Rabu

Video Mesum Enaknya Perempuan Arab kumainkan putingnya dengan lidahku

Video Mesum Enaknya Perempuan Arab kumainkan putingnya dengan lidahku Saya mendapatkan pekerjaan ke suatu kota kabupaten di Lokasi Timur Indonesia. Ada suatu kesempatan project baru di sana. Saya pergi dengan seseorang Direktur. Sesudah berjumpa dengan beberapa petinggi yang berwenang serta mengungkapkan arah kehadiran kami, jadi Direktur itu pulang terlebih dulu karena masih tetap ada masalah lainnya di Jakarta. Tinggalah saya di sana mengatur semuanya perijinan sendirian saja. 

Video Mesum Enaknya Perempuan Arab kumainkan putingnya dengan lidahku




Hotel tempatku bermalam ialah suatu hotel yang tidaklah terlalu besar, tetapi bersih serta enak untuk tinggal. Letaknya agak sedikit di pinggir kota, sepi, aman, serta transport untuk kemana saja relatif gampang. Saya mendapatkan kamar dilantai 2 yang letaknya menghadap ke laut. Tiap-tiap sore sembari beristirahat sesudah sepanjang hari berputar dari satu lembaga ke lembaga yang lain saya duduk di teras sembari lihat laut. 





Beberapa karyawan hotel cukup akrab dengan penghuninya, mungkin saja karena jumlahnya kamarnya tidaklah terlalu banyak, seputar 32 kamar. Saya cukup akrab serta kerap duduk di lobby, bercakap dengan tamu lainnya atau karyawan hotel. Terkadang dengan 1/2 bercanda saya ditawari selimut hidup oleh karyawan hotel, dari mulai room boy hingga ke security. Mereka heran sepanjang hampir 3 minggu saya tidak sempat bawa serta wanita. Saya tersenyum saja, bukanlah tidak ingin gan, namun pikiranku masih tetap tersita ke tugas. 





Tidak merasa telah 3 minggu saya bermalam di hotel. Karena surat-surat yang dibutuhkan telah usai, saya dapat sedikit bernafas lega serta mulai mencari hiburan. Yang tadi malam saya kembali bisa rasakan kehangatan badan wanita sesudah bergumul sepanjang 2 ronde dengan seseorang gadis panggilan asal Manado. Saya mendapatkannya dari security hotel. Walau orangnya cantik serta putih, namun permainannya tidaklah terlalu istimewa karena barangnya sangat becek serta sudak kendor, namun lumayanlah buat kurangi sperma yang telah penuh. 





Dua hari lagi saya akan pulang. Transportasi di daerah ini memanglah sedikit susah. Untuk ke Jakarta saya mesti ke ibukota provinsi dahulu baru ubah pesawat ke Jakarta. Celakanya dari kota ini ke ibukota provinsi dalam 1 minggu cuma ada 4 penerbangan dengan twin otter yang kapasitasnya cuma 17 seat. Belum juga cadangan spesial buat petinggi Pemda yang mendadak mesti pergi. Saya yang telah booking seat mulai sejak satu minggu waktu lalu, nyatanya masih tetap masuk di cadangan nomer 5. 





Alternatifnya yaitu dengan menaiki kapal laut punya Pelni yang makan waktu sepanjang hari untuk hingga ibukota provinsi. Rencanaku bila tidak bisa seat pesawat sangat terpaksa naik kapal laut. 





Sore itu saya bercakap dengan security, yang menolong mencarikan wanita, sembari sekedar duduk di cafe hotel. Kami mengulas gadis Manado yang kutiduri yang tadi malam. Kubilang saya kurang senang dengan permainannya. 





Mendadak saja pandanganku tertuju pada wanita yang baru masuk ke cafe. Wanita itu terlihat bertubuh tinggi, mungkin saja 168 cm, badannya sintal serta dadanya membusung. Berwajah terlihat bukanlah muka Melayu, namun lebih serupa ke muka Timur Tengah. Security itu mengedipkan matanya ke arahku. 





” Ayah tertarik? Bila ini ditanggung oke, Arab mempunyai, ” tuturnya. 





Wanita yang tadi terasa bila tengah dibicarakan. Ia memandang mengarah kami serta mencibir mengarah security di sampingku. 





“Anis, sini dahulu. Kenalan sama Ayah ini, ” kata security itu. “Aku ingin ke karaoke dahulu, ” balas wanita yang tadi. Nyatanya namanya Anis. Anis jalan mengarah meja karaoke serta mulai pesan lagu. 





Ruang karaoke tidak terpisah dengan spesial, jadi bila yang menyanyi suaranya bagus lumayan buat hiburan sembari makan. Namun bila cocok nada penyanyinya berantakan, jadi nafsu makan dapat berantakan. Untuk karaoke tidak dipakai charge, cuma adalah service cafe untuk tamu yang makan di sana. 





“Dekatin saja Pak, temani dia nyanyi sembari kenalan. Siapa tahu pas serta jadi, ” kata security yang tadi kepadaku. Saya jalan serta duduk didekat Anis. Kuulurkan tanganku, “Boleh berteman? Namaku Jokaw”. “Anis, ” jawabnya singkat serta kembali melanjutkan lagunya. Suaranya tidak bagus hanya lumayan saja. Cukup penuhi standar bila ada pertunjukan di kampung.


Beberapa lagu telah dinyanyikan. dari lagu dan logat yang dinyanyikan wanita ini agaknya tinggal di Manado atau Sulawesi Utara. Dia mengambil gelas minumannya dan menyerahkan mike ke tamu cafe di dekatnya.


“Sendirian saja nona atau …,” kataku mengawali pembicaraan.“Panggil saja namaku, A…N…I…S, Anis,” katanya.


kami mulai terlibat pembicaraan yang cukup akrab. Anis berasal dari Gorontalo. Ia memang berdarah Arab. Menurutnya banyak keturunan Arab di Gorontalo. Kuamati lebih teliti wanita di sampingku ini. Hidungnya mancung khas Timur Tengah, kulitnya putih, rambutnya hitam tebal, bentuk badannya sintal dan kencang dengan payudaranya terlihat dari samping membusung padat.


Kutawarkan untuk mengobrol di kamarku saja. Lebih dingin, karena ber-AC, dan lebih rileks serta privacy terjaga. Ia menurut saja. kami masuk ke dalam kamar. Security tadi kulihat mengangkat kedua jempolnya kearahku. Di dalam kamar, kami duduk berdampingan di karpet dengan menyandar ke ranjang sambil nonton TV. Anis masuk ke kamar mandi dan sebentar kemudian sudah keluar lagi.


Kami melanjutkan obrolan. Ternyata Anis seorang janda gantung, suaminya yang seorang pengusaha, keturunan Arab juga, sudah 2 tahun meninggalkannya namun Anis tidak diceraikan. ia sedang mencoba membuka usaha kerajinan rotan dari Sulawesi yang dipasarkan disini. Dikta ini dia tinggal bersama familinya. Ia main ke hotel, karena dulu juga pernah tinggal di hotel ini seminggu dan akrab dengan koki wanita yang bekerja di cafe. dari tadi siang koki tersebut sedang keluar, berbelanja kebutuhan cafe.


Kulingkarkan tangan kiriku ke bahu kirinya. Ia sedikit menggerinjal namun tidak ada tanda-tanda penolakan. aku semakin berani dan mulai meremas bahunya dan perlahan-lahan tangan kiriku menuju kedadanya. Sebelum tangan kiriku sampai di dadanya, ia menatapku dan bertanya, “Mau apa kamu, Jokaw ?” Sebuah pertanyaan yang tidak perlu dijawab.


Kupegang dagunya dengan tangan kananku dan kudekatkan mukanya ke mukaku. Perlahan kucium bibirnya. Ia diam saja. Kucium lagi namun ia belum juga membalas ciumanku.


“Ayolah Anis, 2 tahun tentulah waktu yang cukup panjang bagimu. Selama ini tentulah kamu merindukan kehangatan dekapan seorang laki-laki,” kataku mulai merayunya.


Kuhembuskan napasku ke dekat telinganya. Bibirku mulai menyapu leher dan belakang telinganya.


“Akhh, tidak.. Jangan..,” rintihnya.“Ayolah Nis, mungkin punyaku tidak sebesar punya suami Arab-mu itu, namun aku bisa membantu menuntaskan gairahmu yang terpendam”.


Ia menyerah, pandangan matanya meredup. Kucium lagi bibirnya, kali ini mulai ada perlawanan balasan dari bibirnya. tanganku segera meremas dadanya yang besar, namun sudah sedikit turun. Ia mendesah dan membalas ciumanku dengan berapi-api. Tangannya meremas kejantananku yang masih terbungkus celana.


Kududukan ia ditepi ranjang. Aku berdiri didepannya. tangannya mulai membuka ikatan pinggang dan ritsluiting celanaku, kemudian menyusup ke balik celana dalamku. Dikeluarkannya kejantananku yang mulai menegang. Dibukanya celanaku seluruhnya hingga bagian bawah tubuhku sudah dalam keadaan polos.


Mulutnya kemudian menciumi kejantananku, sementara tangannya memegang pinggangku dan mengusap kantung zakarku. Lama kelamaan ciumannya berubah menjadi jilatan dan isapan kuat pada kejantananku. Kini ia mengocok kejantananku dengan mengulum kejantananku dan menggerakan mulutnya maju mundur. Aliran kenikmatan segera saja menjalari seluruh tubuhku. Tangannya menyusup ke bajuku dan memainkan putingku. Kubuka kancing bajuku agar tangannya mudah beraksi di dadaku. Kuremas rambutnya dan pantatkupun bergerak maju mundur menyesuaikan dengan gerakan mulutnya.


Aku tak mau menumpahkan sperma dalam posisi ini. Kuangkat tubuhnya dan kini dia dalam posisi berdiri sementara aku duduk di tepi ranjang. Tanpa kesulitan segera saja kubuka celana panjang dan celana dalamnya. Rambut kemaluannya agak jarang dan berwarna kemerahan. Kemaluannya terlihat sangat menonjol di sela pahanya, seperti sampan yang dibalikkan. Ia membuka kausnya sehingga sekarang tinggal memakai bra berwarna biru.


Kujilati tubuhnya mulai dari lutut, paha sampai ke lipatan pahanya. Sesekali kusapukan bibirku di bibir vaginanya. Lubang vaginanya terasa sempit ketika lidahku mulai masuk ke dalam vaginanya. Ia merintih, kepalanya mendongak, tangannya yang sebelah menekan kepalaku sementara tangan satunya meremas rambutnya sendiri. Kumasukan jari tengahku ke dalam lubang vaginanya, sementara lidahku menyerang klitorisnya. Ia memekik perlahan dan kedua tangannya meremas payudaranya sendiri. Tubuhnya melengkung ke belakang menahan kenikmatan yang kuberikan. Ia merapatkan selangkangannya ke kepakalu. Kulepaskan bajuku dan kulempar begitu saja ke lantai.


Akhirnya ia mendorongku sehingga aku terlentang di ranjang dengan kaki masih menjuntai di lantai. Ia berjongkok dan, “Sllruup..”. Kembali ia menjilat dan mencium penisku beberapa saat. Ia naik keatas ranjang dan duduk diatas dadaku menghadapkan vaginanya di mulutku. Tangannya menarik kepalaku meminta aku agar menjilat vaginanya dalam posisi demikian.


Kuangkat kepalaku dan segera lidahku menyeruak masuk ke dalam liang vaginanya. Tanganku memegang erat pinggulnya untuk membantu menahan kepalaku. Ia menggerakan pantatnya memutar dan maju mundur untuk mengimbangi serangan lidahku. Gerakannya semakin liar ketika lidahku dengan intens menjilat dan menekan klitorisnya. Ia melengkungkan tubuhnya sehingga bagian kemaluannya semakin menonjol. tangannya kebelakang diletakan di pahaku untuk menahan berat tubuhnya.


Ia bergerak kesamping dan menarikku sehingga aku menindihnya. Kubuka bra-nya dan segera kuterkam gundukan gunung kembar di dadanya. Putingnya yang keras kukulum dan kujilati. Kadang kumisku kugesekan pada ujung putingnya. Mendapat serangan demikian ia merintih “Jokaw, ayo kita lakukan permainan ini, Masukan sekarang..”.


Tangannya menggenggam erat penisku dan mengarahkan ke lubang vaginanya. Beberapa kali kucoba untuk memasukannya tetapi sangat sulit. Sebenarnya sejak kujilati sedari tadi kurasakan vaginanya sudah basah oleh lendirnya dan ludahku, namun kini ketika aku mencoba untuk melakukan penetrasi kurasakan sulit sekali. Penisku sudah mulai mengendor lagi karena sudah beberapa kali belum juga menembus vaginanya. Aku ingat ada kondom di laci meja, masih tersisa 1 setelah 2 lagi aku pakai tadi malam, barangkali dengan memanfaatkan permukaan kondom yang licin lebih mudah melakukan penetrasi. namun aku ragu untuk mengambilnya, Anis kelihatan sudah di puncak nafsunya dan ia tidak memberikan sinyal untuk memakai kondom.


Kukocokkan penisku sebentar untuk mengencangkannya. Kubuka pahanya selebar-lebarnya. Kuarahkan penisku kembali ke liang vaginanya.


“Jokaw.. Kencangkan dan cepat masukkan,” rintihnya.


Kepala penisku sudah melewati bibir vaginanya. Kudorong sangat pelan. Vaginanya sangat sempit. Entah apa yang menyebabkannya, padahal ia sudah punya anak dan menurut ceritanya penis suaminya satu setengah kali lebih besar dari penisku. Aku berpikir bagaimana caranya agar penis suaminya bisa menembus vaginanya.


Penisku kumaju mundurkan dengan perlahan untuk membuka jalan nikmat ini. Beberapa kali kemudian penisku seluruhnya sudah menembus lorong vaginanya. Aku merasa dengan kondisi vaginanya yang sangat sempit maka dalam ronde pertama ini aku akan kalah kalau aku mengambil posisi di atas. Mungkin kalau ronde kedua aku dapat bertahan lebih lama. Akan kuambil cara lain agar aku tidak jebol duluan.


Kugulingkan badannya dan kubiarkan dia menindihku. Anis bergerak naik turun menimba kenikmatannya. Aku mengimbanginya tanpa mengencangkan ototku, hanya sesekali kuberikan kontraksi sekedar bertahan saja supaya penisku tidak mengecil.


Anis merebahkan tubuhnya, merapat didadaku. Kukulum payudaranya dengan keras dan kumainkan putingnya dengan lidahku. Ia mendengus-dengus dan bergerak liar untuk merasakan kenikmatan. Gerakannya menjadi kombinasi naik turun, berputar dan maju mundur. Luar biasa vagina wanita Arab ini, dalam kondisi aku dibawahpun aku harus berjuang keras agar tidak kalah. Untuk mempertahankan diri kubuat agar pikiranku menjadi rileks dan tidak berfokus pada permainan ini.


15 menit sudah berlalu sejak penetrasi. Agaknya Anis sudah ingin mengakhiri babak pertama ini. Ia memandangku, kemudian mencium leher dan telingaku.


“Ouhh.. jokaw, kamu luar biasa. Dulu dalam ronde pertama biasanya suamiku akan kalah, namun kami masih bertahan. Yeesshh.. Tahan dulu, sebentar lagi.. Aku..”.


Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Aku tahu kini saatnya beraksi. Kukencangkan otot penisku dan gerakan tubuh Anispun semakin liar. Akupun mengimbangi dengan genjotan penisku dari bawah. Ketika ia bergerak naik, pantatku kuturunkan dan ketika ia menekan pantatnya ke bawah akupun menyambutnya dengan mengangkat pantatku.


Kepalanya bergerak kesana kemari. Rambutnya yang hitam lebat acak-acakan. sprei sudah terlepas dan tergulung di sudut ranjang. bantal di atas ranjang semuanya sudah jatuh ke lantai. Keadaan diatas ranjang seperti kapal yang pecah dihempas badai. Ranjangpun ikut bergoyang mengikutu gerakan kami. Suaranya berderak-derak seakan hendak patah. Akupun semakin mempercepat genjotanku dari bawah agar iapun segera berlabuh di dermaga kenikmatan.


Semenit kemudian..


“Aaggkkhh.. Nikmat.. Ouhh.. Yeahh,” Anis memekik.


Punggungnya melengkung ke atas, mulutnya menggigit putingku. Kurasakan aliran kenikmatan mendesak lubang penisku. Aku tidak tahan lagi. Ketika pantatnya menekan ke bawah, kupeluk pinggangnya dan kuangkat pantatku.


“Ouhh.. An.. Nis. Aku tidak tahan lagi.. Aku sampaiihh!”


Ia memberontak dari pelukanku sampai peganganku pada pinggulnya terlepas. pantatnya naik dan segera diturunkan lagi dengan cepat.


“Jokaw.. Ouhh Jokaw.. Aku juga..”.


Kakinya mengunci kakiku dan badannya mengejang kuat. dengan kaki saling mengait aku menahan gerak tubuhnya yang mengejang. Giginya menggigit lenganku sampai terasa sakit. Denyutan dari dinding vaginanya saling berbalasan dengan denyutan dipenisku. Beberapa detik kemudian, kami masih merasakan sisa-sisa kenikmatan. ketika sisa-sisa denyutan masih terjadi badannya menggetar. Ia berbaring diatas dadaku sampai akhirnya penisku mulai mengecil dan terlepas dengan sendirinya dari vaginanya. Sebagian sperma mengalir keluar dari vaginanya di atas perutku. Anis berguling ke samping setelah menarik napas panjang.


“Luar biasa kamu Kaw. Suamiku tidak pernah menang dalam ronde pertama, memang dalam berhubungan ia sering mengambil posisi di atas. tapi kami sanggup membawaku terbang ke angkasa,” katanya sambil mengelus dadaku.“Akupun rasanya hampir tidak sanggup menandingimu. Mungkin sebagian besar laki-laki akan menyerah di atas ranjang kalau harus bermain denganmu. Milikmu benar-benar sempit,” kataku balas memujinya.


Memang kalau tadi aku harus bermain diatas, rasanya tak sampai sepuluh menit aku pasti sudah KO. Makanya, jangan cuma penetrasi terus main genjot saja, teknik bro!


“Kamu orang Melayu pribumi, tapi kok bulunya banyak gini. Keturunan India atau mungkin Arab ya?”“Nggak ah, asli Indonesia lho..”.


Ia masih terus memujiku beberapa kali lagi. Kuajak ia mandi bersama dan setelah itu kami duduk di teras sambil minum soft drink dan melihat laut. Aku hanya mengenakan celana pendek tanpa celana dalam dam kaus tanpa lengan. Ia mengenakan kemejaku, sementara bagian bawah tubuhnya hanya ditutup dengan selimut yang dililitkan tanpa mengenakan pakaian dalam.


Ia duduk membelakangiku. Tubuhnya disandarkan di bahuku. Mulutku sesekali mencium rambut dan belakang telinganya. Kadang mulutnya mencari mulutku dan kusambut dengan ciuman ringan. Tangan kanannya melingkar di kepalaku.


“Kamu nggak takut hamil melakukan hal ini denganku?”tanyaku.“Aku dulu pernah kerja di apotik, jadi aku tahu pasti cara mengatasinya. Aku selalu siap sedia, siapa tahu terjadi hal yang diinginkan seperti sore ini. Aku sudah makan obat waktu masuk ke kamar mandi tadi. Tenang saja, toh kalaupun hamil bukan kamu yang menanggung akibatnya.” katanya enteng.


Jadi ia selalu membawa obat anti hamil. Untung saja aku tadi tidak berlaku konyol dengan memakai kondom. Mungkin saja sejak ditinggal suaminya ia sudah beberapa kali bercinta dengan laki-laki. Tapi apa urusanku, aku sendiri juga melakukannya. yang penting malam ini ia menjadi teman tidurku.


Matahari sudah jauh condong ke Barat, sehingga tidak terasa panas. hampir sejam kami duduk menikmati sunset. Gairahku mulai timbul lagi. Kubuka dua kancing teratas bajunya. Kurapatkan kejantananku yang sudah mulai ingin bermain lagi ke pinggangnya. Kususupkan tanganku kebalik bajunya dan kuremas dadanya.


“Hmmhh..,” ia bergumam.“Masuk yuk, sudah mulai gelap. Anginnya juga mulai kencang dan dingin,” kataku.


Kamipun masuk ke dalam kamar sambil berpelukan. Sekilas kulihat tatapan iri dan kagum dari tamu hotel di kamar yang berseberangan dengan kamarku.


“I want more, honey!” kataku.


kami bersama-sama merapikan sprei dan bantal yang berhamburan akibat pertempuran babak pertama tadi. Kubuka bajunya dan kutarik selimut yang menutup bagian bawah tubuhnya. Kurebahkan Anis di ranjang. Kubuka kausku dan aku berdiri di sisi ranjang di dekat kepalanya.


Anis mengerti maksudku. Didekatkan kepalanya ke tubuhku dan ditariknya celana pendekku. Sebentar kemudian mulut dan lidahnya sudah beraksi dengan lincahnya di selangkanganku. Aku mengusap-usap tubuhnya mulai dari bahu, dada sampai ke pinggulnya. Peniskupun tak lama sudah menegang dan keras, siap untuk kembali mendayung sampan.


Lima menit ia beraksi. Setelah itu kutarik kepalanya dan kuposisikan kakinya menjuntai ke lantai. Kubuka mini bar dan kuambil beberapa potong es batu di dalam gelas. Kujepit es batu tadi dengan bibirku dan aku berjongkok di depan kakinya. Kurenggangkan kedua kakinya lalu dengan jariku bibir vaginanya kubuka. Bibirku segera menyorongkan es batu ke dalam vaginanya yang merah merekah. Ia terkejut merasakan perlakuanku. Kaki dan badannya sedikit meronta, namun kutahan dengan tanganku.


“Ouhh.. Jokaw.. Kamu.. Gila.. Gila.. Jangan.. Cukup Kaw!” ia berteriak.


Aku tidak menghiraukan teriakannya dan terus melanjutkan aksiku. Rupanya sensasi dingin dari es batu di dalam vaginanya membuatnya sangat terangsang. Kujilati air dari es batu yang mencair dan mulai bercampur dengan lendir vaginanya.


“Jokaw.. Maniak kamu..,” ia masih terus memekik setiap kali potongan es batu kutempelkan ke bagian dalam bibir vagina dan klitorisnya.


Kadang es batu kupegang dengan jariku menggantikan bibirku yang tetap menjilati seluruh bagian vaginanya. Kakinya masih meronta, namun ia sendiri mulai menikmati aksiku. Kulihat ke atas ia menggigit ujung bantal dengan kuat untuk menahan perasaannya.


Akhirnya semua potongan es batu yang kuambil habis. Aku masih meneruskan stimulasi dengan cara cunilingus ini. Meskipun untuk ronde kedua aku yakin bisa bertahan lebih lama, namun untuk berjaga-jaga akan kuransang dia sampai mendekati puncaknya. yang pasti aku tak mau kalah ketika bermain dengannya. Kurang lebih sepuluh menit aku melakukannya.


Ia terhentak dan mengejang sesaat ketika klitorisnya kugaruk dan kemudian kujepit dengan jariku. Kulepas dan kujepit lagi. Ia merengek-rengek agar aku menghentikan aksiku dan segera melakukan penetrasi, namun aku masih ingin menikmati dan memberikan foreplay dalam waktu yang agak lama. Beberapa saat aku masih dalam posisi itu. tangan kanannya memegang kepalaku dan menekannya ke celah pahanya. Tangan kirinya meremas-remas payudaranya sendiri.


Aku duduk di dadanya. Kini ia yang membrikan kenikmatan pada penisku melalui lidah dan mulutnya. Dikulumnya penisku dalam-dalam dan diisapnya lembut. Giginya juga ikut memberikan tekanan pada batang penisku. Dilepaskannya penisku dan kini dijepitnya dengan kedua payudaranya sambil diremas-remas dengan gundukan kedua dagingnya itu. Kugerakkan pinggulku maju mundur sehingga peniskupun bergesekan dengan kulit kedua payudaranya.


Kuubah posisiku dengan menindihnya berhadapan, kemudian mulutku bermain disekitar payudaranya. Anis kelihatan tidak sabar lagi dan dengan sebuah gerakan tangannya sudah memegang dan mengocok penisku dengan menggesekannya pada bibir vaginanya. Tanganku mengusap gundukan payudaranya dan meremas dengan pelan dan hati-hati. Ia menggelinjang. Mulutku menyusuri leher dan bahunya kemudian bibirnya yang sudah setengah terbuka segera menyambut bibirku. kami segera berciuman dengan ganas sampai terengah-engah. Penisku yang sudah mengeras mulai mencari sasarannya.


Kuremas pantatnya yang padat dan kuangkat pantatku.


“Jokaw.. Ayo.. Masukk.. Kan!”


Tangannya menggenggam penisku dan mengarahkan ke dalam guanya yang sudah basah. Aku mengikuti saja. Kali ini ia yang mengambil inisiatif untuk membuka lebar-lebar kedua kakinya. Dengan perlahan dan hati-hati kucoba memasukan penisku kedalam liang vaginanya. Masih sulit juga untuk menembus bibir vaginanya. tangannya kemudian membuka bibir vaginanya dan dengan bantuan tanganku maka kuarahkan penisku ke vaginanya.


Begitu melewati bibir vaginanya, maka kurasakan lagi sebuah lorong yang sempit. Perlahan-lahan dengan gerakan maju mundur dan memutar maka beberapa saat kemudian penisku sudah menerobos kedalam liang vaginanya.


Aku bergerak naik turun dengan perlahan sambil menunggu agar pelumasan pada vaginanya lebih banyak. Ketika kurasakan vaginanya sudah lebih licin, maka kutingkatkan tempo gerakanku. Anis masih bergerak pelan, bahkan cenderung diam dan menungguku untuk melanjutkan serangan berikutnya.


Kupercepat gerakanku dan Anis bergerak melawan arah gerakanku untuk menghasilkan sensasi kenikmatan. Aku menurunkan irama permainan. Kini ia yang bergerak liar. Tangannya memeluk leherku dan bibirnya melumat bibirku dengan ganas. Aku memeluk punggungnya kemudian mengencangkan penisku dan menggenjotnya lagi dengan cepat.


Kubisikkan untuk berganti posisi menjadi doggy style. Ia mendorong tubuhku agar dapat berbaring tengkurap. Pantatnya dinaikkan sedikit dan tangannya terjulur kebelakang menggenggam penisku dan segera menyusupkannya kedalam vaginanya. Kugenjot lagi vaginanya dengan menggerakkan pantatku maju mundur dan berputar. Kurebahkan badanku di atasnya. kami berciuman dengan posisi sama-sama tengkurap, sementara kemaluan kami masih terus bertaut dan melakukan aksi kegiatannya.


Aku menusuk vaginanya dengan gerakan cepat berulang kali. Iapun mendesah sambil meremas sprei. Aku berdiri di atas lututku dan kutarik pinggangnya. Kini ia berada dalam posisi nungging dengan pantat yang disorongkan ke kemaluanku. Setelah hampir sepuluh menit permainan kami yang kedua ini, Anis semakin keras berteriak dan sebentar-bentar mengejang. Vaginanya terasa semakin lembab dan hangat. Kuhentikan genjotanku dan kucabut penisku.


Anis berbalik terlentang dan sebentar kemudian aku naik ke atas tubuhnya dan kembali menggenjot vaginanya. Kusedot putingnya dan kugigit bahunya. Kutarik rambutnya sampai mendongak dan segera kujelajahi daerah sekitar leher sampai telinganya. Ia semakin mendesah dan mengerang dengan keras. Ketika ia mengerang cukup keras, maka segera kututup bibirnya dengan bibirku. Ia menyambut bibirku dengan ciuman yang panas. Lidahnya menyusup ke mulutku dan menggelitik langit-langit mulutku. Aku menyedot lidahnya dengan satu sedotan kuat, melepaskannya dan kini lidahku yang masuk ke dalam rongga mulutnya.


kami berguling sampai Anis berada di atasku. Anis menekankan pantatnya dan peniskupun semakin dalam masuk ke lorong kenikmatannya.


“Ouhh.. Anis,” desahku setengah berteriak.Anis bergerak naik turun dan memutar. Perlahan-lahan kugerakkan pinggulku. Karena gerakan memutar dari pinggulnya, maka penisku seperti disedot sebuah pusaran. Anis mulai mempercepat gerakannya, dan kusambut dengan irama yang sama. Kini ia yang menarik rambutku sampai kepalaku mendongak dan segera mencium dan menjilati leherku. Hidungnya yang mancung khas Timur Tengah kadang digesekkannya di leherku memberikan suatu sensasi tersendiri.


Anis bergerak sehingga kaki kami saling menjepit. kaki kirinya kujepit dengan kakiku dan demikian juga kaki kiriku dijepit dengan kedua kakinya. dalam posisi ini ditambah dengan gerakan pantatnya terasa nikmat sekali. Kepalanya direbahkan didadaku dan bibirnya mengecup putingku.


Kuangkat kepalanya, kucium dan kuremas buah dadanya yang menggantung. Setelah kujilati dan kukecup lehernya kulepaskan tarikan pada rambutnya dan kepalanya turun kembali kemudian bibirnya mencari-cari bibirku. Kusambut mulutnya dengan satu ciuman yang dalam dan lama.


Anis kemudian mengatur gerakannya dengan irama lamban dan cepat berselang-seling. Pantatnya diturunkan sampai menekan pahaku sehingga penisku masuk terbenam dalam-dalam menyentuh rahimnya.


kakinya bergerak agar lepas dari jepitanku dan kini kedua kakiku dijepit dengan kedua kakinya. Anis menegakkan tubuhnya sehingga ia dalam posisi duduk setengah jongkok di atas selangkanganku. Ia kemudian menggerakan pantatnya maju mundur sambil menekan kebawah sehingga penisku tertelan dan bergerak ke arah perutku. Rasanya seperti diurut dan dijepit sebuah benda yang lembut namun kuat. Semakin lama semakin cepat ia menggerakkan pantatnya, namun tidak menghentak-hentak. darah yang mengalir ke penisku kurasakan semakin cepat dan mulai ada aliran yang merambat disekujur tubuhku.


“Ouhh.. Sshh.. Akhh!” Desisannyapun semakin sering. Aku tahu sekarang bahwa iapun akan segera mengakhiri pertarungan ini dan menggapai puncak kenikmatan.“Tahan Nis, turunkan tempo.. Aku masih lama lagi ingin merasakan nikmatnya bercinta denganmu”.


Aku menggeserkan tubuhku ke atas sehingga kepalaku menggantung di bibir ranjang. Ia segera mengecup dan menciumi leherku. Tak ketinggalan hidungnya kembali ikut berperan menggesek kulit leherku. Aku sangat suka sekali ketika hidungnya bersentuhan dengan kulit leherku.


“Jokaw.. Ouhh.. Aku tidak tahan lagi!” ia mendesah. Kugelengkan kepalaku memberi isyarat untuk bertahan sebentar lagi.


Aku bangkit dan duduk memangku Anis. Penisku kukeraskan dengan menahan napas dan mengencangkan otot PC. Ia semakin cepat menggerakkan pantatnya maju mundur sementara bibirnya ganas melumat bibirku dan tangannya memeluk leherku. Tanganku memeluk pinggangnya dan membantu mempercepat gerakan maju mundurnya. Dilepaskan tangannya dari leherku dan tubuhnya direbahkan ke belakang. Kini aku yang harus bergerak aktif.


Kulipat kedua lututku dan kutahan tubuhnya di bawah pinggangnya. Gerakanku kuatur dengan irama cepat namun penisku hanya setengahnya saja yang masuk sampai beberapa hitungan dan kemudian sesekali kutusukkan penisku sampai mentok. Ia merintih-rintih, namun karena posisi tubuhnya ia tidak dapat bergerak dengan bebas. Kini aku sepenuhnya yang mengendalikan permainan, ia hanya dapat pasrah dan menikmati.


Kutarik tubuhnya dan kembali kurebahkan tubuhnya ke atas tubuhku, matanya melotot dan bola matanya memutih. Giginya menggigit bahuku. Kugulingkan tubuhku, kini aku berada diatasnya kembali.


Kuangkat kaki kanannya ke atas bahu kiriku. Kutarik badannya sehingga selangkangannya dalam posisi menggantung merapat ke tubuhku. Kaki kirinya kujepit di bawah ketiak kananku. Dengan posisi duduk melipat lutut aku menggenjotnya dengan perlahan beberapa kali dan kemudian kuhentakkan dengan keras. Iapun berteriak dengan keras setiap aku menggenjotnya dengan keras dan cepat. Kepalanya bergerak-gerak dan matanya seperti mau menangis. Kukembalikan kakinya pada posisi semula.


Aku masih ingin memperpanjang permainan untuk satu posisi lagi.


kakiku keluar dari jepitannya dan ganti kujepit kedua kakinya dengan kakiku. Vaginanya semakin terasa keras menjepit penisku. Aku bergerak naik turun dengan perlahan untuk mengulur waktu. Anis kelihatan sudah tidak sabar lagi. Matanya terpejam dengan mulut setengah terbuka yang terus merintih dan mengerang. Gerakan naik turunku kupercepat dan semakin lama semakin cepat.


Kini kurasakan desakan kuat yang akan segera menjebol keluar lewat lubang penisku. Kukira sudah lebih dari setengah jam lamanya kami bergumul. Akupun sudah puas dengan berbagai posisi dan variasi. Keringatku sudah berbaur dengan keringatnya.


Kurapatkan tubuhku di atas tubuhnya, kulepaskan jepitan kakiku. Betisnya kini menjepit pinggangku dengan kuat. Kubisikan, “OK baby, kini saatnya..”.


Ia memekik kecil ketika pantatku menekan kuat ke bawah. Dinding vaginanya berdenyut kuat menghisap penisku. Ia menyambut gerakan pantatku dengan menaikan pinggulnya. Bibirnya menciumku dengan ciuman ganas dan kemudian sebuah gigitan hinggap pada bahuku.


Satu aliran yang sangat kuat sudah sampai di ujung lubang penisku. Kutahan tekanan penisku ke dalam vaginanya. Gelombang-gelombang kenikmatan terwujud lewat denyutan dalam vaginanya bergantian dengan denyutan pada penisku seakan-akan saling meremas dan balas mendesak.


Denyut demi denyutan, teriakan demi teriakan dan akhirnya kami bersama-sama sampai ke puncak sesaat kemudian setelah mengeluarkan teriakan keras dan panjang.


“Anis.. Ouhh.. Yeaahh!!”“Ahhkk.. Lakukan Jokaw.. Sekarang!!”


Akhirnya aliran yang tertahan sejak tadipun memancar dengan deras di dalam vaginanya. Kutekan penisku semakin dalam di vaginanya. Tubuhnya mengejang dan pantatnya naik. Ia mempererat jepitan kakinya dan pelukan tangannya. Kupeluk tubuhnya erat-erat dan tangannya menekan kepalaku di atas dadanya. Ketika dinding vaginanya berdenyut, maka kubalas dengan gerakan otot PC-ku. Iapun kembali mengejang dan bergetar setiap otot PC-ku kugerakkan.


Napas dan kata-kata penuh kenikmatan terdengar putus-putus, dan dengan sebuah tarikan napas panjang aku terkulai lemas di atas tubuhnya. kami masih saling mengecup bibir dan keadaan kamarpun menjadi sunyi, tidak ada suara yang terdebgar. hanya ada napas yang panjang tersengal-sengal yang berangsur-angsur berubah menjadi teratur.


Lima belas menit kemudian kami berdua sudah bermain dengan busa sabun di kamar mandi. Kami saling menyabuni dengan sesekali melakukan cumbuan ringan. Setelah mandi barulah kami merasa lapar setelah dua ronde kami lalui. Sambil makan Anis menelpon familinya, kalau malam ini ia tidak pulang dengan alasan menginap di rumah temannya. Tentu saja ia tidak bilang kalau temannya adalah seorang laki-laki bernama Jokaw.


Malam itu dan malam berikutnya tentu saja tidak kami lewatkan dengan sia-sia. Mandi keringat, mandi kucing, mandi basah dan tentunya mandi kenikmatan menjadi acara kami berdua.


Esoknya setelah mengecek ke agen Merpati ternyata aku masih mendapat seat penerbangan ke kota propinsi, seat terakhir lagi. Ketika chek out dari hotel kusisipkan selembar dua puluh ribuan ke tangan security temanku. Ia tersenyum.


“Terima kasih Pak,” katanya sambil menyambut tasku dan membawakan ke mobil.“Kapan kesini lagi, Pak? kalau Anis nggak ada, nanti akan saya carikan Anis yang lainnya lagi,” bisiknya ketika sudah berangkat ke bandara.


Anis mengantarku sampai ke bandara dan sebelum turun dari mobil kuberikan kecupan mesra di bibirnya. Sopir mobil hotel hanya tersenyum melihat tingkah kami.


Setahun kemudian aku kembali lagi ke kota itu dan ternya Anis tidak berada di kota itu lagi. Ketika kutelpon ke nomor yang diberikannya, penerima telepon menyatakan tidak tahu dimana sekarang Anis berada. Dengan bantuan security temanku maka aku mendapatkan perempuan lainnya, orang Jawa Tinur. Lumayan, meskipun kenikmatan yang diberikannya masih di bawah Anis

Seks Janda Yuli telah mengocok penisku tiga Lawan Satu


Seks Janda Yuli telah mengocok penisku tiga Lawan Satu Namun saya mesti pergi kerja, sesudah peristiwa itu saya masih tetap kerap bermain dengan mereka terkadang saya bermain cuma berdua, terkadang berempat, terkadang bertiga, terkadang juga segera berlima. Namun hampir telah satu bulan ini, saya tidak paham kemana mereka serta tidak sempat ketemu lagi bahkan juga waktu saya ke kontrakannya nyatanya dia telah geser tak tahu kemana serta saya hubungin melalui HP tidak sempat aktif, saya merindukan waktu itu. 





Untuk tante atau rekan wanita yang lain yang ingin rasakan layananku serta yang tentu servis sangatlah memuaskan selekasnya hubungi melalui e-mail. Tentu saya balas secepat-cepatnya, serta terima kasih atas ditayangkannya ceritaku yang kemarin. 




Yanti, sebut saja demikian, telah tiga minggu kami sama-sama share keperluan biologis. Yanti ialah wanita berumur 25 th. dengan tinggi 160 cm, serta dengan dada yang sangat besar 36B ukurannya, kulit putih, dengan muka serupa wanita bangsawan. 





Jalinan kami bermula pada suatu pesta pertunangan rekanan usaha saya, saya kenalan dengannya serta jadi akrab dengannya bahkan juga saya tawarkan untuk pulang bersama dengan karena dia jemu untuk ada di sana karena dia sudah ditinggal oleh temannya. Yanti juga naik ke mobilku, dia tidak keberatan dengan itu, malam itu suhunya merasa sangat dingin, meskipun AC sudahku matikan namun masih tetap merasa dingin saya juga tidak memahami kenapa dapat berlangsung semacam itu, pada akhirnya saya pinjami jasku untuk menutupi tubuhnya yang cuma menggunakan gaun putih itu. Bagiku Yanti malam itu tampak sexy dengan gaun yang dipakainya, dia menggunakan gaun putih tanpa ada lengan, serta bra hitam yang tunjukkan kemolekan tubuhnya. Serta rambut panjangnya yang tertangani dilewatkan tergerai dengan bebasnya. 





Karena perutku masih tetap merasa lapar, yang tadi saya hanya makan sedikit karena keasyikan bercakap serta nikmati tubuhnya yang sexy serta bahenol itu, kuajak dia makan dalam suatu restoran namun dia menampik karena dia di rumah sudah masak, jadi saya disuruh untuk makan ditempatnya saja, dalam hati, ini cewek baik banget terkecuali dia sexy serta bahenol namun juga baik hati, sesudah saya berfikir lama pada akhirnya saya sepakat. 





Singkat narasi kami hingga didalam rumah kontrakannya serta konsumsilah saya di sana, usai makan saya membereskannya, dia mengajakku kekamarnya untuk menemaninya malam itu, walau sebenarnya saya ingin pulang karena jam telah tunjukkan jam 00. 30. Saya berusaha untuk menampik namun karena dia selalu meminta untuk menemaninya, serta pada akhirnya saya juga mengiyakannya karena saya juga tidak tega bila dia sangat meminta kepadaku. 





Kamarnya tampak bersih dan rapi semua teratur rapi sekali, ya, maklum kamar cewek. Dia mengontrak untuk berempat serta teman-temanya kebetulan waktu itu lagi pada keluar, maklum waktu itu ialah malam minggu. Singkat narasi, dia menceritakan padaku jika dia baru putus sama pacarnya karena cowoknya kepergok sudah melakukan perbuatan perselingkuhan dibelakang dia. Diapun menangis kembali kenang waktu yang teramat indah bersama dengan sang pacar serta saat ini hanya tinggal kemalangan belaka serta saya cobalah untuk memberanikan diriku untuk memeluknya serta menenangkannya, Yanti tidak menolaknya. 





Sesudah agak tenang, kubisikan dia jika malam hari ini kamu terlihat cantik sekali. Yanti tersenyum serta menatapku sangatlah dalam, saya cium bibirnya yang hangat itu serta dia membalas ciumanku dengan sangatlah ganasnya, tangannya mulai mencari di mana adik kecikku bersembunyi. Pada akhirnya dia mendapatkannya serta meremas dengan lembutnya. 





Kamipun berciuman dengan sangatlah ganasnya saya mulai mencium lehernya, Yantipun mendesah, 





“Aaahh geli Jok aahh. ” 





Dengar itu saya makin bernafsu, saya juga mulai meremas-remas payudaranya dari luar branya yang montok itu. Yanti mendesah lagi, 





“Aaahh enak Jok selalu Jok selalu sstt. ” 





Serta dia juga menjambak rambutku. Sesudah sejumlah lama saya meremas payudaranya, dia mendesah serta selalu berkicau, dengan permainan yang aku bikin itu. Saya juga mulai menanggalkan gaun yang dia masih tetap gunakan, yang tersisa cuma tinggal Branya serta CD teras merah muda, lalu branya juga saya terlepas, tampaklah jelas gunung kembar yang sangatlah menantang birahiku serta punting merah-kecoklatan cerah yang telah mengeras. Kuremas payudaranya serta kuhisap puntingnya serta kugigit kecil dengan gigiku, Yanti cuma pejamkan mata sembari nikmati hisapanku itu. Saya gigit-gigit puntingnya serta dia juga mengerang serta menggelinjang keasikan, 





“Jok enak Jok, teruss Jok, hisap selalu aahh sstt” 





Lalu saya teruskan dengan menciumi perutnya lalu saya copot CD yang masih tetap menempel pada dianya. WOw nyatanya jembutnya tidaklah terlalu lembat serta rapi, rambut di sekitar bibir kemaluannya bersih. Serta vaginanya terlihat kencang dengan clitoris yang cukup besar serta terlihat basah. 





“Kamu rajin mencukur yaa, ” tanyaku, dengan muka memerah dia mengiyakan, karena kata teman-temannya untuk kesehatan vagina, serta tidak bau. 





Kupangku dia serta mulai menciuminya lagi, serta sapuan lidahku mulai menyebar dari payudara lalu puntingnya, kugigit kecil dengan gigiku, Yanti menggelinjang keasikkan serta mendesah-desah rasakan rangsangan kesenangan, 





“Ssstt selalu Jok sstt. ” 





Tangan kananku mulai mainkan clitorisnya yang telah banjir, lalu kujilati klitotisnya dengan lidahku perlahan, desahan serta lenguhan semakin kerap kudengar. Selaras dengan sapuan lidahku klitorisnya, Yanti makin terangsang, dia bahkan juga menjabak rambutku serta mendesak kepalaku di klitorisnya, 





“Jok, enak.. Banget.. Enak.. Jok, aahh.. Jok selalu Jok jilat selalu hingga dalam Jok aahh.. ” 





Desahannya serta lenguhannya bikin saya makin bertambah nafsu untuk memperlancar yang lebih hilang ingatan dari mulanya serta saat itu juga badannya mulai mengejang dan 





“Jok.. Yanti.. ingin.. Keeluaar aa.. Aaahh” serta merasa sekali derasnya cairan yang mengalir dari vaginanya yang merasa asam-asam pahit namun nikmat lalu segera saya jilat hingga habis serta tidak tersisa. Yanti lalu berdiri. 





“Sekarang giliranku, ” tuturnya. 





Celanaku segera dilucutinya serta akupun segera berbaring di atas kasur yang empuk itu. Salah satunya tangannya memegang penisku serta yang lainnya memegang buah zakarku, di mengelusnya dengan lembut. 





“Mmmhh enak juga yaa penis kamu, ” ceretus dia. “Aaahh enak Yan” desahku. 





Yanti mulai menciumi penisku serta mengelus buah zakarku, serta mengemutnya serta mengocoknya dengan mulutnya yang sangatlah imut itu. Merasa juta-an arus listrik mengalir ke tubuhku, 





“Gila ini cewek pinter sekali sedotan serta kocokannya betul-betul nikmat banget, ” dalam batinku. Kupegang kepalanya, kuikuti naik turunnya, kadang-kadang kutekan kepalanya waktu turun. Tidak lama kemudian dia berhenti. 





“Jok penis kamu lumayan besar serta panjang yach, keras lagi, saya makin terangsang nich. ” 





Saya cuma tersenyum, kuajak dia main 69, nyatanya dia ingin. Vaginanya yang banjir itu pas diwajahku, merah serta kencang, tengah Yanti telah mengocok penisku. Saya makin bernafsu untuk mainkan vaginanya yang makin menantang saja, tercium wangi yang ciri khas pada seputar vaginanya yang sangatlah saya gemari sekali pada wanita, serta clitorisnya hingga memerah serta kuhisap yang telah keluar untuk ke-2 kalinya. 





Mendadak saya kaget waktu saya lihat mengarah pintu yang tidak demikian rapat ditutupnya serta saya makin kaget waktu nyatanya teman-temannya telah lihat semuanya permainan yang tengah kami kerjakan. Satu diantara dia celetuk, 





“Yan main kok tidak ngajak-ngajak sich kita kan juga ingin, ” 





Serta nyatanya sesudah saya kenali namanya Yeni (24), tampa diduga mereka segera buka pakaian serta celana mereka serta saat itu juga mereka telah kondisi bugil. Saya makin kewalahan karena terserang dari beragam arah. Saya mulai masukkan penisku ke vagina Yanti, meskipun pertama-tama merasa sempit sekali jadi saya agak kesusahan memasukannya serta sesudah sejumlah lama saya berupaya, pada akhirnya saya bisa masuk 1/2 serta Yanti menjerit menahan sakit yang tidak ada tara. Tanpa ada saya sangka nyatanya ada sedikit darah mengalir di seputar vaginanya, nyatanya dia masih tetap perawan batinku. Yanti semakin mengejang sembari mendesis seperti ular, sedang Yeni yang tidak kalah montok dan payuadarannya terbesar daripada Yanti. 





Yanti juga mainkan puntingnya Dewi (24, 38), sedang Ati (25, 36b) mainkan vaginanya Dewi. Mereka sama-sama mendesah bikin situasi makin panas saja. Saya sendiri makin cepat mainkan penisku, desahan Yanti juga makin kencang saja berbarengan dengan kecepatan goyanganku yang makin cepat serta Yanti makin nikmati permainanku serta dia juga makin menyeimbangi permainanku. 





“Aaahh enak Jok, selalu Jok, lebih dalam lagi Jok, ” celotehnya saya makin cepat serta waktu itu juga tubuh dia mulai mengejang bertanda dia ingin orgasme. Tidak berapakah lama dia, “Jok saya ingiin keluar” serta waktu itu juga keluarlah cairan yang ke-3 kalinya dengan sangat banyak serta Yanti tampak lemas serta segera tergeletak disampingku, namun penisku masih tetap tegak seperti ingin menantang kesenangan. 





Yeni juga segera ambil penisku yang masih tetap tegak itu ke vaginanya nyatanya sama sempitnya dengan Yanti, saya sedikit kaget karena ada sedikit darah mengalir dari vaginanya serta nyatanya Yeni juga masih tetap perawan juga batinku, perlahan-lahan kugoyang penisku, maju mundur, serta makin keras saya mengenjotnya serta jeritanya panjang serta saat itu juga badannya mulai mengejang yang bermakna dia ingin orgasme, saya juga makin percepat pergerakan penisku serta Yeni juga menjerit panjang, 





“Jok.. Saya keeluuar aahh” serta saat itu juga dia rubuh disampingku sedang saya belum juga hingga puncaknya. 





Saya capai tangannya Dewi serta segera saya mainkan vaginanya dengan lidahku serta selalu saya mainkan hingga diapun mendesah dengan keras. Sedang Ati mainkan puyudara Dewi yang telah mengeras. Saya juga mulai masukkan penisku ke vagina Dewi yang nyatanya sempit juga namun untung vaginanya telah basah jadi tidaklah terlalu susah. Serta waktu baru masuk 1/2 ada darah yang mengalir pada vaginanya dalam batin nyatanya semua masih tetap pada perawan dalam batinku, perlahan-lahan kugoyang penisku maju mundur membuat angka 8, rintihan kesakitan beralih jadi desahan kesenangan. 





Sedang Ati menjilati payudara Dewi dengan nafsunya serta sekali-kali Ati mencium bibirku dengan garangnya, waktu kau ada di atas Dewi, kujilati payudaranya yang memerah serta Dewi tidak dapat menjerit karena bibirnya telah disumpel dengan mulutnya Ati yang dari yang tadi telah mencium bibirnya Dewi dengan garang serta terlihat telah bernafsu itu. 





Saya mulai menekannya dengan nafsu serta pastinya dann pastinya penisku masih tetap ada di dalam vaginanya Dewi yang sangatlah nikmat itu. 





“Ooohh sangat nikmat rasanya”, dia menjerit “Ssshh”, seperti ular yang tengah mendekati mangsanya. Serta kupercepat lagi goyanganku serta makin cepat saya mengocoknya makin keras dia menjerit kesenangan serta saat itu juga, 





“Aaahh saya ingin keeluuarr Jok, kau juga ingin keluar, kita keluarin bareng saja yaa, aahh” 





Crot.. Crot.. Crot hampir berbarengan, demikian enaknya permain malam hari ini serta akupun segera tertidur lemas karena telah bermain dengan tiga wanita sekaligus juga, sesudah 3 jam saya tertidur saya rasakan ada yang mengemut penisku dengan lebutnya serta sesudah saya buka mataku nyatanya Ati yang belumlah mendapat jatahnya. Segera kucium bibirnya denga bernafsu serta dia langung memohon saya untuk masukkan penisku ke vaginanya yang nyatanya telah banjir dari yang tadi. Saya berusaha untuk mainkan vaginanya serta tanpa ada kuduga nyatanya Ati sudah mencapai penisku serta segera membimbingku masuk vaginanya. 





Sewaktu menyentuh bibir vaginanya dia mengerang kesenangan serta akupun segera memasukkan serta nyatanya tidak demikian sempit dibanding dengan tiga temannya serta tanpa ada banyak kendala saya mulai menggenjot secara cepat serta merasa sekali ada yang merasa yang berdenyut-denyut di vaginanya yang bermakna mengisyaratkan dia ingin orgasme serta saya makin percepat goyanganku serta saat itu juga. 





“Aaahh Jok, saya ingin keeluuaarr sstt” 





Keluarlah cairan yang sangatlah banyak itu serta dia segera lemas serta nyatanya mereka berempat segera bangun serta segera memburu saya dengan sangatlah garangnya, serta waktu itu jam 05. 30 pagi, kami berlima mandi bareng serta sewaktu mandipun kami masih tetap sudah sempat bermain meskipun cuma sesaat karena saatnya tidak sangat mungkin untuk bermain lama. 





“Makasih yaa Jok, kamu memanglah hebat meskipun badan kamu tidak gemuk (kurus), namun stamina kamu kuat sekali, saya jadi ingin sekali mengulangnya. ” 


Cerita Mesum Saya jilat semua punggung Tante Girang Elvina hingga ke pantatnya


Cerita Mesum Saya jilat semua punggung Tante Girang Elvina hingga ke pantatnya  Waktu foreplay serviks atau mulut rahim akan merasa lebih lembut atau melunak. Waktu tersentuh penis waktu terkait intim, saraf-saraf di sekelilingnya akan kirim tanda rangsangan ke otak yang bikin wanita terasa bahagia serta lebih suka. Namaku Chepy, 22 th., mahasiswa dalam suatu kampus swasta terkenal di Jakarta. Kisahku ini ialah peristiwa riil tanpa ada saya eksperimen sedikitpun! Kisahku berawal satu tahun waktu lalu waktu temanku (Dedy) mengajakku menemaninya transaski dengan temannya (Gunawan). Saya terangkan saja tentang ke-2 orang itu semula. Dedy ialah rekan kuliahku serta dia seseorang yang rajin serta ulet termasuk juga dalam soal melakukan bisnis meskipun dia masih tetap kuliah. Gunawan ialah rekan kenalannya yang seseorang anak bekas petinggi tinggi yang kaya raya (saya tidak paham apakah kekayaan orang tuanya halal atau hasil korupsi!). 


Cerita Mesum Saya jilat semua punggung Tante Girang Elvina hingga ke pantatnya



Satu tahun waktu lalu Gunawan tawarkan sejumlah koleksi lukisan serta patung (Gunawan sudah tahu tentang usaha Dedy semula) punya orang tuanya pada Dedy, koleksi lukisan serta patung itu berumur tua. Dedy tertarik namun dia memerlukan kendaraan saya karena kendaraannya tengah digunakan untuk mengangkat almari ke Bintaro, oleh karenanya Dedy membawa saya turut serta saya juga sepakat saja. Butuh saya terangkan semula, Gunawan jual koleksi lukisan serta patung itu, oleh Dedy diprediksikan karena Gunawan seseorang pecandu putaw serta memerlukan uang penambahan. 





Esok harinya (hari Minggu), saya serta Dedy pergi menuju rumah Gunawan di lokasi Depok. Setelah tiba dimuka pintu gerbang 2 orang satpam jalan mengarah kami serta bertanya maksud kehadiran kami. Sesudah kami terangkan, mereka mengizinkan kami masuk serta mereka menghubungi Gunawan lewat telephone. Saya memarkir kendaraan saya serta saya kagum pada halaman serta rumah Gunawan yang sangat luas serta indah, ” Begitu kayanya orangtua Gunawan” bisik dalam hatiku. Kami mesti menanti sesaat karena Gunawan tengah makan. 





Sembari menanti, kami bicara dengan satpam. Dalam perbincangan itu, seseorang satpam bercerita bila Gunawan itu seseorang playboy serta senang membawa wanita malam-malam ke tempat tinggalnya waktu orang tuanya tengah pergi. Sesudah menanti selang 10 menit, pada akhirnya Gunawan hadir (saya yang baru pertama-tama memandangnya mesti mengaku jika Gunawan mempunyai muka yang sangat rupawan, walaupun saya juga seseorang lelaki serta bukanlah seseorang homo!). Dedy mengenalkan saya dengan Gunawan. Kemudian Gunawan membawa Dedy masuk ke rumah untuk lihat patung serta lukisan yang akan dijualnya. 





Saya bingung apakah saya mesti ikuti mereka atau masih duduk di pos satpam. Sesudah mereka jalan seputar 15 mtr. dari saya, seseorang satpam menyampaikan baiknya kamu (saya) turut mereka saja dibanding jemu menanti disini (pos satpam). Saya juga jalan menuju tempat tinggalnya. Waktu saya masuk, saya tidak lihat mereka lagi. Saya cuma lihat suatu ruang yang luas sekali dengan suatu tangga serta sejumlah pintu ruang. Saya bingung apakah saya baiknya naik ke tangga atau mengelilingi ruang itu (sebetulnya mungkin saya teriak menyebut nama Dedy atau Gunawan namun aksi itu sangatlah tidak sopan!). 





Pada akhirnya saya mengambil keputusan untuk mengelilingi ruang itu dengan keinginan bisa menjumpai mereka. Sesudah saya mengelilingi, saya tidak bisa temukan mereka. Namun saya lihat suatu pintu kamar yang pintunya sedikit terbuka. Saya menduga mungkin saja saja mereka ada didalam kamar itu. saya buka sedikit untuk sedikit pintu itu serta begitu terkejutnya saya waktu saya lihat seseorang anak wanita tengah tertidur dengan daster yang tipis serta cuma menutupi sisi atas serta sisi selangkangannya, saya bingung mesti bagaimanakah! 





Basic otak saya yang telah kotor lihat panorama paha yang indah, pada akhirnya saya masuk ke kamar itu serta tutup pintu itu. Saya lihat seputar kamar itu, kamar yang luas serta indah, sejumlah helai baju SLTP berantakan ditempat tidur, serta photo anak itu dengan Gunawan serta seseorang lelaki tua serta wanita tua (mungkin saja photo orang tuanya). Anak wanita yang sangatlah cantik, manis serta kuning langsat! saya mengambil langkah lebih dekat lagi, saya lihat sejumlah buku pelajaran sekolah serta tulisan namanya : Elvina kelas 1 C. Masih tetap kelas 1! bermakna usianya baru pada 11-12 th.. saya fokus pandangan saya mengarah pahanya yang kuning langsat serta indah itu! Ingin rasa-rasanya menjamah paha itu namun saya sangsi serta takut. Saya meningkatkan pandangan saya mengarah dadanya serta lihat cetakan pentil susu di helai dasternya itu. Dadanya masih tetap kecil serta ranum serta saya ketahui dia tentu tidak menggunakan baju dalam (BH atau kutang) dibalik dasternya itu! 





Berwajah sangatlah imut, cantik serta manis! Pada akhirnya saya membulatkan tekad meraba pahanya serta mengelusnya, astaga.. mulus sekali! saya meningkatkan sedikit lagi dasternya serta terlihatlah suatu celana dalam (CD) warna putih. Saya meraba CD anak itu serta menarik sedikit karet CDnya, saya mengintip ke,.. Astaga! tak ada bulunya! Jantung saya berdetak kencang sekali serta keringat dingin mengalir deras dari badan saya. saya mencium Cdnya, tak ada bau yang tercium. saya menarik sedikit lagi dasternya ke atas serta terlihatlah perut serta pinggul yang ramping padat serta mulus sekali tanpa kotoran di pusarnya! Mengagumkan! 





Otak porno saya juga sangatlah kreatif juga, saya membulatkan tekad untuk menarik perlahan tali dasternya itu, sedikit-seditkit terlihatlah sebagian dadanya yang mulus serta putih! ingin rasa-rasanya segera memenggangnya, namun saya bersabar, saya menarik lagi tali dasternya ke bawah serta pada akhirnya terlihatlah pentil Elvina yang bewarna kuning kecoklatan! Jantung saya kesempatan ini merasa berhenti! Sayapun terasa badan saya jadi kaku. Jari sayapun mencolek pentilnya serta memencet dengan lembut payudaranya. Saya melakukankan dengan lembut, perlahan-lahan serta sedikit lama juga, sesaat Elvina sendiri masih tetap tertidur nyenyak. Sesudah senang, saya menjilat serta mengulum pentilnya, merasa tawar. 





Basic otakku yang telah hilang ingatan, saya juga nekat menarik semua dasternya perlahan-lahan mengarah bawah hingga terlepas, hingga Elvina sekarang cuma kenakan celana dalam (CD) saja! Saya memandangi badan Elvina dengan penuh rasa mengagumi akan. Mendadak Elvina sedikit bergerak, saya sangka ia terbangun, nyatanya tidak, mungkin saja tengah mimpi saja. Saya mengelus badan Elvina dari atas sampai pusar/perut. Senang mengelus-elus, saya ingin nikmati lebih dari itu! Saya menarik perlahan CD Elvina mengarah bawah sampai terlepas. Sekarang Elvina sudah telanjang bulat! Begitu indahnya badan Elvina ini, gadis kelas 1 SLTP yang sangat manis, imut serta cantik dengan buah dada yang kecil serta ranum juga vaginanya yang belumlah ada bulunya sehelaipun! 





saya mengelus bibir vaginanya yang mulus serta lembek serta sayapun menciumnya. Merasa bau yang ciri khas dari vaginanya itu! Dengan ke-2 jari telunjuk saya, saya buka bibir vaginanya dengan perlahan, tampak dalamnya bewarna kemerah merahan dengan daging di atasnya. Saya menjulurkan lidah saya mengarah vaginanya serta menjilat-jilat vaginanya itu. Saya deg-degan juga lakukan adegan itu. Saya ketahui aksi saya dapat ketahuan olehnya namun peristiwa ini susah sekali untuk ditinggalkan demikian saja! Benar dugaan saya! 





Ketika saya tengah asyiknya menjilat vaginanya, Elvina terbangun! Saya juga terperanjat 1/2 mati! Untung Elvina tidak teriak namun cuma tutup buah-dadanya serta vaginanya dengan ke-2 tangannya. Mukanya terlihat takut juga. Elvina berkata ” Siapa kamu, apa yang ingin kamu kerjakan? ”. Saya segera memutar otak untuk keluar dari kesusahan ini! saya menyampaikan pada Elvina : ” Elvina, saya lakukan ini karena Gunawan yang mengijinkan! ”, kataku yang berbohong. Elvina terlihat tidak yakin berkata ” Mustahil, Gunawan kakakku! ”. Pintar juga dia! Namun saya tidak menyerah demikian saja. Saya menyampaikan lagi ” Elvina, saya ketahui Gunawan kakakmu namun dia mempunyai hutang yang sangat besar pada saya, apakah kamu tega lihat kakakmu ikut serta hutang yang sangat besar? Apakah kamu tidak kasihan pada Gunawan?, bila dia tidak melunasi hutangnya, dia dapat dipenjara ” kataku sembari berbohong. Elvina terdiam sesaat. 





Saya berupaya menentramkan Elvina sembari mengelus rambutnya. Elvina masih terdiam. Sayapun dengan lembut menarik tangannya yang menutupi ke-2 buah dadanya. Dia keliatannya pasrah saja serta membiarkan tangannya ditarik oleh saya. Tampak lagi ke-2 buah dadanya yang indah serta ranum itu! Saya mencium pipinya serta berkata “Saya akan tetap mencintaimu, yakinlah! ”. Saya merebahkan tubuhnya serta menarik tangannya yang lainnya yang menutupi vaginanya. Pada akhirnya dia menyerah serta pasrah saja pada saya. Saya tersenyum dalam hati. Saya segera cepat-cepat buka semua baju saya untuk selekasnya menyelesaikan ” pekerjaan ” ini (maklum, bila sangat lama, transaksi Gunawan dengan Dedy usai, sayapun dapat ketahuan, ujung-ujungnya saya mungkin terbunuh!). 





Saya segera mencium mulut Elvina dengan rakus. Elvina keliatannya belumlah sempat ciuman semula karena dia masih tetap kaku. saya mencium lehernya serta turun mengarah buah dadanya. Saya menyedot ke-2 buah dadanya dengan kencang serta rakus serta meremas-remas ke-2 buah dadanya dengan sangatlah kuat, Elvina keliatannya kesakitan dengan juga remasan saya itu, Sayapun menarik-narik ke-2 pentilnya dengan kuat! “Sakit Kak ” kata Elvina. Saya tak akan dengar rintihan Elvina. Saya mengulum serta menggigit pentil Elvina lagi sembari tangan kanan saya meremas kuat pantat Elvina. Sesudah senang, saya membalikkan tubuh Elvina hingga Elvina tengkurap. 





Saya jilat semua punggung Elvina hingga ke pantatnya. Saya remas pantat Elvina kuat-kuat serta saya buka pantatnya sampai tampak anusnya yang bersih serta indah. Saya jilat anus Elvina, merasa asin sedikit! Dengan jari telunjuk saya, saya tusuk-tusuk anusnya, Elvina terlihat merintih atas aksi saya itu. Saya angkat pantat Elvina, saya remas sisi vagina Elvina sembari ia nungging (tempat saya di belakang Elvina). Elvina telah seperti boneka mainan saya saja! Sesudah senang, saya balikkan lagi badan Elvina hingga ia terlentang, saya naik ke atas kepala Elvina serta menyodorkan penis saya ke mulut Elvina. ” Jilat serta kulum! ” kataku. Elvina sangsi juga sebelumnya, namun saya selalu membujuknya serta pada akhirnya ia menjilat juga.


Penis saya terasa enak dan geli juga dijilat olehnya, seperti anak kecil yang menjilat permen lolipopnya. “Kulum!” kataku, dia lalu mengulumnya. Saya dorong pantat saya sehingga penis saya masuk lebih dalam lagi, kelihatannya dia seperti mau muntah karena penis saya menyentuh kerongkongannya dan mulutnya yang kecil kelihatan sulit menelan sebagian penis saya sehingga ia sulit bernapas juga. Sambil ia mengulum penis saya, tangan kanan saya meremas kuat-kuat payudaranya yang kiri hingga terlihat bekas merah di payudaranya.


Saya langsung melepaskan kuluman itu dan menuju ke vaginanya. Saya jilat vaginanya sepuas mungkin, lidah saya menusuk vaginanya yang merah pink itu lebih dalam, Elvina menggerak-gerakkan pantatnya kiri-kanan, atas-bawah, entah karena kegelian atau mungking ia menikmatinya juga. Sambil menjilat vaginanya, kedua tangan saya meremas-remas pantatnya.


Akhirnya saya ingin menjebol vaginanya. Saya naik ke atas tubuh Elvina, saya sodorkan penis saya ke arah vaginanya. Elvina kelihatan ketakutan juga, ” Jangan kak, saya masih perawan!”, Nah ini dia! saya membujuk Elvina dengan rayuan-rayuan manis. Elvina terdiam pasrah. Saya tusuk penis saya yang besar itu yang panjangnya 18 cm dan diameter 6 cm ke vaginanya yang kecil sempit tanpa bulu itu! Sulit sekali awalnya tapi saya tidak menyerah. Saya lebarkan kedua kakinya hingga ia sangat mengangkang dan vaginanya sedikit terbuka lagi, saya hentakkan dengan kuat pantat saya dan akhirnya kepala penis saya yang besar itu berhasil menerobos vaginanya!


Elvina mencakar tangan saya sambil berkata ” sakitt!!” saya tidak peduli lagi dengan rintihan dan tangisan Elvina! Sudah sepertiga penis saya yang masuk. Saya dorong-dorong lagi penis saya ke dalam lobang vaginanya dan akhirnya amblas semua! Dan seperti permainan sex pada umumnya, saya tarik-dorong, tarik-dorong, tarik-dorong, terus-menerus! Elvina memejamkan matanya sambil menggigit bibirnya. Tangan saya tidak tinggal diam, saya remas kedua buah dadanya dengan sangat kuat hingga ia kesakitan dan saya tarik-tarik pentilnya yang kuning kecoklatan itu kuat-kuat! Saya memainkan irama cepat ketika penis saya menghujam vaginanya.


Baru 5 menit saya merasakan cairan hangat membasahi penis saya, pasti ia mencapai puncak kenikatannya. Setelah bermain 15 menit lamanya, saya merasakan telah mencapai puncak kenikmatan, saya tumpahkan air mani saya kedalam vaginanya hingga tumpah ruah. Saya puas sekali! Saya peluk Elvina dan mencium bibir, kening dan lehernya. Saya tarik penis saya dan saya melihat ada cairan darah di sprei kasurnya. Habislah keperawanannya!


Setelah itu saya lekas berpakaian karena takut ketahuan. Saya ambil uang 300.000 rupiah dari saku saya dan saya berikan ke Elvina, ” Elvina, ini untuk uang jajanmu, jangan bilang ke siapa-siapa yah “, Elvina hanya terdiam saja sambil menundukkan kepala dan menutupi kedua buah dadanya dengan bantal. Saya langsung keluar kamar dan menunggu saja di depan pintu masuk. Sekitar 10 menit kemudian Gunawan dan Dedy turun sambil menggotong lukisan dan patung. Ternyata mereka transaksinya bukan hanya lukisan dan patung saja tapi termasuk beberapa barang antik lainnya. Pantasan saja mereka lama!


Akhirnya saya dan Dedy permisi ke Gunawan dan ke kedua satpam itu. Kami pergi meninggalkan rumah itu. Dedy puas dengan transaksinya dan saya puas telah merenggut keperawanan adik Gunawan. Ha ha ha ha ha, hari yang indah dan takkan terlupakan

vagina Mbk Dita lebih sempit Sambil merasakan kocokanku

vagina Mbk Dita lebih sempit Sambil merasakan kocokanku Hari tidaklah larut, jarum jam belumlah menyentuh angka 9 malam, masih tetap sore bagiku. Sesore ini rasa capek serta lelah telah kurasakan, hari ini sebetulnya cukup menyenangkan sampai peristiwa baru saja yang membuatku betul-betul kehilangan semangat, ingin rasa-rasanya habiskan malam hari ini dengan menyendiri didalam rumah, nonton tv bersama dengan rekan teman, aktivitas yang telah lama tidak kulakukan. 

vagina Mbk Dita lebih sempit Sambil merasakan kocokanku




Tiga orang lelaki sudah kulayani dalam melampiaskan keinginan sexualnya, pagi yang tadi kuserahkantubuhku pada orang lelaki yang kutaksir tidak lebih dari 45 th. di Hotel Sahid, walau sebenarnya masih tetap pagi seputar jam 10 serta saya baru bangun. Tidak ada hal yang istimewa kepadanya, seperti tamuku yang lain yang hadir serta pergi. Kami bermain 2 set untuk satu 1/2 jam. 





Tamu ke-2 ialah orang Korea, yang nikmati hangatnya tubuhku waktu jam istirahat kantor, umum bobok bobok siang atau Seks After Lunch di Hotel Westin (saat ini JW Marriot). Kulayani dia cuma satu set selama hampir 45 menit nonstop, mungkin saja karena banyak makan ginseng serta didukung umur yang masih tetap muda, tidaklah 40 th. menurut pengakuannya. Mujur cuma satu set karena dia ada meeting di kantornya jam 2 siang kelak. 





Lelaki ke-3 yang menyetubuhiku ialah anak muda chinese langgananku, umum bila telah berlangganan pasti semakin banyak ngomongnya, lebih enjoy, hingga walau kuhabiskan lebih lebih 2 jam menemaninya tetapi saya cuma melayaninya hanya 2 kali. Itupun yang ke-2 cuma bertahan tidak lebih 5 menit. 





Yang membikin saya kesal ialah tamuku yang ke empat, yang membookingku sesudah jam kerja kantor, jam 6 sore. Saya menemaninya di Palm Inn, hotel short time yang terdapat di daerah Mayjend Sungkono, tempat itu sangat familiar bagiku. Tak tahu telah berapakah puluh kali tubuhku di nikmati berbagai lelaki ditempat itu. Saya meyakini semuanya kamar pernah kupakai. 





Seseorang GM sudah memintaku mulai sejak siang yang tadi, waktu saya terima tamu Korea, karena telah terlanjur terima bookingan, jadi kujanjikan sore bila masih tetap ingin menanti. Rupanya si tamu tidak ingin dengan yang lainnya jadi dia bersedia masuk waiting daftar. 





Waktu saya tiba di Palm Inn, dia telah menanti didalam. Agak terkaget waktu memandangnya, berwajah kelihatannya tidak asing bagiku, kelihatannya sudah mengetahui dia, tak tahu di mana, yang jelaswajah itu saya kenal tetapi tidak kuingat lagi. 





“mungkin salah satunya tamuku yang cuma booking sekali atau 2 x tidak muncul lagi” pikirku, sudah pasti untuk tamu semacam ini saya lupa karena sangat banyak lelaki yang hadir serta pergi isi hari hariku. Bila tak ada hal yang istimewa, demikian berpisah dengan tamuku terlupakan telah apa yang barusan kami lakoni. 





Dia mengenalkan diri dengan nama Yanto, umurnya mungkin saja lebih 55 th., jadi seangkatan dengan papaku. 





Kami bercakap mudah, walau dia telah berhenti merokok tetapi mengizinkan saya untuk merokok. Pak Yanto orangnya tampak ramah serta sabar, 20 menit bercakap dengannya saya makin senang dengan pembawaannya yang tidak buru buru. Sepanjang 20 menit itu juga saya mengingat ingat di mana kenal dengan muka ini karena bagiku terlihat tidak asing sekali, ingin bertanya takut dia tersinggung. Bila saya bertanya pada tamu apakah sempat mem-bookingku, pasti akan bikin tamu itu tersinggung karena bermakna bagiku dia hanya umum biasa saja, bagiku saya ingin memberikan kesah bila tiap-tiap tamu yang kulayani ialah lelaki istimewa serta unik yang tidak mudah terlupa. Bila saya sangsi sama seseorang tamu, jadi akupun akan berlaku sok akrab. 





Sampai Pak Yanto memintaku melepas baju, saya belum juga temukan jawabannya walau telah kuusahakan memancing sejumlah pertanyaan yang ke arah, tetap harus tidak berhasil. Tubuhku yang telah telanjang duduk dipangkuannya, kami sama-sama bertemu, Pak Yanto belum melepas bajunya. 





“kamu memanglah menggemaskan, menggairahkan serta merayu, tidak kusangka pada akhirnya saya bisa peluang ini” tuturnya disusul ciuman lembut di pipi serta bibir, turun ke buah dada serta sedotan pada putingku. 





Tak tahu mengapa waktu Pak Yanto mencium pipi serta bibirku, bulu kudukku berdiri, seperti ada getaran aneh menyelimuti tubuhku. 





Kuluman yang lembut pada bua dadaku perlahan-lahan makin menggairahkan, tidak bisa ditahan lagi akupun mulai menggeliat serta mendesah diatas pangkuannya, kuremas remas rambutnya. Tubuhku turun turun di antara kakinya, kulucuti bajunya satu-satu sampai keduanya sama telanjang. Keelus lembut serta kukocok dengan tangan sembari menciuminya, waktu akan kukulum penisnya yang tegang itu, dia mengusung mukaku, ditatapnya dalam dalam seolah menengok isi hatiku, bergidik saya jadinya, seperti ada benang merah yang tidak bisa kumengerti pada saya serta dia, diciumnya kening serta bibirku, kemudian dia diam saja waktu lidahku mulai menyentuh kepala penisnya. 





Pak Yanto mulai mendesah, penis itu telah keluar masuk mulutku, tangannya membelai lembut rambutku yang tergerai dengan lembut. Dia tetap menyibakkan rambutku jika ada yang menghambat pandangannya pada wajahku yang tengah mengocok penisnya, pandangan itu tidak sempat terlepas kearahku. 





“Pindah ranjang yuk” ajakku 





Waktu saya berdiri akan menuju ranjang, dia menarikku sampai akupun terjatuh terduduk kembali dalam pangkuannya. Pak Yanto mendekapku dari belakang, tangannya meremas remas buah dadaku sambil menciumi punggung serta tengkukku. 


Aku telentang di atas ranjang, entah sudah berapa ratus pasangan yang telah melampiaskan nafsunya di ranjang ini.


“boleh kucium ?” tanya Pak Yanto saat tangannya sudah berada diselangkanganku


“em…kalau bapak mau” jawabku, biasanya laki laki seumur dia pintar bermain oral, maklum jam terbang sudah tinggi dan permainan oral tidaklah dipengaruhi umur maupun stamina, jadi biasanya lebih pintar dari yang muda muda. Disinilah kelebihan laki laki yang sudah tua.


Dugaanku benar adanya, bibir dan lidah Pak Yanto dengan dibantu jari jari tangannya begitu pintar bermain diselangkanganku, mempermainkan klitoris dan bibir vagina, akupun menggeliat dalam nikmat, tentu saja diiringi desahan desahan.


“sini Pak, enam sembilan” ajakku, dia langsung menurutinya.


Kunikmati benar permainan oral ini karena untuk tamu seusia dia aku tidak berharap banyak bisa mendapatkan orgasme dari persetubuhan. Permainan oral kami sungguh mengasyikkan, beberapa kali kami bergulingan berganti posisi atas dan bawah.Aku harus mengakui kalau dia lihai bermain oral sex, disamping itu cukup tahan juga menahan orgasme. Tidak sedikit laki laki yang sudah orgasme hanya dengan kulumanku, bahkan banyak juga yang orgasme cuma dengan dikocok tangan.


Tubuh Pak Yanto sudah di atasku, bersiap melesakkan penisnya mengisi vaginaku.


“mau pake kondom ?” tanyanya sopan sambil menatap tajam, aku tak sanggup melawan tatapannya.


“terserah bapak, aku sih oke oke aja kok” jawabku sambil menghindari tatapannya.


Kutuntun penis itu memasuki liang kenikmatanku, penis keempat yang memasuki vaginaku hari ini. Perlahan dia mendorong masuk, matanya tak lepas menatapku, seperti menikmati expresi wajahku yang tengah menerima kenikmatan darinya. Kembali dikecupnya kening, pipi dan bibirku setelah penisnya masuk semua, didiamkannya sejenak sembari melumat bibir.


Kocokannya pelan dan lembut, seperti takut merusakkan vaginaku. Tubuh Pak Yanto mulai menindihku, kami saling berpelukan dan mengulum bibir, semakin lama kocokan itu semakin cepat membuat tubuhku mulai menggeliat.Butiran keringat terlihat di wajahnya, punggungnya mulai basah padahal belumlah 10 menit kami bercinta, maklum sudah setengah baya. Ciuman Pak Yanto bergantian dari pipi, leher, bibir dan kening, kujepit pinggang Pak Yanto dengan kedua kakiku yang melingkar di pinggang. Tubuh telanjang kami saling mendekap semakin rapat menyatu, entah kenapa ada rasa aman saat Pak Yanto mendekapku erat, seperti aku sedang dalam perlindungannya, padahal kini aku sedang dalam lampiasan birahinya.


“mau keluar di dalam atau di luar ?” bisiknya tak lama kemudian


“terserah bapak, sukanya dimana” jawabku sambil mendesah


Tiba tiba tubuhnya menegang, gerakannya kacau, kurasakan kepala penisnya membesar dalam vaginaku, disusul denyutan kuat melanda dinding dinding vagina. Pak Yanto menjerit sambil mendekapku semakin erat, akupun ikutan menjerit merasakan kuatnya denyutan itu. Kami kembali berciuman bibir setelah denyutan denyutan itu menghilang, kubiarkan tubuhnya tetap berada di atasku, napasnya menderu hebat seiring detak jantung yang bisa kurasakan berdetak kuat di dadaku.


Tubuh telanjang kami telentang terkapar di atas ranjang. Plafon kaca memantulkan bayangan tubuh kami yang telanjang berdampingan. Kubersihkan penis Pak Yanto dengan tisu yang memang telah tersedia lalu aku kembali rebah dalam pelukannya.


“tak kusangka akhirnya aku bisa mendapatkanmu seperti ini” katanya seperti sedang mendapat durian runtuh.


Kembali rasa penasaran mendatangiku, aku yakin kalau dia sudah mengenalku sebelumnya, entah dimana.


Kutinggalkan Pak Yanto yang tengah mengenang kejadian barusan. Di kamar mandi kubersihkan vagina dari spermanya sambil berusaha mengingat dimanakah aku ketemu Pak Yanto sebelumnya, namun gagal tak kudapat jawaban atas rasa penasaranku.


Ketika aku keluar kamar mandi, kulihat dia sedang menelepon. Dari pembicaraannya pasti dari seorang cewek karena terlihat begitu manja. Aku tak tertarik mendengar pembicaraannya tapi kudengar sayup sayup panggilan “sayang” berulang kali dan diakhiri dengan kata “I love you too”.


“sorry, tadi dari anakku, Devi, biasalah gadis jaman sekarang banyak kebutuhannya” katanya seperti ingin memberi penjelasan padaku, padahal aku tak peduli apakah dia telepon sama Devi atau siapapun, anaknya atau apapun, bukan urusanku.


Babak kedua kami lakukan 20 menit kemudian, kali ini posisiku diatas, dengan leluasa dia bisa menjamah seluruh tubuhku, meremas remas buah dada dan mendekapku dengan gemasnya. Bahkan dengan jelas bisa menikmati expresi kenikmatan yang terpancar dari wajahku.


Seperti babak sebelumnya, tak lebih 10 menit dia kembali menghantam dinding vaginaku dengan denyutan denyutan nikmat. Sebenarnya bisa saja aku membuatnya lebih cepat dari itu, apalagi posisi diatas adalah posisi favorit karena akulah yang memegang kendali permainan.


Kami mandi bersama setelah istirahat beberapa saat lamanya. Dengan telaten dia memandikanku, mengusap dan menyabuni seluruh tubuhku, tak ada remasan remasan nakal seperti tamuku lainnya, benar benar diperlakukan seperti orang tua yang memandikan anaknya.Selesai mandi kami berpakaian dan melanjutkan ngobrol sembari menunggu taxi yang dia pesan, tentu saja aku harus menemani sampai taxi itu datang.


“kamu kok nggak pernah main ke rumah lagi” katanya sembari menyerahkan amplop putih berisi uang.


“maksud Bapak ? rumah siapa ?” tanyaku heran, kuhentikan isapan rokokku dan kuletakkan amplop putih yang kuterima tadi si meja.


“dulu kan sering main ke rumah, didaerah Blauran” lanjutnya


Aku terdiam memikirkan arah pembicaraan ini.


“emang aku kenal Bapak sebelumnya dan kita pernah bertemu ?” tanyaku penasaran, tak ada lagi rasa segan takut tersinggung seperti tadi.


“Bukan cuma kenal, aku bahkan sering mengantarmu pulang setelah main di rumah” jawabnya, semakin membuatku bingung. Rasanya aku nggak pernah main atau terima bookingan di rumah, apalagi daerah blauran.


“Bapak siapa sih ?” tanyaku tak bisa menutupi rasa penasaranku


“aku bahkan sering menciummu meski ciumannya lain dengan yang tadi, memangkumu telanjang, meski tidak seperti tadi, dan memandikanmu walau momennya nggak sama dengan barusan bahkan kamu selalu minta aku cium saat kuantar pulang”


“ah Bapak ngaco deh, meng-ada ada” jawabku dalam kebingungan


“kamu masih belum tau siapa aku ?” tanyanya menyeretku dalam rasa penasaran yang membesar


“nggak tau ah” jawabku putus asa


“nah, persis begitu deh kalau kamu lagi marah, nggak berubah dari dulu, lihat tuh cemberut gitu dengan mulut monyong” godanya


“habis Bapak bikin aku penasaran sih” tanyaku manja, aku yakin dia mengenal banyak tentang diriku, melebihi apa yang kuperkirakan.


“oke aku kasih satu nama supaya ingat, barusan aku telepon dengan Devi, ingat nama itu ? ”


Aku diam sejenak, kuingat ingat teman yang bernama Devi, ada beberapa tapi tak satupun bisa kusangkut pautkan dengan Pak Yanto, Devi cina yang mata duitan dan hanya mau menerima tamu chinesse atau Devi bule yang rambutnya selalu di cat blonde, atau Devi sekretaris yang menerima bookingan diluar jam kantor dan simpanan bos-nya, atau Devi lainnya. Rasanya semua tak ada hubungan dengan Pak Yanto.


“ah, nggak tau ah, mau Devi atau Dewi atau Debra terserah deh, aku nggak tahu” jawabku menyerah dengan wajah makin cemberut.


“ingat nggak Devi yang tinggal di Blauran yang rumahnya di pojok kampung cat hijau ?”


“……HAAA ????? Bapak…bapak…bapak adalah Om Hari ? ayahnya Devi ?” potongku membelalak, kupandangi wajahnya, wajah yang tadi bikin aku penasaran, wajah yang tadi berulang kali dalam jepitan selangkanganku.


Aku berdiri menjauh, kutatap Pak Yanto lebih seksama, dan benar adanya, dia memang Om Hari ayahnya Devi, sahabatku waktu masih kecil. Pak Yanto, laki laki yang telah menyetubuhiku 2 kali dan memberiku kenikmatan permainan oral, laki laki yang telah mengisi rahimku dengan spermanya adalah tidak lain ayah Devi, teman sepermainanku waktu kecil.


Dunia seakan berputar dan menyempit menjepitku.


“lily…aku…aku tak bermaksud….”


Tak kudengarkan lagi ucapan Pak Yanto atau Om Hary, aku berlari keluar kamar meninggalkannya seorang diri, segera kupacu mobil pantherku menjauh dari tempat itu secapat mungkin. Tak kuhiraukan lagi amplop putih yang kuletakkan di meja tadi.


Sepanjang jalan kusesali ketololanku, pantas saja sejak pertama bertemu aku merasakan wajah itu tak asing lagi dan serasa begitu dekat kukenal, pantas saja aku merasakan rasa aman saat dalam dekapannya sebagaimana kulakukan dulu kalau berantem dengan Devi Om Hari justru lebih sering membelaku daripada anaknya.


Bayangan masa kecil nan bahagia terpampang jelas dalam benakku, semenjak kecil bahkan hingga SMA aku dan Devi tumbuh bersama, sering aku nginap dirumahnya kalau hari libur, begitu juga dia. Kami makan di piring yang sama, tidur di ranjang yang sama dan konyolnya mengagumi cowok yang sama saat kelas 1 SMA namun tak mempengaruhi persahabatan kami karena sama sama tidak mendapatkan cinta cowok itu.


Rumah Devi sebelumnya adalah bertetangga denganku, setelah Om Hari punya rumah sendiri mereka pindah ke daerah Blauran. Karena kami memang teman yang cocok, maka akupun sering minta diantar ke Blauran untuk main ke rumah Devi, begitu juga saat memasuki usia sekolah, kami bersekolah di sekolah yang sama dari TK hingga SMA sampai Om Hari harus pindah rumah karena tugas ke Medan, sejak itulah aku dan Devi putus hubungan. Kejadian itu ketika kami naik dari kelas 1 ke kelas 2, aku ingat betul bagaimana saat itu kami bertangisan di airport Juanda mengantar kepergian Devi dengan keluarganya, dan seminggu sejak itu aku sakit demam.


Aku memang sangat manja kepada Om Hari, nama sebenarnya adalah Haryanto, bahkan sampai kelas 3 SMP masih tanpa malu hanya mengenakan celana dalam dan kaos singlet dihadapannya, padahal buah dadaku sudah mulai terbentuk menonjol. Malahan kalau kulihat Devi sedang dipangku ayahnya, aku ikutan duduk dipangkuannya, itu berlaku hingga kelas 3 SMP, sikap manjaku berubah setelah aku mendapatkan menstruasi pertama yang hampir bersamaan dengan Devi.


Ketika kami masih kecil, belum sekolah, Om Hari sering memandikanku bersamaan dengan anaknya, bahkan kami sering bermain petak umpet saat akan dikenakan pakaian. Ini semua karena saat itu Om Hari masih belum bekerja, semua kebutuhan hidup dipenuhi istrinya yang bekerja di Pemda dan dari mertuanya, jadi Om Hari berperan sebagai ibu rumah tangga saat itu.


Tak terasa airmataku meleleh membasahi pipi, kubiarkan deras mengalir turun. Jalanan Mayjend Sungkono yang macet itu membuat aku lebih bebas ber-nostalgia dengan Om Hari.


“Devi, dimanakah kamu sekarang ? maafkan sahabatmu ini, maafkan aku, bukan maksudku …” teriak batinku tak kuasa melanjutkan, tiba tiba rasa kangen ingin bertemu dengannya begitu besar, namun mengingat kejadian barusan rasanya tak ada muka untuk bertemu dengannya.


Seperti kata Om Hari tadi, dia dulu sering memangkuku bahkan dalam keadaan telanjang, kini dia melakukan lagi walau dalam konteks yang berbeda. Begitu juga kalau dulu sering memandikanku, kini kembali dia memandikanku meski dengan suasana berbeda. Dulu dia menidurkanku kalau aku nginap dirumahnya, kini kembali dia meniduriku dengan tujuan berbeda pula.


Sungguh kusesali kalau Om Hari, ayah sahabat kecilku, kini termasuk dalam daftar puluhan atau ratusan laki laki yang telah meniduriku, menyetubuhiku atau satu dari sekian banyak laki laki yang telah menyiramkan spermanya di rahimku.


HP-ku berbunyi, kulihat nomer tak kukenal, segera kujawab, begitu kudengar suara Pak Yanto atau Om Hari segera kumatika dan selanjutnya tak kuangkat lagi meski berdering puluhan kali.


Kubelokkan mobilku ke Salon langgananku, ingin rasanya menenggelamkan diri di salon itu, melupakan apa yang barusan terjadi. Di salon aku bisa memanjakan diri, mulai dari creambath, mandi lulur dan lain lainnya.Pukul 21:30 aku keluar dari salon dengan perasaan yang sudah tenang, terlupakan sudah kejadian tadi sore meskipun tidak semuanya, hanya creambath yang kulakukan di salon itu karena sudah mau tutup.


Sesampai dirumah, GM yang memintaku menemui Om Hari tadi meneleponku, tentu saja aku tak cerita siapa sebenarnya Om Hari, GM tadi hanya menyampaikan kalau uangnya dia pegang.


Dari GM itu aku tahu kalau Om Hari sudah sebulan ini menginginkan aku, katanya dia melihatku saat masuk kamar di Hotel Shangri La bersama seorang Om Om chinese.


“katanya dia kenal kamu tapi ragu ragu, makanya minta aku bookingin kamu untuk meyakinkan, sekalian menghilangkan stress katanya” jelas si GM


Nasi sudah menjadi bubur dan sulit bagiku untuk mencegah hal itu terulang lagi karena kalau GM yang mengatur aku nggak bisa tahu tamunya sampai ketemu dikamar seperti kebanyakan, dan itu sudah terlambat.


Kusibukkan sisa malamku dengan teman teman nonton tv, teman temanku juga berprofesi tak beda denganku meski banyak yang berstatus pegawai kantoran atau hostess di night club.


Tengah asik nonton acara tv, si GM tadi meneleponku lagi, memintaku untuk menemani tamunya di Hotel Westin. Sebenarnya aku sudah malas menerima tamu lagi, kejadian tadi sore membuat mood-ku drop dan malam ini tak ada minat untuk bekerja, 4 tamu hari ini sudah lebih dari cukup.


“aku capek Om, ngantuk nih” tolakku halus, tapi GM itu terus mendesak


“kamu nggak usah capek capek, kamu nggak sendirian kok, sudah ada temannya di sana, dia ingin main bertiga, ringankan ? apalagi orangnya ini sudah cukup berumur, mungkin 50 tahunan, jadi tentu nggak tahan lama, nafsunya aja gede” bujuk si GM lagi membujukku.


Akhirnya aku tak tahan menghadapi bujukan si GM, kuterima tawarannya.


Tigapuluh menit kemudian aku sudah berada di lift menuju lantai 8 hotel yang telah kudatangi tadi siang untuk memenuhi pelampiasan nafsu seorang Korea. Sudah sering aku mengalami bolak balik ke hotel yang sama seperti ini.


Seorang laki laki membuka pintu menyambut kedatanganku, tubuhnya agak gemuk hanya tertutup handuk di pinggangnya.


“Malam, dengan Pak Bram ?” tanyaku meyakinkan


“kamu Lily ?… masuk…masuk, kami sudah menunggu” katanya


Laki laki itu tidaklah setua yang dikatakan si GM, mungkin belum berumur 50 tahun. Didalam kamar telah ada seorang gadis yang rebahan di ranjang tertutup selimut, hanya kepalanya yang tampak. Gadis itu tampak cantik tapi terlihat masih muda, terlalu muda malahan, mungkin belum berumur 20 tahun.


“Itu Dita, kalian sudah saling kenal ?” tanya laki laki, kami saling bersalaman memperkenalkan diri.


“kamu langsung aja gabung, kami udah duluan, satu babak malahan” kata Pak Bram


Aku ke kamar mandi melepas semua pakaianku, menyisakan sepasang pakaian dalam purple yang hanya menutupi puting dan segitiga kecil di selangkangan.


Ketika aku keluar dengan handuk tertutup di dadaku, kulihat Pak Bram dan Dita sudah berada didalam selimut, mereka berpelukan dan berciuman, terlihat sekali kalau Dita masih sangatlah muda, terlalu muda untuk orang seusia Pak Bram, ada rasa sayang melihat Dita semuda itu jatuh dalam pelukannya.


“lho kok malu malu gitu, masuk sini biar hangat” perintah Pak Bram.


Kulepas handuk penutup tubuhku lalu aku bergabung dengan mereka.


“bikinimu bagus, tapi lebih bagus lagi kalo bikini itu dilepas” sambut pak Bram seraya menarik tubuhku dalam pelukannya.


Semenit kemudian, tubuhku sudah telanjang dalam cumbuannya, dia melumat bibir sambil meremas remas buah dadaku, sementara Dita hanya diam melihat saja.


“Dita minta teman kalau harus menemaniku sampai besok pagi” Jelas Pak Bram


“habis Om Bram kuat mbak, bisa kewalahan kalau aku harus melayani sendirian” jawab Dita, aku hanya tersenyum. Berdua kami mencumbu Pak Bram bersamaan, aku di sebelah kanan sedangkan Dita di kiri. Pak Bram mulai mendesah saat putingnya kami kulum bersamaan sembari tangan tangan kami mempermainkan penisnya.


Ciuman kami berlanjut ke perut, paha, betis, ketika kusingkapkan selimut penutup tubuh kami, dengan jelas aku melihat buah dada Dita yang kecil ranum dihiasi puting yang masih sangat kemerahan. Aku semakin yakin kalau Dita masih terlalu muda untuk profesi ini, jangan jangan dia masih SMA alias ABG, terlihat dari wajahnya apalagi postur tubuhnya yang belum terlalu matang untuk seorang gadis.


Ciuman kami kembali ke selangkangan, aku mulai menjilati daerah sekitar penis sedangkan Dita menyodorkan buah dadanya yang kecil ranum itu ke mulut Pak Bram. Terdengar desah Dita saat aku mulai memasukkan penis itu ke mulut dan mengulumnya. Kocokanku semakin cepat seiring dengan desahan Dita yang semakin keras meski terdengar agak malu malu.


Aku dan Dita bertukar posisi, Pak Bram meremas remas buah dadaku, mengulum putingnya sambil merasakan kuluman Dita pada penis, aku melirik ke bawah, meski terlihat sangat muda namun sepertinya Dita sudah cukup berpengalaman, dengan asyiknya penis itu keluar masuk mulut yang mungil.


“kamu duluan” bisiknya memberi perintah, sebelum aku menuruti perintahnya kuatur tubuhku hingga posisi 69 dan berbagi penis dengan Dita, bergantian mengulumnya, berpindah dari satu mulut ke mulut lainnya, dua lidah menari nari bersamaan pada penis yang sama. Kurasakan jilatan Pak Bram di vaginaku, tidak istimewa memang tapi cukup membuatku terdesah nikmat dan basah.


Aku menyapukan penis Pak Bram di vaginaku yang sudah cukup basah, perlahan lahan kuturunkan tubuhku hingga penis itu melesak masuk dengan sempurna. Setelah terdiam beberapa detik, aku mulai menggoyangkan pinggulku mengocoknya, meskipun penis itu tidaklah terlalu besar alias rata rata, tetap saja yang namanya penis selalu memberikan kenikmatan apabila berada di vagina, berapapun besarnya atau bagaimanapun bentuknya, tetap saja nikmat.


Sambil merasakan kocokanku, Pak Bram menarik tubuh Dita dalam pelukannya, mereka berciuman, terlihat sekali perbedaan usia yang mencolok antara mereka. Buah dada Dita yang kecil hilang dalam remasan tangan Pak Bram, berkali kali tangan itu berpindah ke buah dadaku, sepertinya hendak membandingkan.


Lima menit aku mengocok Pak Bram sebelum dia minta aku turun dan digantikan Dita, tentu saja vagina Dita lebih sempit, kuyakin itu karena belum terlalu banyak penis yang menikmatinya. Tubuh mungil Dita sudah berada di atas Pak Bram dan mulai turun naik, buah dadanya tidaklah berguncang guncang seperti punyaku, karena memang terlalu kecil, terlihat aneh dan lucu bagiku. Ingin rasanya kuraih dan kuremas buah dada itu, sekedar penasaran saja.


Sambil mengocok Pak Bram, Dita mendesah hebat, merasakan kenikmatan, wajahnya yang putih cantik itu terlihat kemerahan, sebentar lagi pasti orgasme. Pak Bram memintaku naik ke atas kepalanya, dia ingin melakukan oral lagi, kuturuti permintaannya. Posisiku menghadap Dita, sambil mendesah merasakan jilatan Pak Bram, dengan leluasa mengamati wajah Dita yang mulai berkeringat dan semakin cantik saat mendesah nikmat.Dugaanku benar, Dita menggapai orgasmenya, kepalanya digoyang goyangkan dengan keras sambil memelukku, jeritan orgasmenya terdengar keras dekat telingaku, sedangkan aku sendiri juga mendesah karena jilatan Pak Bram, desahan kamipun bersahutan.


“ganti mbak, lemes aku” bisiknya, padahal baru sekali dia orgasme dan itupun tak lebih 5 menit. Sebelum aku mengganti posisi Dita, Pak Bram sudah meminta dia untuk telentang dan tetap memaksa meskipun Dita minta istirahat dulu atau kugantikan.


Terpaksa Dita menuruti nafsu birahi laki laki seangkatan ayahnya itu, kasihan juga sebenarya melihat Dita yang dipaksa melanjutkan melayani pelampiasan syahwat Pak Bram. Apalagi Pak Bram tidak langsung menyetubuhinya, melainkan memainkan lidahnya pada vagina Dita yang barusan orgasme, sepertinya Pak Bram hendak menghisap cairan orgasme yang ada di vagina Dita. Kulihat dengan jelas bagaimana bibir dan lidah Pak Bram mempermainkan vagina Dita, vagina yang dihiasi sedikit sekali bulu bulu kemaluan yang halus dan terlihat kemerahan bak daging segar didalamnya.


Tubuh mungil Dita benar benar tidak sebanding dengan tubuh Pak Bram yang tinggi dan agak gemuk itu, begitu Pak Bram menindihnya, terlihat Dita seperti hilang dalam dekapannya. Dita mendesah lebih keras saat Pak Bram mulai mengocok vaginanya dari atas, pinggul yang bergerak turun naik itu tampak semakin menekan tubuh Dita dan semakin tidak terlihat.Kuelus elus punggung Pak Bram sambil memainkan kantong bolanya, kocokan Pak bram semakin cepat dan Dita-pun semakin mendesah hebat.


“egh…egh..sssshhhhh…aduuuh…enak Om..trusss..trussss…Ampuuuuuuun aku…aku keluar lagiiiiiiiii” desah dita nggak karuan hingga tergapai orgasme kedua dalam waktu singkat.


Tangan dan kaki Dita melemas, tidak lagi memeluk Pak Bram, wajahnya merah seperti udang rebus, kasihan juga melihatnya. Aku bersiap dengan posisi merangkak disamping Dita.


“giliranku Pak” kataku menantang sambil menepuk pantatku, sebenarnya sekedar mengalihkan dari Dita.Pak Bram segera beralih ke vaginaku, Dita menatapku dengan sorot mata terima kasih. Kini giliran Pak Bram mengocok vaginaku, meskipun tidaklah sesempit punya Dita tapi aku yakin permainan otot otot vaginaku akan lebih menimbulkan kenikmatan dibandingkan vagina sempitnya.


Hanya beberapa menit mengocokku dogie, dia memintaku ganti posisi biasa. Badannya terasa berat saat mulai menindihku, ketika penisnya sudah melesak semua, Pak Bram mencium dan melumat bibirku, bersamaan dengan itu penisnya bergerak keluar masuk memompa vagina. Sesekali dia menekan keras pinggulku, seperti hendak memasukkan penisnya sedalam mungkin, desahan kami bersahutan mengiringi permainan, keringat Pak Bram mulai membasahi tubuh kami. Tak lama kemudian kurasakan denyutan pada vaginaku, dia tengah orgasme, dipeluknya tubuhku semakin erat menyatu, jerit orgasmenya terdengar keras dekat telinga. Tubuhnya langsung lemas menindihku seiring dengan berakhirnya denyutan denyutan itu, bebanku terasa semakin berat, apalagi napasnya yang menderu makin menekan di dada.


“bapak hebat deh bisa mengalahkan kami berdua” pujiku bohong sekedar memberi kebanggan pada tamu, itu biasa kulakukan.


“benar kan kataku, mana bisa tahan kalau harus melayani sendirian” timpal Dita


Pak Bram tersenyum bangga sambil berbaring diantara kami berdua.


Sisa malam kami isi dengan satu babak permainan lagi, seperti sebelumnya, dia terlalu hebat buat Dita tapi tidak bagiku. Babak kedua kembali Dita mendapat 2 kali orgasme sebelum Pak Bram mendapatkan orgasme dariku, sedangkan aku sama sekali gagal mendapatkan orgasme meski aku berusaha tapi Pak Bram terlalu cepat untukku.Dengan tubuh masih telanjang, kami tidur bersama, tentu saja Pak Bram berada di tengah bak raja semalam.


Keesokan paginya Dita bangun terlebih dahulu dengan panik.


“wah gawat, kesiangan” umpatnya sempat terdengar olehku, ketika kutoleh dia sudah tidak berada di ranjang, ternyata dia sudah di kamar mandi. Aku menyusulnya, betapa terkejutnya ketika kulihat Dita tengah mengeluarkan seragam sekolah dari tas ranselnya. Kubaca badgenya, ternyata sebuah SMA favorit di Surabaya, untuk masuk ke sekolah itu tentu haruslah anak pintar atau kaya, atau keduanya.


“mbak mau tolong aku nggak ? anterin aku ya…please, ntar terlambat kalo naik taxi, mana macet lagi jam segini” Dita memohon dengan manja. Jam sudah menunjukkan pukul 6 lewat, berarti kami tidur hanya 4 jam.


“kemana ?” tanyaku masih tidak percaya kalau Dita akan berangkat ke sekolah langsung dari Hotel tempat dia menemani laki laki seusia ayahnya.


Aku menyanggupi setelah dia menyebutkan tempat sekolahnya, nggak terlalu jauh sih. Untuk mempersingkat waktu kami mandi bareng. Saat mandi kuamati tubuh Dita lebih seksama, wajahnya cantik imut bak cover girl, kulit putih dengan tubuh tidak tinggi cenderung mungil, mungkin 155 cm dan buah dada belum tumbuh sempurna, benar benar terlalu kecil untuk masuk dunia seperti ini.


“tetek mbak bagus, montok, pasti padat” komentarnya sambil hendak menyentuhku ragu ragu, aku hanya mengangguk mengijinkannya untuk menyentuh. Akupun balas menyentuh dan meremasnya, bukan sekali ini aku meremas buah dada sesama jenis, tapi kali ini sungguh berbeda karena memang belum terbentuk sempurna, masih mungkin untuk tumbuh lagi.


“mbak jangan marah ya, waktu kulihat mbak main sama Om Bram, aku kasihan gitu, eman eman dan sayang melihat mbak yang cantik digituin sama orang setua Om Bram, nggak pantas dia untuk mbak Lily” katanya sambil menyiramkan air hangat ke tubuhnya. Tentu saja aku kaget mendengar pengakuannya, sedari tadi perasaan seperti itu selalu muncul dalam pikiranku tapi kini justru dia yang mengatakan hal yang sama untukku.


Ketika kami keluar masih dalam keadaan telanjang karena semua handuk berada di sofa, ternyata Pak Bram sudah bangun sedang melihat liputan 6 pagi dari SCTV, dia juga masih telanjang.


“wah kalian mandi bareng rupanya, tahu gitu aku ikutan mandi” komentarnya melihat tubuh telanjang kami masih basah.


“aku ganti baju dulu ya” kata Dita setalah mendapatkan handuk


Aku juga mau mengikuti Dita ganti baju tapi Pak Bram menarikku dalam pangkuannya.


“kita main sekali lagi, yang cepat cepat saja, dia kan berangkat ke sekolah tapi kamu kan bebas” katanya. Aku hendak menolak tapi dia sudah melumat bibir dan meremas buah dadaku.


“oke..oke..tapi cepat aja ya, soalnya aku mau ngantar Dita, kasihan kan kalo sampai terlambat” kataku setelah terlepas dari ciumannya sambil melorotkan tubuh diantara kakinya.Dua tiga menit kukulum penisnya hingga benar benar tegang, setelah itu aku berdiri dan membungkuk, tanganku tertumpu pada meja bersiap menerima kocokan Pak Bram dari belakang. Kubuka kakiku lebar ketika penis Pak Bram menyentuhku, sambil berdiri kami bercinta dengan gaya semi dogie.


“mbak, buruan, udah siang nih, terlambat deh” Dita mengagetkan kami yang tengah bersetubuh, kulihat dia mengenakan celana jean dan seragam atasnya tertutup jaket pink untuk menutupi seragam sekolahnya.


Pak Bram mempercepat kocokannya, begitu juga aku semakin cepat menggerakkan pinggul, kami berdua bercinta bak dikejar hantu. Untunglah tadi sudah kubuat Pak Bram setengah jalan menuju orgasme saat kukulum penisnya, tak lama kemudian diapun menyemprotkan spermanya di vaginaku.Segera kucabut penis itu setelah tak ada lagi denyutan, aku buru buru mencuci vaginaku dengan air, tanpa mengenakan pakaian dalam lagi kukenakan pakaian dan tidak ada waktu untuk make up.


Setelah masing masing menerima amplop dari Pak Bram, aku dan Dita keluar kamar meninggalkannya, dia melepas kami dengan kecupan di pipi seperti seroang ayah melepas kepergian anaknya ke sekolah.


Jalanan mulai macet, Dita tampak gelisah.


“aku yakin nggak terlambat kok, masih ada waktu, kita lewat jalan tikus saja” kataku saat di perjalanan mengantar Dita. Ditengah kemacetan itu Dita mengganti celana jeans-nya dengan rok seragam sekolah, dilipatnya celana jeans dan jacket lalu dimasukkan dalam tas rangselnya.Kini kulihat Dita sangat jauh berbeda dengan Dita semalam, Dita sekarang adalah seorang anak sekolah yang cantik dan ceria, dengan wajah yang cantik, imut dan innocent, tak jauh beda dengan ABG lainnya. Kalau saja aku tidak mengalami sendiri semalam, pasti sulit untuk percaya bahwa ada sisi kehidupan lain Dita yang tak berbeda denganku.


Disela sela kemacetan Dita bercerita kalau keperawanannya diambil pacarnya yang juga kakak kelas saat ulang tahunnya ke-17, dan mereka putus ketika pacarnya itu lulus SMA. Kini Dia kelas 3 dan sedang berpacaran dengan seorang anak kuliahan. Dua hari sekali mereka ketemu dan selalu melakukan hubungan sex. Atas bujukan temannya, Dita mau menerima bookingan laki laki.


“kamu kan udah nggak perawan, main sama satu orang atau dengan banyak orang itu nggak ada bedanya, tetap juga selingkuh dan tetap juga nggak perawan, mendingan sama laki laki yang sudah punya penghasilan, udah dapat enak dapat duit lagi” bujuk teman Dita. Mulanya dia memilih laki laki yang membookingnya, tapi setelah berjalan 3 bulan dia menyerahkan urusan “marketing” pada seorang GM atas “jasa” temannya itu. Semenjak itu dia memilih Kos di tempat dekat sekolahan dengan alasan capek kalau harus pulang balik ke rumahnya yang jauh terletak di daerah Tandes. Sebenarnya orang tua Dita cukup berada, materi tidak kurang untuk kehidupan yang wajar, bahkan Dita diberi motor ketika mulai kos.


Dengan hidup berpisah dengan orang tuanya, Dita bisa bebas menerima tamu kapan saja selama tidak berbenturan dengan jadwal sekolahan seperti ujian maupun extra kulikuler wajib lainnya. Kalau sebelumnya hanya menerima laki laki setelah pulang sekolah dan sore harus pulang ke rumah, kini dia bisa bebas bahkan sampai bermalam seperti barusan juga bukanlah masalah.


“setahuku ada 6 anak yang sama seperti aku ini disekolah, bisa jadi lebih” katanya


Setiap Hari Sabtu dan Minggu dia pulang ke rumah, hanya sesekali saja tidak pulang kalau ada ketiatan sekolah atau ada bookingan keluar kota, tentu saja alasannya kegiatan sekolah juga. Dita membatasi bookingan hari hari itu sebulan sekali supaya orang tuanya tidak curiga.Masih banyak yang ingin kutanyakan darinya, tapi mobilku sudah berada didepan sekolahnya 3 menit sebelum pukul 7, berarti belum terlambat.


“jangan salah mbak ya, meskipun begini ini, aku selalu masuk rangking 5 besar disekolah dan sebentar lagi masuk Universitas Indonesia tanpa tes, lima tahun lagi mbak akan mendengar nama dr.Dita Anggraeni, dan kalo saat itu sudah terjadi aku janji akan mencari mbak” katanya sambil turun dari mobilku berbaur dengan teman temannya, meninggalkan aku yang masih melongo dengan ucapannya barusan, tak ada beda lagi antara Dita yang berseragam sekolah dengan murid lainnya.Kuamati terus Dita hingga ke pintu gerbang sekolah, tapi sebelum masuk pintu gerbang sekolah dia berlari ke arahku.


“mbak jaga diri baik baik ya, dan….. aku nggak pake celana dalam lho” katanya lalu berlari meninggalkanku.


“dasar pelacur cilik” umpatku dalam hati melihat Dita sudah menghilang dibalik Pintu Gerbang.