sudah mengetahui “kebiasaanku”. 
Dengan diantar room boy saya segera menuju kamar. Waduh, my favourite room telah terisi. Yah, sangat terpaksa bisa bekas yang ada dibagian sudut belakang. Dengan Masihlah kenakan pakaian komplit saya duduk di kursi plastik biru yang ada. Room boy tutup gorden kamar. 
“Selamat malam Mak, ” sapa Mbak Rxx. 
“Malam Mbak, ” jawabku. Dia menempatkan peralatan standard-nya (sprei baru, handuk, sabun, kimono) ke tempat tidur, lalu mengambil sepatuku untuk ditempatkan dibawah gorden penutup kamar (sebagai sinyal kalau kamar ini ada berisi/supaya janganlah salah kamar, lantaran sepatu adalah id-room, bila kelak ke kamar mandi). Lantaran menempatkannya sembari nungging, jadi rok span ketatnya ketarik. 
Terlihat celana dalam warna hijau muda. Lalu menempatkan pantatnya diatas kasur. Sebagian waktu sesudah duduk terlihat CD warna hijau muda bordiran pas dibagian garis “penalty” banyak lubang seperti kain kasa, serta.. 
“Ke sini sama rekannya, Pak? ” tanyanya, sebab saya Masuk ke kamar berbarengan dengan orang lain hingga waktu memanggil WP di kamar kerja terdengar dua nama WP. Ini adalah “her_std_qst”. 
“Nggak. Sendirian, ” jawabku, sembari memandangnya. 
“Sudah pernah kesini? ” tanyanya lagi, sembari buang muka, lihat ubin, yang bentuk serta jumlahnya senantiasa sama. 
“Belum, ” jawabku. Sekali-kali bisa dong bohong. Sembari tetaplah memandangnya, nyatanya ada pula toh Sunda yang tidak putih, dalam hatiku (bukanlah hitam, tolong dibedakan). Terlihat berwajah Masihlah meninggalkan “sisa-sisa” kecantikannya. 
“Gimana Pak, ingin dipijat apa..? ” tanyanya tak diteruskan, namun jadi tersenyum. Mengingat di samping kamar terdengar nada mendesis serta nada seperti tepukan tangan (lebih tepatnya beradunya empat pangkal paha.., kan satu orang miliki dua). 
“Aku ingin seperti yang di samping, ” jawabku. 
“Ya siapa takut, ” jawabnya selekasnya, serta turun dari tempat tidur menghampiriku untuk coba merangsangku. Wah, tidak sabaran nih!! 
“Tolong anda duduk saja dahulu ditempat tidur. ” 
Sembari kuperhatikan berwajah, kesempatan ini dia melihat ke atas, yang pasti tak mengkalkulasi jumlah kotak yang ada di plafon. Lantaran urat leher ketarik, terlihat kalau dia tak memakai bra, sebab tampak putingnya. 
Mungkin saja ini strateginya untuk memancing keinginan tanpa ada menyentuhku. Bila pemula mungkin saja dari tadi nih WP telah ditabrak. Namun dia bukanlah type togepasar ; TOket GEde PAntat beSAR ; saya sedikit bingung dengan badan wanita ; bila pantatnya besar terkadang perutnya ikutan besar dengan kata lain jibrut.“Kamu telah berkeluarga? ” tanyaku, keluar juga deh ‘my_std_qst’ 
“Sudah, namun cerai, ” tatapannya ke arahku, namun tak lama, ke bawah lagi. 
“Punya anak, ” tanyaku lagi 
“Sudah satu, ” jawabnya, dengan tatapan tetaplah ke bawah. 
“Umur berapakah? ” tanyaku. 
“Empat tahun” jawabnya. 
“Mmurmu berapakah? ” tanyaku. 
“Dua puluh lima, ” jawabnya, sembari memandangku lagi dengan sorot mata yang tenang tanpa ada ‘kedip’, terlihat berwajah lebih tua dari usianya, atau mungkin saja menginginkan memudakan umur, namun bila lihat sorot matanya serta ketenangannya tidak terlihat kalau dia membohongiku. 
“Aslinya mana? ” tanyaku. 
“Sukabumi, ” jawabnya. 
“Gimana ramai tamunya, kan tanggal muda, ” tanyaku lagi. 
“Yah ramai sih Mas, namun buat yang bisa tamu, ” jawabnya. 
“Kalau anda sendiri bagaimana, ” tanyaku 
“Saya baru bisa, ya Mas ini, ” jawabnya, wah untuk menunjukkan kita butuh teliti fisik, namun kelak!!, wah panggilan telah beralih dari ‘pak’ ke ‘Mas’, membuatku jadi lebih muda saja, atau bikin situasi jadi lebih akrab. 
“Coba anda kesini, ” panggilku, dia menghampiriku serta berupaya mendekatkan buah dada ke wajahku sembari tangannya meraih saklar lampu, mungkin saja kurang PD. 
“Tolong, janganlah di matikan lampunya, ” ucapku, dia menarik kembali tangannya sesudah dia mundur sebagian centi, saya cermati di kantong blazer, samping kiri ada body lotion serta dua karet pelampung, habis memiliki bentuk di gulung serta berupa seperti pelampung, sutra dengan warna millenium, samping kanan kotak kecil kosmetik serta selembar duit $20. 
“Kenapa karetnya koq bawa dua? ” tanyaku. 
“Iya bila kelak tamunya minta nambah kan tidak bolak balik ke belakang, ” jawabnya. 
“Kalau itu yang di botol buat apa, ” tanyaku, seperti pemula. 
“Buat tamu yang tidak ingin main, Hanya dikocokin saja, ” jawabnya. 
“Kamu bawa duit, apa tidak takut bila anda lagi ke belakang, selalu di ambil sama tamunya yang iseng. ” 
“Ya pasrah saja, Mas” 
“Buat apa sih bawa duit, buat kembalian, ” candaku. 
“Bisa saja Mas, tidak buat pegangannya saja, ” jawabnya, seperti sembunyikan suatu hal. 
“Ada yang pernah katakan sama saya bila belum bisa tamu, jadi ditempatkan duit sebagai pancingan supaya memperoleh tamu, bener tidak sih? ” tanyaku. 
“Nah, tuh telah tahu nanya! ” jawabnya sembari tersenyum malu, wah bila gitu tidak butuh teliti fisik, ini telah dapat dibuktikan, terkadang dengan guyon, kejujuran bakal terlihat. 
“Mbak pernah ke pasar tradisional tidak? ” tanyaku, buat ngeledek dia. 
“Pernah lah, Masak ibu rumah-tangga tidak pernah, ” jawabnya, bener juga walaupun profesi WP, tetaplah dia sebagai ibu rumah-tangga sekalian komandan rumah tangga (kan janda). 
“Pernah tidak saksikan pedagang yang tengah jualan bila belum laris, selalu bila dagangannya laris pertama kalinya, apa yang dia lakukan? ” tanyaku lagi. 
“Apa yah, yah senenglah, ” jawabnya. 
“Ya itu kan perasaannya, namun yang ditangani apa, ” cecarku. 
“Nggak tahu, ” jawabnya singkat. 
“Dia bakal memukulkan duit yang didapat ke semuanya barang dagangannya, ” jawabku. 
“Terus, ” tanyanya bingung. 
“Nah bila anda apa yang anda kerjakan, apa seperti pedagang tadi, memukulkan duit kesini, kesini, serta kesini, ” tanyaku sembari menunjuk vagina, payudara, serta mulutnya.Tahu bila kujebak, dia tersenyum lebar dengan memperlihatkan gigi indahnya serta terlihat lesung pipitnya. 
“Mas ini humoris, ” celetuknya. 
“Habisan anda menempatkan duit di saku sebagai pancingan seperti pedagang saja, ” ledekku. 
“Habis kata rekan-rekan gitu, yah apa kelirunya saya ikutin saja, ” jawabnya. 
“Tapi tidak apa-apa sih Mbak, saya pernah saksikan pramuniaga yang jualan minyak wangi serta pakaian di sarinah blok M juga demikian, tahu bila saya cermati, si Mbak pramuniaga hanya senyum, serta katakan – penglaris Pak. ” 
“Mas, saya ingin kencing dahulu yah? ” ijinnya. 
“Boleh, namun saya turut yah? ” tanyaku. 
“Boleh, ayo” jawabnya. 
Sembari membawa handuk serta sabun, kita keluar kamar. Waktu menuju ke kamar mandi, terlihat terdapat banyak WP serta tamu, mungkin saja bakal Masuk atau keluar, terdapat banyak WP yang menyapaku (wah terbongkar deh bohongku tadi). 
Sesudah Masuk ke kamar mandi serta tutup gorden plastik.. 
“Katanya belum pernah, koq Mbak Mxx, Mbak Ixx serta Mbak Exx, kenal si Mas” ucapnya dengan tenang serta pelan, dan melorotkan CD-nya, juga bagus dia negor tidak di depan tamu atau WP, meskipun WP Masihlah miliki norma. 
Untuk menutupi nada desis melengking air kencing yang keluar (seperti turbocharger-nya ferrari/mc larren) dia menyiram shower ke arah vaginanya. Yang bikin saya ajukan pertanyaan dalam hati, kenapa posisi kencing serta melorotkan CD-nya koq tak bertemu atau membelakangiku? Malu atau ada yang ditutupi? 
Sesudah usai kencing, CD-nya tak digunakan namun dijepit di ketiaknya? (wah bila gitu saya mesti hentikan kebiasaanku mencium ketiak, bila nyatanya kerap di buat njepit CD!!) 
“Mas, saya kan malu kencing koq di lihatin, ” tuturnya. 
“Yah telah usai, baru complain! ” jawabku. 
“Habis kebelet, Mas tidak kencing, ” ucapnya. 
“Iya deh sekalian diberisihin, ” jawabku, sembari melepas CP+CD serta kugantungkan di tembok, kemudian saya juga kencing, dia ngelihatin punyaku, yah lantaran lagi kencing yah lagi mengecil (walau sebenarnya telah saksikan vaginanya) 
Sesudah usai kencing, dia menyiram dengan air shower sembari mengatur ke dua kran supaya memperoleh air hangat, kemudian di beri sabun rudal serta sekitarnya terlihat rudalku alami pergantian volume akibat sentuhannya, busa sudah menutupi rudal beserta bulu lebatnya, lalu di ambil shower untuk menyirami rudalku serta.. 
“Aduh.. ” teriakku pelan. 
“Maaf Mas.. ” jawabnya sembari selekasnya mengarahkan pancuran air shower ke tembok serta memutar kran air panas. 
“Mbak bila tujuannya bersihkan kuman janganlah merontokkan buluku dong, memang punyaku seperti ayam potong, ingin dibubutin bulunya! ” tegurku. 
“Iya deh, air showenya kan panas sendiri, ” jawabnya. 
“Tapi dicoba dahulu dong di tangan janganlah segera tembak ke piranti lunakku, ” jawabku tidak mau kalah. 
“Iya deh, yuk ke kamar, ” rayunya. 
Nah bingung deh lupa bawa kimono, masak gunakan celana lagi, yah telah saya gunakan handuk plus pakaian, serta celana dia yang bawa, sesaat CD-nya tetaplah di ketiak?Sesudah Masuk kamar, saya selekasnya melepas pakaian serta tidur, koq dia belum datang, walau sebenarnya dia kan di belakangku tadi, tidak lama dia datang serta melepas kaosnya, terlihat payudara tanpa ada bra sekitaran 34 tanpa ada bra (betulkan my preview), lalu melepas roknya, oh iya lupa kan belum ada perjanjian, sebelumnya lebih jauh tambah baik kita bikin LOI dahulu sembari “bobo” berdua. 
“Kalau seperti di samping berapakah tarifnya? ” tanyaku. 
“Biasanya $150 ada pula yang ngasih $200, ” keluar deh harga penawaran tanpa ada potongan harga serta ppn+pbm+pph. 
“Kalau gunakan mulut berapakah? ” 
“$100” jawabnya singkat. 
“Kalau gunakan krim, ” tanyaku lagi. 
“$50, Mas wartawan yah, nanya mulu kapan mulainya, ” jawabnya. 
“Nggak gitu daripada kelak anda memprotes, bila gitu $150 itu 2 x dong, kan karetnya ada dua, ” ledekku. 
“Enak saja, yah tidak lah, bila nambah yah jadi $200, ” jawabnya. 
“Kalau gitu saya imbuhnya saja deh, kan Hanya $50 selisihnya, ” ledekku lagi. 
“Dasar, maunya yang murah, ” jawabnya. 
“Ya kan konsumen mencari yang enak serta murah, itu wajar Mbak.. ” jawabku. 
“Emangya saya apaan, ” jawabnya ketus, wah dapat emosi nih dia, mesti selekasnya dinetralisir. 
“Sorry, saya bercanda, ya telah saya ambillah yang $150 tidak main namun nambah.. ” 
“Koq demikian, ” jawabnya, sembari bibirnya agak monyong, saya tersenyum. 
“Kenapa ketawa, ” tanyanya. 
“Nggak anda seperti Leysus, ” jawabku. 
“Sial” sesudah LOI disetujui awalilah saya tidur miring, serta terdengar lagu India yang lagi popular, wah tidak sering lho PPT gunakan lagu India, bebrapa janganlah special order dari pengunjung. 
“Mbak tahu tidak judul lagu ini? ” tanyaku. 
“Kuch kuch hota hai” jawabnya. 
“Salah, yang benar kucek kucek kutange (k3) ” jawabku sembari ngucek payudaranya, sepintas kebayang muka penyanyinya 1D serta 1hraff, bila ngebayangin 1D kan bibirnya ada kumis tipisnya tuh, namun tidak menanggung bila showroom-nya berkumis lalu bengkelnya lebat, peluangnya yang besar yaitu bayangin bentuk/diameter mulut/bibirnya nah kurang lebih, tahu kan yang saya maksud. 
“Mas ini humoris, kalem, bisanyanya sukai main ‘keras’ yah? ” 
“Nggak juga, janganlah saksikan tampilan, dong” 
Sesudah jemu k3, 
“Mas hisap dong, saya cepat terangsang bila dihisap, ” perintahnya untuk mengisap payudaranya. 
“Nggak ah, ” jawabku. 
“Kenapa, buruk yah? ” tanyanya, wah bagaimana langkah jawabnya supaya dia tidak tersinggung. 
“Nggak saya masihlah kecilnya telah bosen, sepanjang tiga th., pagi-siang sore-malam, jadi yang lain saja, ” jawabku asal, buat yang kerap hisap “susu”, mungkin saja kecilnya minum susu formula, maka dari itu menginginkan cari info bagaimana sih rasa-rasanya hisap susu ASI. 
Lalu saya turun, kulihat bulu bawahnya seperti dicukur, disisakan sisi atas garis penalty serta panjang dan kasar, memiliki bentuk seperti rambut atasnya david tua atau don king. 
“Kenapa, koq dicukur? ” tanyaku. 
“Habis lebat banget, terkadang bila lagi main sukai turut masuk, khan jadi agak sakit”jawabnya, terlihat agak hitam di sekitaran sisi luar, kelihatannya tinggi freq ML-nya, dari bentuk lipsnya terlihat bila hari ini belum kemasukan rudal (berarti benar dia tak bohong dong) saya coba menguakkan ke-2 pahanya untuk lihat bentuk vaginanya lebih dalam, nyatanya benar dia telah pernah melahirkan, ada sisa jahitan halus pada vagina serta anus, serta terlihat didalam lubangnya banyak tonjolan daging kecil-kecil, kucoba memasukkan jariku, nyatanya masihlah kering, bermakna dia belum ON.Eh eh” erangnya. 
“Jangan akting, saya suka yang alami.. ” tegurku, dia diam, serta mulai me-massage buah dadanya sendiri (kelihatannya dia type DIAN ; DIapain Saja eNak), sembari lidahnya melet keluar masuk, saya cobalah me-Massage clitnya, dia mulai goyang perlahan-lahan, serta semakin lama semakin cepat, namun “wet-sensor”-ku menyampaikan masihlah “low”, saya cobalah meraba pantat sisi belakang, merasa ada permukaan yg tidak rata (sejenis kerak ; pantes tadi kencingnya tidak berani memunggungiku, takut terlihat kekurangannya) 
Semakin lama “wet-sensor” mulai ke posisi “med” namun vag-temp koq over-heat, wah tidak bener nih mesin, apa radiatornya bocor?, apa oli tidak naik?, wah baiknya kuhentikan (bila tidak meyakini atau tidak sreg, mendingan janganlah terusin), 
Sebab pada suhu serta lendir tidak sesuai sama bebrapa janganlah ada stoned-angelina, wah saya ingin scan, tidak bawa MC Afee, sangat terpaksa ctrl+alt+del. 
“Mbak saya telah tidak tahan nih, di oral saja, ingin tidak, ” sangat terpaksa gunakan jalan pintas, walau sebenarnya voltage rudalku belum siap luncur, namun daripada ‘contaminated” ‘mendingan dari pada’. 
Dia coba mengisap, waow, hisapannya hingga kempot, kuangkat rambutnya supaya saya bisa lihat kerjanya, matanya melihat ke atas (ke arahku) sembari selalu mengisap serta lidahnya bermain didalam mulutnya, lantaran bantal kutekuk jadi dua supaya kepalaku lebih tinggi, hingga tanganku mulai lakukan kuch kuch hota hai lagi. 
“Mas bila ingin keluar katakan yah! ” tuturnya, tujuannya jangan pernah dikeluarin di mulut. 
“Emang mengapa sih. Khan banyak proteinnya kata Dokter, ” kataku. 
“Iya namun bila hingga ketelan, kelak Mas tidak dapat ngelupain saya lho.. ” tuturnya, dapat saja dia menghindar, pantes banyak suami selingkuh (bhs halusnya nyeleweng, penghalusan orba) soalnya si istri tidak mau nelan sperma. 
“Ya telah bila ingin keluar kelak kuberi tahu, ” jawabku. 
Makin lama dia lelah juga, bagaimana tidak lelah, nungging, ngisap hingga kempot, selalu kepala naik turun, serta yang terutama, dia tahan nafas (asal janganlah lupa tidak nafas saja). 
“Konsentrasi dong Mas, ” keluhnya, wah saya jadi ingat taman lawang saja, sangat terpaksa saya konsentrasi, kasihan juga dia, keningnya telah mulai berkeringat. 
Serta tidak lama terdengar nada paha beradu di samping kamar dibarengi desahan, yang membuatku terheran-heran yaitu kecepatannya, “pak-pak-pak”, tempo-nya tidaklah sampai satu detik, hebat juga nih lelaki, serta lenguhan si wanita yang bakal meraih O, bila tidak salah tadi telah keluar, bermakna ini ronde keduanya, namun dengan kecepatan seperti itu, cukup tangguh juga latexnya. Cukup lama juga irama “pak-pak-pak”, membuatku lebih terangsang, serta.. 
“Pak, dilepaskan saja karetnya, ” pinta si WP (pada akhirnya saya tahu bila dia si Mbak Mxx, lantaran lenguhannya yang khas, telingaku peka juga yah dapat tahu WP cuma dengan lenguhannya, harusnya saya kerja di kapal selam, agar dapat tahu type kapal yang lain). 
Tidak berapakah lama, terdengar nada lenguhan hilang serta nada ‘pak’ juga hilang, serta saya juga tersadar bila saya juga ingin keluar. 
“Mbak saya ingin keluar, ” ujarku, dia selekasnya melepas dari mulutnya serta mengocoknya. 
“Udah Mbak agar saya saja, Mbak tidur terlentang saja, ” jawabku, dia ikuti apa yang saya suruh, saya buka lebar-lebar pahanya, serta terlihat vaginanya membuat huruf “O” serta merah seperti lampu lalu-lintas. 
“Mas Masukin dong, saya pingin banget nih, ” katanya 
Saya seakan-akan menginginkan memasukkan rudalku, sembari selalu kustimulasi, cocok telah dekat ke lubangnya (belum masuk), kutembakkan cairanku pas masuk kedalam vaginanya, lantaran dia lakukan gerakan kejut didalam vaginanya tidak lama keluarlah cairanku. 
Waktu dia bakal bangun, “Mbak janganlah bangun dahulu!! ” kataku, agar leleran cairanku menetes habis. Tidak lama dia bersihkan dengan sprei serta selekasnya menggunakan rok serta kaos selalu ke kamar mandi, saya juga selekasnya kenakan kimono serta mengikutinya dari belakang, sesudah bersihkan kita kembali pada kamar. 
“Katanya ingin nambah, ” bertanya si Mbak, lihat saya memakai pakaian serta menggunakan CD+CP, saya selekasnya menggunakannya lantaran tidak kuat dinginnya. 
“Lho siapa takut, kataku.. ” jawabku, sembari buka reitslenting celanaku, serta keluarkan rudal kecilku, sesaat dia duduk di kasur dengan rok mininya tanpa ada CD, lantaran duduk hingga roknya ketarik jadi tampaklah rambutnya David Tua/Don King, panorama yang cukup indah kelihatannya, terdengar lagi nada erangan dari kamar lain, wah terangsang lagi saya, dia selekasnya mengisap rudalku makin kuat mungkin saja 3 psi, pada akhirnya rubuh juga, dia yang hisap tetangga yang mengerang (cobalah banyangin sensasinya), sebelumnya keluar selekasnya kudorong dia untuk terlentang di kasur serta kubuka dengan cepat ke dua pahanya serta kusiram cairanu kedalam vaginanya yang telah membuat huruf “O” besar. 
“Yah, si Mas, telah dibersihin, dikotorin lagi, ” protesnya. 
“Ya telah, tinggal bersihkan lagi” rayuku. 
“Sebentar ya Mas, saya kamar mandi lagi, ” ijinnya. 
Kumasukkan rudalku yang mengkerut, tanpa ada kucuci (jorok yah, kan ada ludahnya WP, serta sedikit cairanku), kulihat di meja kecil ada rokok jarum super (pantes ngisapnya pinter/master sucker, bila master anal, yah Mbak Sxx, khan setiap orang miliki spesialisasi ; bila wanita-perokok belum pasti WP (wanita-penghisap), namun rata-rata semuanya WP yaitu perokok yang mahir). Hilang ingatan umumnya WP rokok putih, selekasnya kumasukkan $150 kedalam rokoknya, serta.. 
“Lho, koq tidak dicuci dahulu? ” tanyanya. 
“Udah buat kenang-kenangan, koq anda rokoknya gituan sih, umumnya wanitakan rokok putih, ” kataku. 
“Mau tahu, mengapa? ” tanyanya. 
“He eh! ” sahutku. 
“Yang Utama Rasa-rasanya Bung” ledeknya, dengan senyum manisnya. 
Oh pantes, dia latihan dari rokok yang berat (saya segera geleng-geleng), bukannya apa-apa, saya bukanlah perokok namun bila suruh ngisap clit/lidah sih tidak butuh jadi perokok! 
“Mbak terima kasih yah, ” selekasnya saya keluar kamar. 
“Mas, panduan-nya belum, ” rayunya sembari menempatkan telapak tangan dibagian belakang kepalaku. 
“Tuh di dalam rokokmu, ” jawabku sembari hindari ciuman (anda bisa sama WP gini, namun bila sama pasangan janganlah sekalai-kali, dapat kacau, apa pun argumennya). 
Saya selekasnya ke resepsionis serta ketemu sama Mbak Mxx (dia memberi senyum serta bertanya : kapan sama saya?) yang tadi “kerja” di kamar sebelahku dengan tamunya, hilang ingatan, ingin tahu ujud tamunya yang keluarkan bunyi “pak” berulang-kali, gunakan kaca mata plus tidak tipis, dengan rambut putih semuanya agak sedikit botak (AGUS = Agak GUndul Sedikit namun juga Anak Gajah Usia Satu tahun dengan kata lain besar bukanlah gendut, tolong dibedakan), bila ingin iseng sih saya ingin nanya jamu-nya apa Mbah?, Kita keduanya sama bayar serta keluar tanpa ada bicara, saya ke old beatles, dia ke old tiger (cocok deh sama orangnya) namun saya salut. 

Artikel Terkait

lantaran tidak kuat dinginnya Rintihan Janda Muda Cantik
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email